KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #1
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #2
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN#3
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-4
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-5
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-6
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #1
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-7
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-8
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #9
- KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN #10
Diterbitkan pertama kali pada: 18-Sep-2020 @ 17:10
6 menit membacaKAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #1
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
29 Muharam 1442H
Buku ini berisi 50 kaidah kehidupan dalam Al Qur’an.
Barangsiapa yang Semakin dekat dengan Al Qur’an maka semakin bahagia dan semakin lurus jalannya, dan siapa yang semakin jauh dari kebahagiaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ
Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
Surat Ta-Ha (20) Ayat 2
إِنَّ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus
Surat Al-Isra (17) Ayat 9
Sehingga bila kita mempelajari Al Qur’an maka kita akan menjadi yang terbaik..
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling mempraktekkan Al Qur’an, ketika Ibunda Aisyah radhiyallahu anha ditanya tentang akhlak Nabi maka Aisyah menjawab akhlak beliau adalah Al Qur’an.
1. Kaidah 1
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Dan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baik (QS Al Baqarah ayat 83).
Dan sama dengan firman Allah..
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Katakanlah kepada hamba-Ku untuk berkata yang terbaik.
Allah melanjutkan
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Sesungguhnya syetan mengadu domba diantara mereka, sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Qs Al-Isra, ayat 53
Muamalah kita dengan orang lain siapapun kebanyakan lewat perkataan.
Manusia di sini umum, mencakup
A. Kaum muslimin, orang-orang beriman
B. Orang-orang kafir
C. Pelaku maksiat
D. Pelaku bid’ah
Contoh yang dengan orang-orang kafir :
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
Janganlah berdebat dengan ahlul kitab kecuali dengan cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang dzalim diantara mereka.
Contoh kepada ahli maksiat atau ahlu bidah.
وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًۭا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمًۭا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati (tawadhu) dan apabila orang-orang jahil/maksiat /pelaku bid’ah menyapa mereka, mereka mengucapkan salam (kata-kata (yang mengandung) keselamatan.)
Surat Al-Furqan (25) Ayat 63
Contoh kepada Kaum muslimin, orang-orang beriman.
Misalnya kepada orangtua
فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ atau cih dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Terhadap peminta-minta
وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu membentaknya.
Surat Ad-Dhuha (93) Ayat 10
Kita tolak atau tidak memberi dengan baik.
Husna = yang baik..
Dalam qiroah yang lain
حَسَنًا
Berkata yang baik :
1. Cara berucap / tutur kata yang baik. (Suara yang paling buruk adalah suara keledai)
2. Isi ucapan tersebut
2. Kaidah 2
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia lebih baik bagi kalian; dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat/lebih buruk bagi kalian. Allah Yang mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. Qs Al Baqarah ayat 216
Ini berkaitan dengan kewajiban jihad.
Ayat-ayat semisal…
1. Firman Allah.
{فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلُ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا}
kemudian bila kalian membenci istri mu, (maka bersabarlah) karena barangkali kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (An-Nisa: 19)
Ini berkaitan dengan kebencian kepada perangai atau paras istri.
Dengan begitu ada pahala (mungkin) dari kesabaran, dakwah istri dll.
2. Firman Allah
لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّۭا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۚ
Mereka orang-orang munafik yang menyebarkan kedustaan janganlah kalian menganggapnya buruk bahkan baik bagi kalian. Surat An-Nur (24) Ayat 11
Ini berkaitan dengan fitnah kepada Aisyah radhiyallahu anha.
Faidah nya adalah kalau kita bertakwa dalam menghadapi musibah apa yang kita benci yakinlah bahwa Allah memberikan yang terbaik.
Contoh praktek kaidah ini dalam Al Qur’an.
A. Kisah Ibu Nabi Musa membuang Musa ke sungai nil. Yang akhirnya Musa disusui oleh Ibunya sendiri.
B. Nabi Musa harus kabur meninggalkan Mesir (QS Al Qashash). Akhirnya ketemu orang sholeh, bekerja, menikah
C. Kisah Nabi Yusuf yang sangat panjang : hasad dari kakak2 nya, dibuang ke sumur, dijual jadi budak, dituduh zina, dipenjara.. Akhirnya jadi pembesar Mesir.
