This entry is part 20 of 20 in the series Ayat_pilihan
7 menit membaca

TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN-20
Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
15 Jumadil Awal 1448H / 25 Oktober 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

❋ ❋ ❋ ➡️ *QS Al Baqarah ayat 139*

﴿قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِى ٱللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُخْلِصُونَ﴾

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami amalan kami, bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri’.” (QS. Al-Baqarah: 139)

Terdapat beberapa pelajaran dalam ayat ini:

❖ **Pertama:** Allah perintahkan kita agar mendebat mereka dengan hujah yang tegas ini, “Jika Allah adalah Rabb seluruh alam, dan kalian mengakui bahwa Allah ﷻ Maha adil, tidak berbuat zalim, bahkan setiap orang yang beramal maka balasan amalnya akan kembali kepadanya. Sedangkan kita berbeda dalam hal bahwa kami meniatkan ibadah kami kepada-Nya dengan ikhlas, sedangkan kalian meniatkan ibadah kepada selain-Nya.

Maka bagaimana mungkin Dia Yang Maha adil menyamakan antara kami dan kalian, atau memberikan kemuliaan-Nya kepada orang yang berpaling dari-Nya dan tidak memberikan kepada orang yang ikhlas kepada-Nya?” Hal ini tidak dapat diterima oleh siapa pun yang memiliki akal sehat.

❖ **Kedua:** Orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ yang diceritakan dalam ayat ini, mereka mendebat tentang Allah, bukan tentang selain-Nya, meskipun mereka melakukan hal tersebut dalam perdebatan ini.

Ketika kaum muslimin ada selisih dengan ahli kitab maka perbedaan dilihat mana yang lebih dekat dengan Allah.

❗ Persamaan
1. Sama-sama hamba Allah
2. Sama-sama Allah berbuat adil kepada kita

Pembeda – Islam Ikhlas – yahudi itu syirik.

Logika sederhana – orang yang memohon langsung kepada Allah di Masjid tentu lebih Allah pilih dari pada orang-orang yang meminta pada kuburan.

Adapun firman Allah ﷻ,

﴿أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطَ كَانُوا۟ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَٰدَةً عِندَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿١٤٠﴾

*”Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Kamukah yang lebih tahu atau Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?’ Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”* (QS. Al-Baqarah: 140)

Ini adalah hujah yang lain. Penjelasannya adalah apabila kita telah sepakat tentang seorang imam atau para imam bahwa mereka dan orang yang mengikuti mereka berada di atas kebenaran, dan siapa yang menyelisihi mereka berada di atas kebatilan, maka penjelasan ini juga seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Apabila kita telah sepakat kaum muslimin bahwa Rasulullah ﷺ, para sahabatnya, para imam setelahnya dan orang yang mengikuti mereka berada di atas kebenaran, dan telah sepakat bahwa siapa yang menyelisihi mereka berarti di atas kebatilan, maka kita katakan, *”Dalam masalah yang kita perselisihkan ini, apakah Rasulullah dan para sahabatnya berada di atas pendapat kami atau di atas pendapat kalian?”*

Umar bin Khaththab radhiyallahu ketika ada masalah tidak pernah meminta kepada Nabi ﷺ yang kuburan nya sangat dekat.

Apakah kita sepakat bahwa Nabi ﷺ dan para shahabat lebih paham dan lebih sesuai syariat Islam?

Jika mereka mengakui bahwa berdoa kepada penghuni kubur, membangun bangunan di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai suatu yang diwakafkan dan diberikan pelayanan khusus merupakan bagian ajaran jahiliah.

Nabi ﷺ memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk meratakan bangunan di atas kuburan.

perkataan ‘Ali bin Abi Tholib,

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” HR Muslim.

Ajaran rafidhah – bangunan kuburan tinggi – dan kuburan khomeini itu sangat mewah.

Begitu juga setuju bahwa Allah mengutus Muhammad ﷺ dan beliau melarang semua itu, merobohkan bangunan yang dibangun oleh masyarakat jahiliah di atas kuburan, melarang berdoa kepada orang-orang saleh dan bergantung kepada mereka, serta memerintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan memurnikan istianah hanya kepada-Nya, dan telah sampai kepada kita bahwa Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾

*”Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.”* (QS. Al-Jinn: 18)

Rasulullah, para sahabatnya, para tabiin, para imam dan pengikut mereka pun berjalan di atas ayat ini, dan fenomena berbagai perbuatan kesyirikan serta berbagai kemungkaran tersebut tidak muncul kecuali setelah itu: maka bagaimana mungkin kalian mengakui bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya serta para imam setelah mereka berada di atas apa yang kami jalani, kemudian kalian malah mengingkari kami dengan pengingkaran yang lebih keras daripada pengingkaran kalian terhadap agama Yahudi dan Nasrani?

Padahal kalian mengakui bahwa ajaran yang kami jalankanlah sesuai dengan apa yang dipegang oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para imam setelahnya?

