TematikUstadz Muhammad Anwar, Lc MPd

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-13 )

This entry is part 13 of 21 in the series Hilyah_thalibil_ilmi

Diterbitkan pertama kali pada: 06-Feb-2022 @ 07:22

3 menit membaca

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-13 )
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
4 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kita lanjutkan..

➡️ *29. MENGULANG-ULANG HAFALAN*

Bagi Penuntut Ilmu..

1. Menghafal
2. Mengamalkan
3. Mengulang-ulang hafalan.

Syaikh berkata, “ulang-ulangilah ilmu itu, karena ilmu itu akan hilang, siapapun orangnya”.

🔻Sebagaimana hadits, Rasulullah ﷺ  bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Sesungguhnya orang yang menghafalkan Al Qur’an adalah bagaikan unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila dibiarkan tanpa diikat, maka dia akan pergi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Padahal Al Qur’an adalah ilmu yang mudah diingat sebagaimana kata Allah ﷻ.

🔻Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17).

Seorang ulama ahli fiqih, Imam Ali bin Muhammad An Naisaburi, Mengulang-ulang pelajaran yang beliau dapat dari gurunya sampai 140 kali.
Beliau digelari hafidz, artinya sudah hafal hadits lebih dari 100 ribu sanad dan matannya..

(beda dengan gelar hafidz sekarang)

Sulaiman bin Ibrahim, Mengulang-ulang hadits shahih Bukhari sebanyak 280x, isinya 7 ribu hadits.

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, menukil dari Imam Abdil Barr.. “Orang yang tidak Mengulang-ulang ilmu, pasti akan hilang darinya, siapa pun orangnya. Jika Al Qur’an yang mudah dihafalkan tidak diulang, bagaimana dengan ilmu-ilmu yang lain?”

Sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah yang kuat dasarnya”.

➡️ *30. MEMPERDALAM ILMU PENGETAHUAN*

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan orang yang tafakuh adalah orang yang mendalami ilmu itu sehingga paham suatu masalah dan menemukan rahasia ilmu itu dan mampu mengembangkan permasalahan tersebut.

Orang yang tafakuh, dikenal dengan ahli fiqih.

Sehingga bisa menghukumi hal-hal baru yang didasari dari rahasia masalah yang diperoleh para orang-orang fakih tersebut.

Contoh hukum Sabu-Sabu (dari khamr) , zakat fitrah dengan beras (makanan pokok) dst..

Ini berbeda dengan kaidah menghukumi amalan bid’ah.

Sebuah hadits,
🔻Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

“Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

Syaikh menjelaskan orang yang bertafakuh orang yang berupaya untuk simpul kan hukum dan berusaha untuk meluruskan kembali pemahaman yang salah.

Sebuah kisah Imam Syafi’i yang ziarah ke rumah muridnya, Imam Ahmad.

Saat Imam Ahmad hidangkan 1 piring makan, Imam Syafi’i langsung habiskan makan itu, dan saat malam tidak terlihat Imam Syafi’i bangun malam.

Kemudian mereka (keluarga Imam Ahmad) bertanya kepada Imam Syafi’i..

1. Imam Syafi’i meyakini itulah makanan yang paling halal (karena dari Imam Ahmad), sehingga semangat untuk habiskan.

2. Beliau tidak terlihat bangun malam (tidak terdengar suara bangun dan tidak cari air), karena sebenarnya Imam Syafi’i tidak tidur dan mendalami hadits sederhana (hadits tentang Nughair – burung kecil adik Anas bin Malik), dan menghasilkan ratusan faidah dari hadits tersebut.

Tafakuh tentu tidak mudah dan tidak sembarangan orang bisa melakukan, karena banyak ilmu alat yang harus dikuasai.

✔️Bagi kita cukup dengan tafakuh sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan oleh para ulama.

➡️ *31. SANDARKAN DIRI KEPADA ALLAH, DALAM MENUNTUT ILMU*

Sertakan Allah dalam menuntut ilmu, karena ada ilmu-ilmu yang berat dan Allah lah yang membuat kita mampu untuk memahami.

Syaikh menjelaskan, “Jangan kuatir kalau kita belum diberi kemudahan oleh Allah, karena dulu ada ulama-ulama besar yang awalnya berat dalam memahami ilmu”.

Imam Ar Rohaway, sempat kesulitan dalam ilmu qad, cara penulisan.

Abu Muslim An Nahwi, sempat kesulitan dalam ilmu Shorof..

Seorang ulama besar bidang Nahwu Kisai, beliau awalnya juga kesulitan belajar Nahwu. Saat hampir putus asa, beliau melihat gigihnya semut yang membawa beban besar yang berkali-kali gagal namun akhirnya berhasil. Dan akhirnya Imam Kisai, berhasil menjadi ulama besar Nahwu.

Itulah sebabnya kita harus sertakan Allah, jangan terlalu pede dengan kemampuan kita. ✔️

Syaikhul Islam Taimiyyah sering berdoa kepada Allah bila mengalami kesulitan memahami suatu ayat.

##$$-aa-$$##

Hilyah_thalibil_ilmi

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-12 ) HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-14 )
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?