KELAS UFA# Materi 57-58-59-60 : TAWADHU2 & TADABUR2 – Allah Hancurkan Kesombongan Kaum Ad
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA# Materi 57-58-59-60 : TAWADHU2 & TADABUR2 – Allah Hancurkan Kesombongan Kaum Ad
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 10:20
6 menit membacaKELAS UFA# Materi 57-58-59-60 : TAWADHU2 & TADABUR2 – Allah Hancurkan Kesombongan Kaum Ad
➡️ MATERI 57 : Tawadhu Sifat ‘Ibadurrohman
Ayat-ayat Al-Quran.
Ibadurrohman ini adalah penghuni surga, karena setelah Allah sebutkan sifat-sifat mereka, Allah menyebutkan mereka
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا
orang-orang yang mendapatkan Al Ghurfah, istana2 yang tinggi di surga karena kesabaran mereka.
Sifat-sifat Ibadurrohman.
➡️1. Tawadhu.
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا
Dan hamba-hamba Ar-Rahman,mereka berjalan di atas bumi dengan rendah hati.
Kalau diajak bicara orang-orang jahil, mereka berkata ‘keselamatan’, artinya tidak balas kejahilan dengan kejahilan.
Mereka menolak kejahilan dengan halus.
الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا
Berjalan di atas bumi dengan rendah hati.
هَوْنًا
Maknanya adalah berjalan dengan tawadhu (Al Qurthubi dan As Sa’di).
Karena cara bicara, cara berjalan, gestur tubuh, itu menunjukkan kondisi hati.
Oleh karena itu Allah menyebutkan mereka dengan cara berjalan mereka.
سَلامًا
Balas kejahilan dengan cara halus.
Sifat Tawadhu bukan sifat yang sepele, Allah sebutkan ciri-ciri penghuni surga yang pertama adalah tawadhu.
➡️ MATERI 58: SIKAP ORANG TAWADHU TERHADAP DUNIA
Kita lanjutkan ayat-ayat yang berbicara tentang tawadhu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَ رْضِ وَلَا فَسَا دًا ۗ وَا لْعَا قِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
“itulah Negeri akhirat, yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 83)
Ayat ini dibawakan oleh Allah ﷻ setelah menyebutkan kisah Qarun yang ujub, sombong, merasa tinggi.
{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي}
Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
Dia sombong..
Yang kedua
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ
Dia keluar kepada kaumnya dengan kemegaannya (membuat orang ngiler).
Dan Allah akhirnya sebutkan..
تِلْكَ الدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَ رْضِ وَلَا فَسَا دًا ۗ وَا لْعَا قِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
“itulah Negeri akhirat, yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak (harapkan ketinggian) menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 83)
Perkataan Syaikh Abdurrahman as Sa’di : Mereka sama sekali tidak ada keinginan untuk merasa tinggi di atas bumi, apalagi mempraktekkannya.
Oleh karena nya mereka berhak mendapat surga.
Kemudian beliau berkata, ‘kondisi orang-orang ini adalah semuanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tujuan mereka adalah ingin mencari akhirat. Dan kondisi mereka adalah tawadhu dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibnu Katsir tentang ayat ini, “Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya darul akhirah itu surga, kenikmatan yang abadi, kenikmatan tersebut tidak berubah dan tidak akan sirna, Allah jadikan kenikmatan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman yang tawadhu. Yang tidak menginginkan ketinggian di atas bumi, tidak merasa tinggi di hadapan hamba-hamba Allah, dan tidak merasa besar di hadapan hamba-hamba Allah, dan tidak merasa hebat/dzalim kepada hamba-hamba Allah , tidak lakukan kerusakan pada manusia.”
➡️ Tadabur 2 : Allah hancurkan kesombongan kaum Ad
Allah berfirman,
{كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ (18) إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ (19)
تَنزعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ (20)) }
Kaum ‘Ad pun telah mendustakan para Rasul,
Kaum yang diutus setelah kaum Nabi Nuh, dan Kaum Ad diberi kelebihan dengan tubuh yang kuat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (peringatan Nabi Hud kepada kaumnya)
ۗ وَا ذْكُرُوْۤا اِذْ جَعَلَـكُمْ ۚ خُلَفَآءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَا دَكُمْ فِى الْخَـلْقِ بَصْۜطَةً
“Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. “” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 69)
Bahkan bila mereka ingin hancurkan kaum lain maka salah seorang angkat batu besar dan dilemparkan kepada kaum lain dan hancur.
Saking kuat nya mereka sombong..
{فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبرَوُا فِي الأرْضِ}
{وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً}
Adapun kaum ‘Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi.
dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” (Fushshilat: 15)
{أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً}
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? (Fushshilat: 15)
Di puncak kesombongan mereka, Allah binasakan mereka dengan sesuatu yang sepele, yaitu udara yang kalau kita lihat tidak ada dzat nya. Allah kirim angin yang luar biasa.
{سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ}
{سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا}
yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka. selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. (Al-Haqqah:7).
Diantara sifat angin tersebut disebutkan Allah dalam surat Al Qomar..
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ (19)
Allah utus angin yang sangat dingin dan sangat berisik..
تَنزعُ النَّاسَ
(angin tersebut ketika datang) Mencabut manusia (seperti tangan), angkat di udara diputar-putar hari. Dan jatuhkan mereka terancam tanah, seperti pohon kurma yang tumbang.
Sesungguhnya Kami telah mengembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang.
Kadangkala Allah jatuh kan suatu kaum di puncak kesombongan mereka.
➡️ MATERI 59-TAWADHU KASIH SAYANG TERHADAP SESAMA
Allah ﷻ berkata kepada Rasulullah ﷺ,
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang beriman.
Qs Al Hijr ayat 88.
Al Qurthubi mengomentari ayat ini, “Lembutlah engkau kepada orang-orang yang beriman kepada engkau Wahai Muhammad, dan tawadhulah kepada mereka”
Telah kita sebutkan beberapa ayat, diantara makna tawadhu adalah seorang bersikap lembut terhadap saudaranya.
Kalau seseorang lemah lembut kepada orang lain itu menunjukkan ekspresi tawadhu dalam hatinya. Orang bisa marah karena hatinya merasa tinggi terhadap orang yang jadi lawan bicara.
Diantara realisasi tawadhu dalam hati adalah Lemah lembut…
Allah sebutkan ayat lain, qs Ali Imran ayat 159.
فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Sungguh dengan rahmat Allah kepada engkau wahai Muhammad, engkau lembut kepada mereka. Kalau engkau kasar (hatimu keras) tentu mereka akan lari darimu.
Dalam ayat lain, QS Asy Syuara ayat 215.
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215)
Rendahkan lah dirimu terhadap orang yang mengikuti engkau dari kaum mukminin.
Dalam surat Al Maidah ayat 54,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, siapa yang murtad diantara kalian dari agamanya, maka Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan Mereka cinta kepada Allah.
Ini sifat spesial yaitu Allah cinta mereka dan mereka cinta Allah,
Dan Allah sebutkan sifat berikutnya,
Mereka merendahkan diri di hadapan kaum mukminin dan tegas terhadap orang-orang kafir.
Ibnu Katsir : inilah sifat orang yang beriman yang sempurna iman mereka yang bersikap tawadhu (merendah dihadapan) terhadap saudaranya.
Merendah disini sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, bukan maksudnya menghinakan diri tetapi merendah dengan penuh kasih sayang, kelembutan, ramah.
Maka diantara bentuk tawadhu adalah kelembutan dia, ramah, murah senyum…
➡️ MATERI 60 tawadhu kepada orang tua
Ini adalah tawadhu yang spesial.
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Surat Al-Isra (17) Ayat 24
Ini adalah tawadhu yang spesial,
Dalam ayat lain
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Rendahkan lah dirimu (Wahai Rasulullah ﷺ) terhadap orang yang mengikuti engkau dari kaum mukminin.
Allah tidak mengatakan ;
مِنَ ٱلرَّحْمَةِ
Allah Hanya mengatakan
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ
Dan tidak ada kata
جَنَاحَ ٱلذُّلِّ
Hanya kata
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ
Dan
جَنَاحَ
Artinya sayap..
Seperti burung, kalau kita punya sayap kita turunkan sayap kita.
Ketika terhadap orang tua tambahan 2 Lafazh
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ
Ada tambahan Adz Dzul, yaitu tambahan sayap kerendahan mu
Dan tambahan minarrohmah, karena kasih sayang.
Ini menunjukkan tawadhu kepada orang tua lebih spesial daripada kepada orang umum.
Allah ingatkan ketika seseorang rendahkan diri di hadapan orang tua karena takut atau harapkan hadiah, namun harus karena Allah ﷻ (atau kasih sayang).
Setelah itu Allah mengatakan..
وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Kita disuruh Allah ingat waktu kecil, bahwa kita tidak bisa apa-apa. Orang tua sudah berkorban luar biasa kepada anak-anak.
Orang tua tidak pernah perhitungan dengan anaknya, merendahkan diri dulu untuk bisa melayani anaknya.
Ketika sudah besar maka kita harus tawadhu kepada orang tua karena Allah.
Imam Qurthubi mengatakan bahwasanya tawadhu tersebut dalam segala hal, dalam berkata-kata, memandang (jangan tajam) , melihat (jangan sinis), kalau berbicara jangan mengangkat suara, jangan sok pinter dihadapan orang tua.
Karena orang tua adalah orang yang paling berjasa kepala kita dan spesial atas perintah Allah.