Atau pertanyaannya, bagaimana mungkin kalian membela kesyirikan dan berbagai kemungkaran yang menyertainya, sampai mengorbankan jiwa dan harta untuk membelanya, padahal kalian mengakui bahwa itu adalah agama jahiliah kaum musyrikin? Inilah perkara yang sangat mengherankan. Bagaimana bisa menjadikan Tuhan yang banyak menjadi satu Tuhan. Wahai musuh-musuh Allah, seandainya kalian berakal!

Hal ini tidak hanya pada masalah ini saja, bahkan pada setiap masalah yang kita perselisihkan dengan mereka, mereka mengakui bahwa apa yang kita pegang adalah sama dengan apa yang dipegang oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Perdebatan dalam hal ini merupakan perkara yang benar-benar terjadi dan menjadi pembeda antara yang hak dan batil.

Jika mereka mengakui bahwa apa yang kita pegang sama dengan ajaran yang Rasulullah ﷺ ajarkan, namun mereka mengklaim bahwa manusia telah mengada-adakan perkara yang memberikan konsekuensi bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebaikan; seperti ucapan mereka bahwa ini adalah bidah hasanah yang mengandung berbagai maslahat, dan meninggalkannya mengandung berbagai mafsadat, maka jawabannya dengan faedah ketiga. Yaitu dengan firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ﴾

*”Katakanlah, ‘Kamukah yang lebih tahu atau Allah?'”*

Dan Rasulullah ﷺ sudah berwasiat bahwa kaum muslimin akan banyak perselisihan dan solusi nya pegang sunnah.

Jika Rasulullah—sesuai dengan pengakuan kalian, telah berwasiat.

((فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ))

*”Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk lagi lurus. Peganglah erat-erat sunah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan.”

Jika demikian halnya, maka kalian telah mengakui bahwa beliau memerintahkan untuk berpegang pada sesuatu yang kalian malah perintahkan untuk meninggalkannya, dan kalian mengakui bahwa beliau melarang sesuatu yang kalian malah perintahkan manusia melakukannya. Sedangkan kalian mengakui bahwa beliau mewasiatkan hal ini jika terjadi perselisihan dalam umatnya, dan kalian mengakui bahwa beliau tidak berbicara dari hawa nafsu, melainkan menyampaikan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Allah ﷻ mengetahui apa yang akan terjadi pada makhluk-Nya hingga hari kiamat, namun Dia Yang Maha mengetahui memerintahkan untuk menaati rasul-Nya yang kalian akui sendiri kewajiban tersebut dan kalian persaksikan bahwa beliau pernah mewasiatkannya.

Apabila telah jelas bagimu bahwa yang pertama adalah perintah untuk ikhlas dan larangan dari berbuat syirik, dan yang kedua adalah perintah untuk berpegang teguh kepada sunah dan larangan berbuat bidah, maka jelaslah bahwa ini adalah penetapan dua kaidah yang menjadi poros agama, yaitu:

1) Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah,
2) Dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syariatkan.

Yang pertama berlandaskan sabda Nabi ﷺ,

((إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ))

*”Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.*

Ada dua.
Tauhidullah – Ikhlas
Tauhidu Rasulullah – Ittiba

Maka, siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia peroleh, atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya hanya sampai kepada apa yang ia hijrahkan.”

Yang kedua berlandaskan sabda Nabi ﷺ,

((مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ))

“Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.”

Jika orang yang diajak berdebat tidak mengakui sebagian dari hujah kami, bahkan mengingkari sebagian rincian yang telah disebutkan, maka ini termasuk faedah keempat.

Yaitu faedah dari firman,

﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?’ Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Jika ayat ini berlaku pada orang yang menyembunyikan kebenaran padahal ia mencintainya dan berharap kebenaran akan tampak, tetapi ia lebih mencintai dunia, maka bagaimana lagi dengan orang yang menyembunyikannya dalam keadaan membenci kebenaran tersebut?

Jika ia mengklaim bahwa ia tidak melakukan hal itu, akan tetapi ia mengikuti kebenaran tersebut dan menyembunyikan imannya seperti seorang beriman dari keluarga Firaun—padahal engkau mengetahui bahwa ia berdusta, maka ini terhitung sebagai faedah yang kelima.

Yaitu engkau katakan kepadanya,

﴿وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾

“Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Jika ia mengakui semua itu namun bersandar pada bahwa ia termasuk keturunan Rasulullah ﷺ, atau mereka mengaku sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah, atau sebab-sebab lain seperti menisbahkan diri kepada imam atau pengikutnya yang terpuji, maka ini terhitung sebagai faedah keenam, yaitu faedah dari firman Allah ﷻ,:

تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَـكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۚ وَلَا تُسْئَـلُوْنَ عَمَّا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 141)

Ajaran apapun yang tidak menyadarkan pada amal pasti salah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat amalnya maka tingginya nasab tidak bisa mempercepat amalnya” HR Muslim.

Semoga bermanfaat.

#tauhid #albaqarah #amal #iman
#tauhid #Ittiba #kuburan #verifikasi

##$$-aa-$$##

Ayat_pilihan

TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN-19
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?