Kelas UFA : Materi : 54-55-56 : TAWADHU & Tadabur-1
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- Kelas UFA : Materi : 54-55-56 : TAWADHU & Tadabur-1
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 10:10
4 menit membacaKelas UFA : Materi : 54-55-56 & Tadabur-1
➡️#materi 54 – Tawadhu
Secara bahasa = merendah, tidak merasa tinggi. Lawan dari kesombongan
Secara istilah = meninggalkan sifat suka di atas (paling top), tidak suka diagungkan, tidak suka dimuliakan secara berlebihan. Dan menjauhkan diri sifat membanggakan diri dari keutamaan yang dimiliki.
Dan meninggalkan berbangga dengan kedudukan dan harta.
Berusaha hindarkan diri dari ujub dan kesombongan.
Dalam kitab Tahdribul Akhlaq (Al Jahir)
Makna istilah yang lain : seseorang ridho dengan kedudukan yang lebih rendah dari kedudukan yang sebenarnya dia berhak untuk mendapatkannya.
Dan tawadhu adalah sifat yang tengah antara kesombongan dan adh dhi’ah (seseorang mengatakan kondisi dirinya dimana dia terhinakan karena dihilangkan hak-hak nya).
Sombong adalah memposisikan diri lebih tinggi dari kadar yang seharusnya.
Dhi’ah = terlalu merendahkan diri sehingga jadi hinaan.
Tawadhu yang wajar yang menunjukkan kemuliaan.
Disebutkan oleh Raqib Al Asfahany.
Ulama lain menyebutkan, tawadhu adalah seseorang merendahkan dirinya dari kedudukan yang seharusnya karena dia ingin memuliakan seseorang (walaupun sebenarnya dia sama atau lebih tinggi kedudukannya).
Ada juga yang mengatakan tawadhu adalah mengagungkan orang yang lebih mulia daripada dia (Ibnu Hajar Asqolani dalam Fathul Baari).
Secara sederhana,
Tawadhu secara bahasa merendah
Secara istilah, tawadhu jangan sombong, jangan angkuh jangan menunjukkan kehebatan di hadapan orang lain, ridho kalau disikapi dengan martabat yang lebih rendah dari yang seharusnya, bahkan rela merendahkan dirinya untuk memuliakan orang lain.
➡️#materi 55, perkataan ulama tentang tawadhu
♦️1. Dari Sholeh Al Mirry, suatu hari Hasan Al Bashri kemudian Yunus dan Ayyub As Syihtiyani, mereka bincang2 dan Hasan Al Bashri berkata kepada Yunus dan Ayyub, “Tahukah kalian tentang Tawadhu? TAWADHU itu engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak bertemu dengan seorang muslim pun kecuali engkau memandang bahwasanya orang tersebut lebih utama dari engkau”. Riwayat oleh Ibnu Abdi Dunia dalam kitab At Tawadhu wal Humul.
Ini sangat jelaskan bahwa tawadhu adalah amalan hati.
Bukan hanya penampilan tapi yang lebih utama adalah amalan hati.
♦️2. Yahya bin Abi Katsir, “Inti dari Tawadhu adalah tiga perkara, yaitu:
1. Engkau ridho jika engkau diposisikan pada posisi yang lebih rendah dari posisi engkau yang seharusnya. (jangan tuntut)
2. Engkau yang mulai ucapkan salam kepada orang yang engkau temui.
NABI shallallahu alaihi wasallam ucapkan salam kepada anak-anak.
3. Engkau tidak suka dengan pujian, riya, sum’ah (merasa tidak pantas dipuji, benar-benar keluar dari hati).
➡️Materi 56
♦️ Fudhail bin Iyadh, menjawab ketika ditanya tentang tawadhu, “Yaitu tunduk kepada kebenaran dan menerima kebenaran tersebut dari siapa saja yang mengucapkan.”
Tawadhu itu intinya Al Haq (kebenaran), meskipun orang yang mengatakan lebih rendah daripada dirinya, meskipun dari musuhnya.
