BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#14 Syubhat dari Hadits Nabi-2
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#1
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#2
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#3
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#4
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#5
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#14 Syubhat dari Hadits Nabi-2
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#6 SYUBHAT-2: Tidak ada kebenaran Absolut
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#7: Syubhat 3 : TUJUAN SEMUA AGAMA MENYERU KEPADA KEADILAN
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#8 -Syubhat 4 : AJARAN SEMUA AGAMA SAMA
- BANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#9
Diterbitkan pertama kali pada: 06-Mar-2022 @ 21:24
4 menit membacaBANTAHAN TERHADAP KAUM LIBERAL#14 Syubhat dari Hadits Nabi-2
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
2 Syaban 1443
➡️ Metode tafsir hadits sesuai urutan berikut (Ahlussunnah Wal jamaah).
✔️1. Tafsir dengan hadits yang lain. Seluruh jalan hadits dikumpulkan. Ada dua metode
🔸1.1 satu hadits dikumpulkan jalan2 nya sehingga saling menafsirkan.
Contoh Ibnu Hajar dalam Fathul Baary.
🔸1.2 satu hadits ditafsirkan dengan hadits yang lain
✔️2. Tafsir hadits dengan perkataan sahabat, terutama sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut.
3. Perkataan para Tabiin. Selanjutnya perkataan para pengikut Tabiin, dan selanjutnya perkataan para ulama.
4. Konsekuensi bahasa Arab.
❗Adapun para ahlu bidah langsung ke no 4.❗
Kaum pluralis menafsirkan hadits seenaknya saja, tidak ikuti kaidah diatas.
➡️ Contoh perkataan mereka.. Pada buku fikih lintas agama..
❗mereka berkata, “Di kalangan aktivis gerakan Islam berkembang suatu trend untuk menjadikan masa tertentu yang diidentifikasi sebagai al-salaf al-shalih sebagai the golden ages Islam, sehingga diposisikan sebagai standar kebenaran bagi setiap pemikiran dan aksi umat Islam generasi berikutnya. Apa pun pemikiran atau praktek keberagamaan yang berkembang saat itu dianggap
sebagai yang paling benar dengan alasan paling dekat dengan periode Nabi. Akibatnya, setiap perkembangan yang muncul seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap sebagai “ancaman” terhadap Islam”.
❗mereka berkata, “Tentu saja, konteks di masa lalu dengan masa kini dan masa yang akan datang pasti berbeda. Masyarakat modern mempunyai logika dan sikap yang berbeda dengan apa yang dihadapi masyarakat Arab di zaman dulu”.
Intinya mereka mengejek kenapa ikuti pemahaman salaf.⛔
➡️ SYUBHAT 1 : TUHAN YANG BERBEDA-BEDA HAKIKATNYA SAMA
Sehingga Tuhan itu sesuai keyakinan/perasaan masing-masing penganut agama.
🔸Abdul Munir Mulkan berkata, “Apa yang diperdebatkan tentang Tuhan oleh semua pemeluk agama tidak lain adalah Tuhan yang satu dan tunggal itu sendiri dengan beragam sebutannya”. (buku Satu Tuhan seribu tafsir)
🔸Media Zainul Bahri berkata, “Ibnu Arobi berkata,’Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya. Itulah sebabnya Tuhan berkata,” Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang-Ku.” Tuhan disangka bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya”. Tuhan yang sejati tak diketahui dan tak dapat diketahui.
Menarik untuk memperhatikan lanjutan firman Tuhan dalam hadits qudsi di atas, yakni :’Maka hendaklah ia (sang hamba) bersangka baik tentang Aku.’ Tuhan menyuruh manusia untuk bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan…”
➡️ Dalil : Tuhan ibarat air, keyakinan ibarat bejana. (air menyesuaikan bejana).
Mereka pakai dalil hadits yang shahih.
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي
Aku sesuai prasangka hamba Ku.
🔻 BANTAHAN
✔️1. Hadits ini disebutkan dalam riwayat yang lain.
فليظ بى خىرا
hendaknya sang hamba berbaik sangka kepadaku.
