This entry is part 19 of 25 in the series Tafsir Al A'raf

Diterbitkan pertama kali pada: 29-Agu-2021 @ 21:04

5 menit membaca

📖 TAFSIR QS AL A’RAF#19: AYAT 152-156
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 21 Muharam 1443H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)

KISAH NABI MUSA #6

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَا لُهُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَذِلَّـةٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ الْمُفْتَرِيْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahannya), kelak akan ditimpa dengan kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebohongan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 152)

Ayat ini menjelaskan dua kelompok penyembah sapi (patung dari emas) tersebut. Yang tidak menyembah bersama Nabi Harun. Sebagian yang lainnya menyembah berhala, karena mereka terlalu lama bergaul dengan orang-orang Mesir, yang sudah mereka lihat dari jaman dulu. Maka Samiri tidak buat hal baru tapi membuat yang sudah dikenal mereka (patung sapi).

Maka dari itu untuk bergaul dengan lingkungan harus punya ilmu (agama yang cukup) supaya tidak terpengaruh hal yang buruk.

Lingkungan sangat mempengaruhi, terutama bagi yang tertindas.

Melihat hal tersebut maka Nabi Musa marah.. Dan meminta mereka bertaubat dengan cara membunuh diri mereka. Yang tidak menyembah berhala membunuh orang yang menyembah berhala.

Karena banyak yang meninggal maka Allah menghentikan cara taubat seperti itu.

Kalau mereka tidak taubat maka mereka akan ditimpa adzab Allah.

Samiri termasuk orang yang tidak taubat.
Diantara hukuman Samiri adalah disuruh pergi dan tidak jumpa siapapun.

Diantara kehinaan yang Allah timpakan adalah dihancurkan nya Sapi tersebut.
Dan Samiri diasingkan.

Kedustaan dalam ayat ini adalah kesyirikan, karena syirik adalah dusta (Al Alusy).

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ عَمِلُوا السَّيِّاٰتِ ثُمَّ تَا بُوْا مِنْۢ بَعْدِهَا وَاٰ مَنُوْۤا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan orang-orang yang telah mengerjakan dosa-dosa / kejahatan, kemudian bertobat dan beriman, niscaya setelah itu Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 153)

Ayat ini sangat memberi harapan bagi pelaku maksiat. Mereka melihat banyaknya mukjizat Nabi Musa. Namun mereka tetap saja durhaka dengan menyembah sapi. Syirik yang kebangetan. Padahal ditengah mereka ada Musa dan Harun.. Walaupun begitu Allah menerima taubat mereka.

Allah menggunakan beberapa taukid (penguatan), saat mengatakan bahwa Allah akan menerima taubat mereka.

Abu Nuwas, dalam syair nya mengatakan sifat menerima taubat Allah lebih besar daripada banyaknya kemaksiatan yang mereka lakukan.

Imam Syafi’i mengatakan ketika membandingkan antara dosa ku dan ampunan Allah, maka Ampunan Allah lebih besar daripada dosa ku.

Kalau Bani Israil yang dosa nya sangat besar saja Allah terima taubat nya bagaimana lagi dengan yang lain…

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـمَّا سَكَتَ عَنْ مُّوْسَى الْغَضَبُ اَخَذَ الْاَ لْوَا حَ ۖ وَفِيْ نُسْخَتِهَا هُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلَّذِيْنَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُوْنَ

“Dan setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 154)

Ayat ini menjelaskan bahwa Musa sangat marah namun beliau berusaha menahan amarah nya. Nabi Musa marah karena Allah, bukan karena dirinya.

Begitu juga Nabi Muhammad ﷺ akan marah bila syariat Allah dilanggar.

Kita seharusnya begitu, bukan marah karena diri kita.

