KAIDAH SUCIKAN JIWA# AMBIL CONTOH YANG BAIK
- KAIDAH SUCIKAN JIWA #MENGINGAT KEMATIAN
- KAIDAH SUCIKAN JIWA- QALBUN SALIM
- KAIDAH SUCIKAN JIWA# AMBIL CONTOH YANG BAIK
- KAIDAH SUCIKAN JIWA # MUHASABAH
- KAIDAH SUCIKAN JIWA # RAMADHAN
- Tazkiyatun-nafs#01
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 14:38
3 menit membaca10 Kaidah Perbaikan Diri – 4. *Mengambil Contoh Yang Baik*
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
21 Jumadil Awal 1440 H
Jiwa manusia itu cenderung mengambil contoh dari pada membuat yang baru.
Nabi Ibrahim saat membangun Kabah bersama Nabi Ismail, berdoa kepada Allah..
رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 2:129
Tugas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada 3 hal..
1. Penyampaian informasi dengan membacakan ayat-ayat Allah
2. Memahamkan ayat-ayat tersebut
3. Mensucikan jiwa dari syirik dan amalan yang buruk.
Perlu dibiasakan dan jadi kebiasaan (budaya yang baik)
Dan diperlukan contoh yang baik, untuk menjadi hamba yang bertakwa sempurna.
Allah berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata,
هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ
“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
HR Bukhari.
Al-Hasan rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.”
Sehingga Allah ta’ala turunkan ayat:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imran: 31).
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
Ini adalah keadaan dengan syarat (pengakuan cinta kepada Allah – perlu pembuktian-)
فَاتَّبِعُونِي
Maka ikuti aku (Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam)
Dalam ayat tersebut *pengakuan cinta kepada Allah perlu pembuktian*, yaitu ikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Dan sebagai balasannya Allah akan mencintai kita serta mengampuni semua dosa kita.
Orang yang hijrah atau punya lingkungan yang bagus akan mendorong nya untuk mencari Ilmu yang membantunya meningkatkan ketakwaan dan pensucian jiwa.
Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,
“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri.
Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka.
Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)
Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Seorang Imam Besar Masjidil Haram, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala bekata,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-mizan al-akbar (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’, 1: 79)
Para sahabat Radhiallahu anhum sukses menyebarkan Islam ke seluruh dunia dalam jangka waktu yang sangat singkat karena mereka meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Imam *Nawawi*, menulis kitab *Riyadhus Shalihin* untuk dijadikan referensi bagi kaum muslimin untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah seusai contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagai sarana untuk pensucian jiwa.
$$##-aa-##$$