♦️ Ibnul Mubarak, berkata, “puncak dari tawadhu yaitu engkau memposisikan dirimu di depan orang yang dunianya lebih sedikit (miskin) daripada kamu, tetapi engkau tidak merasa lebih tinggi dan memposisikan dirimu lebih rendah daripada dia. Sehingga engkau kabarkan kepada dia bahwa kekayaan tidak membuat engkau lebih tinggi daripada dia”
Karena yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan.
Intinya, jangan tunjukkan bahwa kita lebih di di hadapan orang yang lebih rendah daripada kita. Tunjukkan bahwa kita tidak lebih hebat daripada dia. Dunia tidak membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain. (puncak tawadhu dengan berusaha merendah di hadapan orang yang lebih rendah kedudukannya dari pada kita)
♦️Yahya bin Hakam bin Abil Ash, yang berkata kepada Abdul Malik, “Mana orang yang lebih afdhal?”, Abdul Malik berkata, “Orang yang tawadhu padahal punya kedudukan tinggi (nasab, harta, jabatan), padahal dia mampu”
Punya sebab untuk punya kedudukan tinggi, namun tetep merendah…
➡️ Tadabur 1
BAGAIMANA doanya Nabi Zakariya alaihissalam, beliau berdoa :
رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًۭا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّۭا
“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku sudah tua, tulangku sudah rapuh, rambut sudah putih semua, namun aku tidak pernah kecewa dengan doa kepada Engkau sebelumnya.
وَاِ نِّيْ خِفْتُ الْمَوَا لِيَ مِنْ وَّرَآءِيْ وَكَا نَتِ امْرَاَ تِيْ عَا قِرًا
“Sesungguhnya aku khawatir tidak ada yang mengurusi Bani Israil Kalau aku meninggal dunia dan istriku mandul
فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ
Maka, anugerahkanlah kepadaku seorang anak.
Nabi Zakaria berdoa minta anak.
Diantara adab berdoa Yang Allah sebutkan dalam doa Nabi Zakaria adalah
اِذْ نَا دٰى رَبَّهٗ نِدَآءً خَفِيًّا
“(yaitu) ketika dia berdoa kepada Rabb nya dengan suara yang lirih.
Tidak perlu kita berdoa dengan suara yang keras walaupun kita dalam keadaan bersendirian, karena Allah Maha Mendengar.
Allah mendengar suara lirih yang kita dengar sendiri, tapi diucapkan.
Maka diantara adab doa adalah Allah Pasti Maha Mendengar,
yang kedua diantara adab doa adalah kita mengungkapkan seluruh kelemahan / kerendahan kita. (Nabi Zakaria sebutkan seluruh kelemahan, dan kebutuhan orang-orang bani Israil).
Semakin kita tunjukkan kehinaan kita di hadapan Allah, maka semakin mudah doa dikabulkan.
Oleh karenanya doa paling mudah dikabulkan tatkala sujud. Dimana Nabi ﷺ mengatakan,
وَأمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
ADAPUN ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.
Kenapa ketika sujud? Kita mengakui ketinggian Allah
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
Dan kita mengakui kehinaan kita, kita meletakkan bagian tubuh yang mulia kita di tanah.
Ketika kita mengakui kerendahan diri dan mengakui ketinggian Allah, maka saat itu doa mudah dikabulkan.
Tentunya kita jangan hinakan diri dihadapan orang, tapi kalau kepada Allah maka kita wajib hinakan diri kita.
Nabi Zakaria menghinakan diri di hadapan Allah sambil bertawasul dengan mengatakan,
وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّۭا
Aku tidak pernah kecewa dengan doa kepada Engkau sebelumnya.
Artinya Nabi Zakaria yakin Allah selalu kabulkan doanya dan sekarang pun akan Allah kabulkan.
Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Zakaria, yang kelihatannya mustahil, istrinya mandul, namun Allah karuniai anak.
Oleh karenanya, seorang berdoa, dengan rendahkan dirinya dihadapan Allah, mengagungkan Allah dan bertawasul dengan sifat-sifat Allah.