اَخَذَ الْاَ لْوَا حَ

Dhahir nya alwah tersebut tidak pecah.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا خْتَا رَ مُوْسٰى قَوْمَهٗ سَبْعِيْنَ رَجُلًا لِّمِيْقَا تِنَا ۚ فَلَمَّاۤ اَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَا لَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ اَهْلَـكْتَهُمْ مِّنْ قَبْلُ وَاِ يَّايَ ۗ اَ تُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَآءُ مِنَّا ۚ اِنْ هِيَ اِلَّا فِتْنَـتُكَ ۗ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَآءُ وَتَهْدِيْ مَنْ تَشَآءُ ۗ اَنْتَ وَلِيُّنَا فَا غْفِرْ لَـنَا وَا رْحَمْنَا وَاَ نْتَ خَيْرُ الْغَا فِرِيْنَ

“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 155)

Ada mengatakan Nabi Musa memilih 70 orang dari 12 suku tersebut.
Ini adalah pertemuan dengan Allah yang kedua (yang pertama sendirian). Ini pendapat yang lebih kuat dari khilaf ulama.
Pertemuan di bukit Tursina.

Mereka mengatakan kepada Musa bahwa mereka tidak beriman bila mereka tidak melihat Allah. Beda dengan Nabi Musa yang pertama karena rindu ketemu Allah.

Oleh karena itu itu, Allah beri hukuman dengan digoyang dengan halilintar dan mereka mati (padahal mereka orang sholeh pilihan).

Nabi Musa adalah Nabi yang penyabar.
Sampai kesabarannya dijadikan contoh,seperti dalam hadits berikut.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika hari peperangan Hunain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihkan, mengutamakan beberapa orang dalam pemberian pembagian ghanimah (harta rampasan) lalu memberikan kepada Al-Aqra’ bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada ‘Uyainah bin Hishn seperti itu pula (seratus ekor unta), juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan dalam cara pembagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Demi Allah, pembagian secara ini, sama sekali tidak ada keadilannya dan agaknya tidak dikehendaki untuk mencari keridhaan Allah”, Saya lalu berkata: “Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam” Saya pun mendatanginya terus memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam sumba (merah -merah padam karena marah) lalu bersabda: “Siapakah yang dapat dinamakan adil, jikalau Allah dan RasulNya dianggap tidak adil juga.” Selanjutnya beliau bersabda: “Allah merahmati Nabi Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih sangat dari ini, tetapi ia tetap sabar”. Saya sendiri berkata: “Ah, semestinya saya tidak memberitahukan dan saya tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraanpun setelah peristiwa itu kepada beliau lagi”. (Muttafaq ‘alaih).

Nabi Musa adalah sangat sabar dan sangat sayang kepada kaumnya, padahal sangat kuat.

Walaupun begitu Nabi Musa berusaha meminta udzur kepada kaumnya yang durhaka kepada Allah.

Udzur tersebut Allah terima dan 70 orang tersebut Allah ampuni dan dihidupkan kembali.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ 
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)

Kebaikan dunia =juga meminta taufik.
Kebaikan akhirat adalah surga.

Allah adzab sesuai dengan sifat fi’liyah Allah.

Adzab dengan fi’il mudhori
Dan rahmat Allah dengan fi’il madhi, karena ini konsekuensi Allah yang Maha Mulia.
Juga supaya Nabi Musa dibesarkan hati nya dan happy ending.

Ayat ini tidak menyebutkan sholat, karena sholat termasuk dalam takwa, dan bani Israil susah dalam membayar zakat.

QA.
1. Apakah Samiri adalah Dajjal?
Jawab.
Ini muncul sejak muncul nya tulisan dari Muhammad Isa (Musa) Daud.
Bukan karena Samiri dihukum tidak ketemu orang, sedangkan Dajjal ketemu orang. Juga setiap Nabi peringatkan akan Dajjal dan Musa tidak memperingatkan bahwa Samiri adalah Dajjal.

#semoga bermanfaat.

$$##-aa-##$$

Tafsir Al A'raf

TAFSIR QS AL A’RAF#18: AYAT 144-151 TAFSIR QS AL A’RAF#20: AYAT 157-159
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?