This entry is part 10 of 45 in the series Kaidahfiqh

Diterbitkan pertama kali pada: 18-Sep-2022 @ 06:03

5 menit membaca

*SYARAH KITAB KAIDAH FIQH* 06
(Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di)
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
21 Shafar 1444H

🖍️ *AL QAWAID AL USHUL JAMI’AH*

➡️ *HUKUM ASAL IBADAH ADALAH HARAM, MAKA TIDAK ADA YANG DISYARIATKAN IBADAH-IBADAH KECUALI YANG DISYARIATKAN ALLAH DAN RASUL-NYA. HUKUM ASAL ADAT (sesuatu selain ibadah) DIBOLEHKAN, MAKA TIDAK ADA YANG DIHARAMKAN DARI ADAT ITU KECUALI YANG DIHARAMKAN OLEH ALAH DAN RASUL-NYA*

Sehingga kita perlu mencari dalil dari setiap ibadah.

Misalnya baca Al Fatihah setelah sholat fardhu, kita harus cari dalilnya…
Membaca Al Fatihah itu ibadah.

Sedangkan membuka HP setelah sholat itu bukan ibadah..

Kalau ada yang mengatakan membaca Al Fatihah lebih baik daripada membuka HP maka ini adalah logika yang terbalik, tidak tahu dengan kaidah ini.

⏏️ *Apakah dalil kaidah ini*❓

1️⃣ *Bagian besar 1. Hukum asal ibadah adalah diharamkan,kecuali ada dalil yang membolehkannya*

🔻Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ لَهُمْ شُرَكٰٓـؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِۢهِ اللّٰهُ ۗ 

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah?”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 21)

Kata-kata..

مَا لَمْ يَأْذَنْ بِۢهِ

Menunjukkan perlu nya izin pada setiap ibadah.

🔻Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَ مْرِ فَا تَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 18)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam harus mengikuti syariat Allah. Dan selain yang disyariatkan Allah itu adalah hawa nafsu.

Apakah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan?
Apakah Rasulullah ﷺ mengizinkannya?
Apakah Rasulullah ﷺ mempraktekkan nya?
Bagaimana para sahabat melakukan nya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim).

Amalan yang tidak disyariatkan itu disebut bid’ah..

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”

❓ Apakah ini berarti ibadah itu dipersulit?

Tidak, karena Allah menginginkan kemudahan pada hamba-hamba Nya.

🖍️Bila kaidah ini tidak ada maka semua jadi boleh dan agama itu menjadi berat sekali. Karena kemampuan untuk memunculkan ibadah akan selalu berkembang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah/2 : 185]

Allah ingin agama ini tetap mudah, ringan..

2️⃣ *Berbeda dengan masalah non ibadah, Allah bebaskan..*

Kalau kita tidak tahu dalil yang mengharamkan maka dibolehkan.

🔻Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 29)

Semua yang ada di bumi boleh digunakan, Allah membolehkan secara mutlak, karena semua diciptakan untuk makhluk Allah.

🖍️ Sehingga, pada asalnya semua yang ada di bumi adalah halal, suci sampai ada dalil yang mengharamkan.

➡️ Semua yang bukan ibadah dibolehkan.

🔻 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْاَ رْضَ وَضَعَهَا لِلْاَ نَا مِ 

“Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya) – (manusia),”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 10)

🔻 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

➡️ *Beberapa nukilan*

🔸Ibnu Taimiyyah : ibadah-ibadah dibangun diatas syariat dan mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan mengikuti hawa nafsu dan bid’ah.

🔸Imam Asy Syatibi (Maliki) : ini dalil, bahwa hukum asal ibadah itu dilarang dan diharamkan.

🔸Dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah seorang tabi’in, bahwa ia pernah melihat seorang yang shalat dua raka’at setelah terbitnya fajar lebih dari dua raka’at, ia melakukan banyak rukuk dan sujud.

Maka Sa’id melarangnya melakukan hal itu, lalu lelaki itu berkata kepada Sa’id:

يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلَاةَ ؟!

“Wahai Abu Muhammad, apakah Allah subhanahu wata’ala akan mengadzabku atas shalatku ini?!” 

*(ini sama dengan perkataan orang-orang jaman sekarang, bila diingatkan)*

Sa’id menjawab:

لَا، وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ

“Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu lantaran kamu menyelisihi sunnah.” (Ad-Darimi: 1/404, Al-Baihaqi: 2/466, Abdurrazaq: 4755

Beribadah lah sesuai dalil jangan hanya sesuai keinginan.

Banyak orang hanya dengan niat kebaikan melakukan ibadah namun menyelisihi sunnah.

➡️ *Contoh KAIDAH INI*

⏺️ *1. pada asalnya ibadah itu dilarang*

🔸 Puasa mutih.. makan sesuatu yang ada rasanya

Puasa ini belum pernah ada pada zaman nabi dan para sahabat.

🔸 Puasa bisu, puasa dengan tidak berbicara sama sekali.

Ibadah yang tidak ada tuntunan berarti tidak diizinkan oleh Allah.

✅ *Itulah perlunya tahu dalil dari ibadah yang akan kita lakukan.*

⏺️ *2. Pada asalnya selain ibadah itu boleh*

🔸Akad dalam jaman ini

Bila ada perbedaan terkait akad tertentu pada asalnya lebih kuat yang boleh.. Kecuali kita melihat ada dalil yang menguatkan untuk menyatakan haram.

🔸Ada makanan baru.
Kalau kita ragu, boleh atau tidak nya, pada asalnya adalah boleh…

❓*Tahya jawab*⏺️

1. Apakah syariat berhenti sampai Rasulullah ﷺ wafat atau sampai Khulafaur Rasyidin.

Jawab.

Mungkin terkait dengan hadits..

Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah/5: 3]

Berarti, syariat berhenti saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, namun ada penjelasan tertentu yang sudah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat masih hidup. Seperti dalam hadits di atas.

Ada KAIDAH-KAIDAH umum yang bisa menjelaskan sesuatu sampai akhir zaman.

Apa yang para Khulafaur Rasyidin kerjakan dan amalan, adalah sudah diakomodir oleh hadits di atas.

*Tambahan tolak ukur :*

1. Hati-hati dengan dalil umum
2. Bagaimana praktek para shahabat
3. Sesuatu yang tidak dilakukan pada jaman Nabi dan para sahabat.. Ada 3 kemungkinan.

🔸Mereka mampu untuk melakukan tapi tidak ada halangan namun mereka tidak melakukan.

Contoh:
gundul dengan niat ibadah.
Cium rukun yamani
Adzan dan iqomah sebelum sholat Ied

Haji dengan pesawat? Bukan bidah, karena Rasulullah ﷺ tidak mampu melakukannya. (saat itu belum ada).

Ada hadits – kalau Rasulullah ﷺ diberi 2 pilihan ,maka Rasulullah ﷺ akan pilih yang lebih mudah

🔸Mampu tapi ada halangan

Rasulullah tinggalkan Tarwih sebulan penuh.

Halangan – Rasulullah ﷺ kuatir diwajibkan.

Sehingga apa yang dilakukan Umar bin Khaththab untuk tarwih penuh adalah bukan bidah.

Walaupun Umar berkata ini adalah bidah yang baik (ini bidah secara bahasa).

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Kaidahfiqh

SYARAH KITAB KAIDAH FIQH-05 (Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di) SYARAH KITAB KAIDAH FIQH 07
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?