D. Kisah perang Badr (QS Al Anfal ayat 5-6).
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ
Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu (Muhamad) pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya (tidak mau perang),
يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang-lawan Abu Sufyan), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian (lawan Abu Jahal), sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).
E. Kisah Nabi Khodir dengan Ghulam.
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَـٰمًۭا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًۭا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍۢ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًۭٔا نُّكْرًۭا
Maka berjalanlah keduanya (Nabi Musa dan Nabi Khodir) ; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khodhr membunuhnya.
Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.
Surat Al-Kahfi (18) Ayat 74
Nabi Khodir menjelaskan bahwa orangtua kedua anak ini orang beriman, dikuatirkan cinta berlebihan kepada anak tersebut membuat mereka jadi tidak beriman.
Dan Allah mengganti kedua anak tersebut dengan yang lebih baik.
Contoh dalam hadits banyak:
A. Seperti kisah Ummu Salamah ketika wafat Abu Salamah.
Doa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ajarkan :
اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Allahumma’jurni fii mushibati, wa akhlif lii khoiron minha
Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan gantilah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya
Dan akhirnya Ummu Salamah menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
B. Pernikahan Fatimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid.
Fatimah (mulia, Quraisy, cantik) dilamar orang Quraisy (Muawiyah dan Abu Jahm) tapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh menikah dengan Abu Usamah (hitam, bekas budak, jelek) akhirnya pernikahan mereka mendapat banyak keutamaan.
C. Taatnya Zainab binti Jahsy untuk menikah dengan Zaid bin Haritsah.
Zaid bin Haritsah bekas budak.. Terjadi ketidakcocokan dan cerai, akhirnya menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Zainab bahkan berbangga karena dinikahkan langsung oleh Allah dari langit.
Husnudzon kepada Allah, harus ikut prosedur Allah… Pasti endingnya bagus..
{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
3. Kaidah 3
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.
Qs Al Baqarah ayat 237.
Kebiasaan di Saudi, akad dan hidup kumpul tidak sama waktunya..
تَنْسَوُا
Ada 2 makna :
1. Lupa
2. Meninggalkan, inilah maksud dalam ayat tersebut.
Metode muamalah ada 2:
1. Dengan adil (wajib maksudnya dia baik kita baik, dia buruk kita buruk)
2. Dengan keutamaan (sunnah), kita lakukan lebih dari keadilan.
A. Berbuat baik kepada orang yang tidak punya jasa kepada kita
Contoh kisah Nabi Ibrahim alaihissalam.
Tamu yang pertama kali datang maka Nabi Ibrahim hidangkan sapi kepada tamu yang tak dikenal sebelumnya.
B. Membalas kebaikan dengan lebih banyak dari jasa orang tersebut kepada kita.
Orang yang pernah berbuat baik kepada kita, maka kita beri yang lebih baik..
Allah berfirman jangan tinggalkan muamalah dengan keutamaan..
Dalam ayat tersebut, nikah tapi belum digauli dan cerai..
1. Sang wanita memaafkan (bayar 1/2 mahar)
2. Lelaki juga memaafkan (bayar 2x mahar)
Inilah tafsir yang benar..
Ada tafsir yang salah, terjadi dalam beberapa tulisan, meski maknanya benar.
(termasuk penulis buku yang tafsir tersebut tidak ditemukan dalam buku2 tafsir para ulama tafsir)
وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ
Jangan lupa kebaikan2 masa lalu diantara kalian.
Sehingga Di tafsirkan.. Kalau terjadi perceraian antara lelaki dan wanita, jangan ribut2.. Sehingga cerai baik-baik.
Karena kasus ayat ini terjadi pada laki-laki dan perempuan yang belum serumah.
Adapun tafsir yang salah adalah terjadi pada pasangan yang sudah berkumpul..
Kesalahan tafsir dari 2 sisi.
1. Nisyan diartikan lupa padahal makna yang benar adalah meninggalkan
2. Al Fadhl disandarkan pada orang lain padahal kita yang disuruh mengerjakan.
Tapi maknanya benar bahkan merupakan konsekuensi dari tafsir yang benar..
Jika kepada orang yang tidak punya jasa disuruh berbuat baik apalagi yang pernah punya jasa..
Semoga bermanfaat
##$$-aa-$$##


