KELAS UFA#Materi 15-16-17-18-19 : JIHAD MELAWAN RIYA
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA#Materi 15-16-17-18-19 : JIHAD MELAWAN RIYA
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 17-Des-2020 @ 11:57
7 menit membacaJIHAD MELAWAN RIYA
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc. MA.
PEKAN ke 4
Jihad melawan riya, karena syetan selalu berusaha menggoda kita, syetan tidak peduli seberapa besar amalan kita, seberapa besar sumbangan kita,bagi syetan yang penting dia riya.
Dan ini adalah perjuangan seumur hidup.
Ada 4 perkara yang perlu kita renungkan.
1️⃣ Merenungkan akibat buruk di akhirat bagi seseorang yang riya,
2️⃣ Merenungkan akibat buruk orang yang riya di dunia
3️⃣ Merenungkan tentang hakikat orang yang kita harapkan pujian/sanjungan darinya
4️⃣ Perenungan tentang diri kita sendiri
Penjelasan
1️⃣ Merenungkan akibat buruk di akhirat bagi seseorang yang riya.
Orang yang riya, di akhirat sungguh menderita, dipermalukan oleh Allah.
A. ➡️Diantaranya, Nabi ﷺ bersabda, riwayat Al Bukhari..
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalanya, maka Allah akan memperdengarkan tentang hakikatnya. Dan barangsiapa ingin memperlihatkan amalan shohehnya, maka Allah akan memperdengarkan hakikatnya pada khalayak (di hari akhirat kelak) . (HR. Bukhari)
Hadits ini ditafsirkan oleh para ulama dengan dua tafsiran.
Pertama, jika seorang melakukan amal sholeh dan dia menampakkan seakan-akan dia tulus/Ikhlas, dan orang tidak tahu isi hatinya, maka pada hari kiamat kelak, Allah akan bongkar isi hatinyam Allah akan memperlihatkan kepada khalayak bahwa orang ini dulu riya, atau sum’ah.
Kedua, Allah akan memperlihatkan pahala dari amalan yang dia kerjakan (pahala sholat, pahala haji/umrah, sedekah dll). Pahala yang besar dan menggiurkan, tiba-tiba Allah jadikan hancur semua.
هَبَاءً مَنْثُورًا
Seperti debu yang beterbangan.
Karena selama ini dia membohongi masyarakat seakan-akan dia ikhlas, di akhirat kelak dia terpedaya, amalan dia yang banyak dihancurkan oleh Allah.
B. ➡️ Akibat buruk yang berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlakukan mereka dengan berkata kepada orang-orang muroin yaitu tatkala Allah memberikan balasan kepada manusia, maka mereka berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala , apakah Allah mengkasihani mereka? Tidak. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala ”
اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا
Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian harapkan dulu pujian mereka di dunia.
(pujian, sanjungan, like dst)
هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
Apakah kalian akan dapatkan balasan dari mereka?
Jawabannya tentu tidak, ini adalah ejekan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️Materi 16
Akibat riya’
1️⃣ Allah akan permalukan di akhirat kelak
2️⃣ Allah suruh minta pahala kepada orang yang diriya’i
Selanjutnya,
3️⃣ Orang yang riya, termasuk yang pertama kali diadzab Allah pada hari kiamat.
➡️ Pertama,
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ
“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid,
فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا،
lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya.
Mungkin kuat, berani, kuat,jago berkuda dsb.
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟
Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?”
Setiap nikmat wajib disyukuri.
قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ،
Orang itu menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.”
قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ،
Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).”
Percuma berbohong kepada Allah, Allah telah berikan tujuan dia berperang, yaitu sebagai jagoan, pahlawan, pemberani (didunia)
فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
Digeret dengan wajahnya di tanah untuk dihinakan.
➡️ Kedua,
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ،
Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama)
Inilah adalah Ustadz, dai..
وَقَرَأَ الْقُرْآنَ،
, mengajarkannya Al-Qur`an.
فَأُتِيَ بِهِ،
Lalu dia didatangkan untuk disidang,
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا،
Maka Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya) maka diapun ingat…
Mungkin dikenal cerdas, pandai ceramah, kuat hafalan dsb
قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟
Allah bertanya , “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?”
قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ،
Maka ustad itu menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.”
Ustadz ini dusta juga..
قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ
Allah berkata , “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim (supaya dipanggil ustad, supaya dikenal)
وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ،
dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).”
Tujuannya supaya di dunia disanjung telah engkau dapatkan.. Tapi apa yang dia dapatkan di akhirat?
ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
Kemudian diperintahkan oleh Allah agar malaikat menggeret orang ini di atas wajahnya kemudian dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.
➡️ Materi 17
➡️ Yang ketiga,
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ،
Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang segala jenis harta.
فَأُتِيَ بِهِ،
Maka dia didatangkan pada hari kiamat kelak,
Untuk ditanya tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Karena Allah berfirman,
{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ}
Sungguh kalian akan benar-benar ditanya oleh Allah tentang nikmat Allah yang kalian dapatkan
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
Maka Allah ingatkan tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya
فَعَرَفَهَا،
Dan dia ingat seluruhnya
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟
Allah bertanya, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat yang Aku berikan kepadamu?”
قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ،
dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalan kebaikan pun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ dan semuanya karena Engkau Yaa Allah.”
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ،
Allah berkata , “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan/donatur ,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).”
ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Kemudian diperintahkan agar malaikat menggeret di atas wajahnya kemudian dilemparkan ke dalam neraka.”
Tiga orang ini adalah orang yang hebat, yang diperlukan dalam agama.
Ini adalah contoh amal ibadah yang puncak, tapi karena tidak ikhlas maka menjadi bumerang dan justru yang pertama kali disiksa Allah di neraka.
Riya itu bukan hanya menjadikan amal menjadi Nol, tetapi menjadi minus bahkan menjadi sebab seseorang masuk ke dalam neraka. Bahkan awal-awal masuk neraka, ini menunjukkan riya dosa besar karena diancam dengan adzab khusus yaitu neraka Jahanam. Memang riya’ syirik kecil tapi dia syirik, dikatakan syirik kecil hanya untuk membedakan dengan syirik besar, karena syirik besar membuat orang kekal di neraka sedangkan syirik kecil tidak demikian.
➡️ MATERI 18
Diantara hal yang membantu kita melawan riya adalah.
➡️ Kita memikirkan nasib orang yang beramal karena riya di dunia.
Diantara adalah
1️⃣ Gelisah, karena tujuannya untuk mencari sanjungan masyarakat.
Gelisah sebelum, ketika dan setelah beramal.
Sebelum beramal, dia akan memikirkan proses pencitraannya
Ketika beramal, apalagi Live, semua mata memandang dirinya dan semua mata memiliki penilaian sendiri2. Khawatir orang akan nilai dengan tidak baik sementara dia berharap penilaian yang baik.
Setelah beramal, dia gelisah karena menanti pujian.
Bahkan sampai terkadang dia buat ungkapan yang menunjukkan hatinya tersayat-sayat seperti, “percuma saya kasih sedekah tapi dia tidak terima kasih sama saya” dll.
Misalnya juga buat status, dia bolak balik apakah ada yang like (sedikit) atau tidak..
Atau kalau ada yang memuji tapi tidak sesuai harapannya.
Juga bila pujian nya setinggi langit, itu hanya sebentar… Dan dia selalu berharap kapan dapat pujian seperti itu lagi.
Lain dengan orang yang ikhlas, kalau ada yang memuji dia berusaha memperbaiki hatinya, dia tahu dia beribadah hanya berharap ridho Allah, bahkan sebagian orang sholeh tidak suka bila dipuji, karena dia khawatir niatnya yang tadinya Ikhlas bisa berubah karena adanya pujian.
Maka seseorang kalau ingin bahagia harus ikhlas, jangan terjebak dalam riya karena riya menyebabkan kegelisahan.
➡️ Materi 19
Diantara nasib orang yang riya di dunia, dia terjebak dalam kebahagiaan-kebahagiaan yang semu bahkan kemaksiatan.
Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Majmu Fatwa jilid 10 hal 216-217, beliau menjelaskan ,
“Barangsiapa yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hatinya fokus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jadilah Allah yang paling ia cintai daripada segalanya, dan dia menjadi tunduk kepada Allah, jika ternyata dia tidak ikhlas maka dia akan diperbudak oleh perkara2 dunia”
Orang yang tidak ikhlas akan diperbudak oleh perkara-perkara dunia. Karena dia tidak bisa merasakan kelezatan keIkhlasan dan mencari kelezatan dengan memandang hal2 yang haram, dia terjebak karena bahagia, terpikat pada hal-hal yang haram.
Terkadang dia terpikat gambar yang halal tapi menjauhkan diri dari Allah.
Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, dia juga terjebak dengan kedudukan dan kemuliaan.
Terkadang satu kalimat membuat dia bahagia karena dipuji, terkadang satu kalimat membuat dia marah karena dia dijatuhkan, menggangu jabatannya (karena itu adalah tujuannya)
Berbeda dengan orang ikhlas yang pegang jabatan karena Allah..
Ibnu Taimiyyah melanjutkan, “seorang yang hatinya tidak ikhlas, hatinya terbudakkan oleh Dirham dan dinar (dunia), demi harta dia lakukan segalanya”
Orang Ikhlas menikmati harta tapi bukan tujuannya, dia akan mengontrol harta, jabatan, pandangan…
Telah kita singgung sebelumnya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala cerita tentang Nabi Yusuf,
كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٢٤
“Demikianlah Kami menjauhkan Nabi Yusuf dari perbuatan keji dan keburukan. Dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Dalam sebagian qiroat – hamba-hamba yang ikhlas.
Nasihat untuk kita adalah latih diri kita untuk mencintai Allah, diantaranya Ikhlas karena Allah, kita cari ridho Allah, dan malu kalau kita riya, jadikanlah kelezatan ibadah karena Allah, karena ikhlas.. Jadikan hati tidak terjebak pada jabatan, gambar2 yang haram dan dinar Dirham..