Ini menunjukkan isyarat ada hamba yang berburuk sangka (salah) kepada Allah. Jadi tidak semua prasangka itu benar, ada yang salah.
Di dukung oleh riwayat lain..
Yang artinya “Aku sesuai prasangka hamba Ku tentang Ku. Jika dia berprasangka baik maka dia akan mendapatkannya, dan jika dia berprasangka buruk maka dia pun akan mendapatkannya.
Jadi jelaslah salah perkataan Ibnu arobi.
✔️2. Hadits ini” Kalau prasangka baik maka baginya kebaikan, kalau prasangka buruk maka baginya keburukan”.
🔸Lafazh ini yang sedang Allah bicarakan adalah bukan Dzat Allah tetapi terkait prasangka sikap Allah terhadap hamba.
➡️ SYUBHAT 2 : mereka berdalil dengan
اذهبو فانتم الطاقاء
Pergilah kalian wahai musyrikin Mekah Sesunguhnya kalian bebas..
Yaitu saat Rasulullah ﷺ menaklukkan Mekah.
🖍️Dijadikan dalil oleh liberal, berarti Rasulullah ﷺ mengakui eksistensi agama penyembahan berhala.
Ini disebutkan oleh AM GHAZALI..
➡️ BANTAHAN
🔸1. Hadits dengan Lafazh tersebut dhaif secara sanad. Tidak bisa dijadikan dalil apalagi dalam masalah aqidah.
🔸2. Memaafkan tidak melazimkan pembenaran.
🔸3. Mekah ditaklukkan dengan paksa (Fathu Makkah). Bukti bahwa Nabi tidak akui eksistensi mereka.
🔸4. Ketika Fathu Makkah, Nabi berkata..
Siapa yang masuk rumah abu Sufyan selamat
Siapa yang masuk rumah selamat..
🔸5. Setelah itu Nabi hancurkan 360 patung di sekeliling Kabah.
Bahkan Nabi ﷺ mengutus para sahabat untuk hancurkan berhala di tempat lain.
🔸6. Nabi ﷺ menyalahkan Hatib bin Abi Baltaah yang mengirim surat dari Madinah ke saudara di Mekah.
➡️ SYUBHAT KE 3 : BERDALIL DENGAN PIAGAM KOTA MADINAH
Piagam Madinah adalah piagam yang dibuat oleh Nabi antara kaum muslimin dan kaum Yahudi.
Menurut liberal, Nabi ﷺ membenarkan keyakinan dan perbuatan Yahudi.
Piagam Madinah adalah kesepakatan kaum muslimin dan Yahudi di kota Madinah.
✔️Datang dalam riwayat yang shahih.
✔️Sebagian poin datang dalam riwayat yang lemah. Yang dijadikan dalil oleh liberal.⛔
Ada poin yang mereka sembunyikan..
✔️Kalian kalau berselisih apapun bahwa kalau ada perselisihan harus kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.. (artinya tidak ada pengakuan kepada Yahudi).
✔️Dalam piagam itu dalam riwayat Ali, bahwa seorang muslim tidak boleh dibunuh bila muslim membunuh kafir. (karena beda statusnya).
✔️Kemudian ada perkataan dalam piagam Madinah yang semakna dengan firman Allah lakum dinukum waliyadin (bagimu agama mu…) ini sejatinya ancaman bukan pembenaran.
Ayat seperti ini banyak contohnya..
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اَ تُحَآ جُّوْنَـنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّکُمْ ۚ وَلَنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 139)
Kemudian firman Allah..
وَاِ ذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَا لُوْا لَنَاۤ اَعْمَا لُنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُـكُمْ ۖ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.””
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 55)
Ini bukan pembenaran.. Kemudian ayat yang lain..
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَـكُمْ عَمَلُكُمْ ۚ اَنْـتُمْ بَرِيْۤـئُوْنَ مِمَّاۤ اَعْمَلُ وَاَ نَاۡ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
“Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad) maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.””
(QS. Yunus 10: Ayat 41)
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-$$##

