SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN SUJUD
- SIFAT SHOLAT NABI:#1 – Sholat di atas mimbar dan sutrah
- SIFAT SHOLAT NABI # SHOLAT IBADAH YANG ISTIMEWA
- SIFAT SHOLAT NABI # MEMBACA AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI# BACAAN SETELAH AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN SUJUD
- SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SETELAH ALFATIHAH (LANJUTAN)
- SIFAT SHOLAT NABI # NIAT
- SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SHALAT MALAM & SHALAT JUM’AT
- SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN SHALAT FAJAR-DHUHUR-ASHAR-MAGHRIB
Diterbitkan pertama kali pada: 04-Jul-2020 @ 16:27
6 menit membacaSifat sholat Nabi: *Bacaan Sujud*
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny
19 Rabi’ul Awal 1441H
Pertemuan ini tidak mungkin terjadi kecuali karena pertolongan dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu kita harus selalu bersyukur supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah nikmat-nikmat kepada kita.
Wajibnya thuma’ninah dalam sujud
Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar menyempurnakan rukuk dan sujud. Memerintahkan pada asalnya adalah wajib.
Orang yang tidak sempurna rukuk dan sujud seperti orang yang lapar, yang makan 1 atau 2 kurma dan itu tidak mengenyangkannya.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan,
Pencuri yang paling buruk adalah orang yang yang tidak sempurna shalatnya.
uk pencurianya….
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِى يَسْرِقُ مِنْ صَلاتِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: “لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا
‘Pencuri terjelek adalah orang yang mencuri (sesuatu) dari shalatnya.’
Para Shahabat رضي الله عنهم bertanya…:
“Wahai Rasulullah, ….Bagaimana seseorang mencuri sesuatu dari shalatnya…..???’
Beliau ﷺ menjawab….” Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”
Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam menghukumi batal shalat orang yang tidak Thuma’ninah.
*Dzikir bacaan sujud*
Kita boleh membaca bacaan yang riwayat nya shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun masalah doa tidak perlu ada riwayat karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak membatasi doa tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk sungguh-sungguh dalam berdoa.
Bahkan bila tidak bisa bahasa Arab, maka boleh.
Sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata:
وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Aku dilarang untuk membaca Alquran ketika rukuk dan sujud. Adapun rukuk maka itu waktunya mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan sujud maka itu waktunya bersungguh-sungguh untuk berdoa agar diijabah oleh Allah” (HR. Muslim no. 479)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu membaca doa yang bermacam-macam, kadang memilih doa yang ini atau yang itu…
1. *Bacaan 1*
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
Subhaana robbiyal a’laa (3x).
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak) (3x).
HR Ahmad.
Kadangkala beliau mengulang dzikir ini lebih dari 3x,karena sujud nya lebih lama.
Para ulama menjelaskan dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menggabungkan bacaan-bacaan tapi mengulang-ulang.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering sujud lama hampir seperti saat berdiri nya yang membaca surat Al Baqarah, An Nisa, Ali Imran seperti saat shalat malam.
Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sama waktu berdiri, rukuk, I’tidal, sujud, duduk nya.
Ulama memahami demikian, sedangkan ulama lain memahami ini hanya kadang-kadang.
Jumhur ulama, berpendapat..
*Rukun kelompok 1* = berdiri dan duduk tasyahud
*Rukun kelompok 2* = rukuk, I’tidal, sujud, duduk diantara 2 sujud.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di sholat malamnya 11 rokaat, kalau membaca Al Baqarah , Annisa dan Ali Imran adalah 5 jus maka berdiri dan rukuknya seperti membaca alquran 10 juz, blm i’tidalnya 5juz, sujudnya 5 juz dan tahiyanya 5jus maka 30juz dalam semalam….
Rukun kelompok pertama lebih lama dari pada rukun kelompok 2.
Dan ini pendapat lebih kuat.
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ
Shalat yg paling afdhal (utama) adl shalat yg lama berdirinya. [HR. Muslim No.1257].
2. *Bacaan 2*
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih (3x).
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan dengan pujian untuk-Nya (3x).
HR. Abu Daud no. 870, shahih.
Tambahan
وَبِحَمْدِهِ
Ada perselisihan.
3. *Bacaan 3*
سُبُّوْحٌ، قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
Subbuuhun (yang disucikan) , qudduusun (Penuh Keberkahan) , robbul malaa-ikati war-ruuh. (Rabb para malaikat dan Rabb nya jibril)
Maha Suci, Maha Suci, Tuhannya para malaikat dan Jibril.
HR. Muslim 1/533, lihat no. 35.
4. *Bacaan 4*
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ
Subhaanakallaahumma robbanaa wa bihamdika, allaahummagh-fir lii.
Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami, dan dengan pujian untukMu. Ya Allah, ampunilah aku.
HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484.
Dan dulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperbanyak doa ini dalam rukuk dan sujud nya sebagai bentuk penafsiran Qs An Nashr.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
5. *Bacaan 5*
اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، (وَأَنْتَ رَبِّي)، سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، (فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ)، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ
Allaahumma laka sajadtu, wa bika aamantu, wa laka aslamtu, (wa anta robbii), sajada wajhii lilladzii kholaqohu wa showwarohu, (fa-ahsana shuwarohu), wa syaqqo sam’ahu wa bashorohu, tabaarokallaahu ahsanul khooliqiin.
Ya Allah, hanya kepada-Mu aku bersujud, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku berserah diri. (Engkau Rabbku). Bersujud wajahku kepada Dzat yang menciptakan dan membentuknya, (lalu Dia baguskan rupanya), yang membelah pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta.
HR Muslim.
6. *Bacaan 6*
6.للَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ
Allaahummagh-fir lii dzanbii kullahu, diqqohu wa jillahu, wa awwalahu wa aakhirohu, wa ‘alaaniyyatahu wa sirroh.
Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku yang kecil dan besar, yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan dengan terang-terangan dan yang tersembunyi.
HR. Muslim 1/350.
Pada asalnya dosa terang-terangan itu lebih besar dari dosa yang tersembunyi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat.
Akan tetapi dosa di kala sendiri bisa lebih besar apabila ada perasaan menyepelekan.
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »
Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245).
Jangan sepelekan dosa-dosa saat sendirian..
7. *Bacaan 7*
( سجد لك سوادي وخيالي وآمن بك فؤادي أبوء بنعمتك علي هذي – يدي وما جنيت على نفسي )
Diriku dan khayalku bersujud kepada MU, dan hatiku beriman kepada Mu. Aku mengakui nikmat Mu kepada ku, inilah tangan ku (diriku) dan segala dosa yang telah aku perbuat atas diriku, (maka ampunilah aku).
8. *Bacaan 8*
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Subhaana dzil jabaruuti, wal malakuuti, wal kibriyaa-i, wal ‘azhomah.
Maha Suci (Allah) yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.
HR. Abu Dawud 1/230, An-Nasai dan Ahmad. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud 1/166.
9. *Bacaan 9*
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, laa ilaaha illaa anta.
Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.
HR. Muslim no. 1089.
10. *Bacaan 10*
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ
Allaahummagh-fir lii maa asrortu wa maa a’lantu.
Ya Allah, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan aku tampakkan (dari kejelekan/dosa).
HR. an-Nasa’i no. 1124, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i.
11. *Bacaan 11*
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا، وَفِي لِسَانِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ تَحْتِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ يَسَارِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ أَمَامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا
Allaahummaj’al fii qolbii nuuron, wa fii lisaanii nuuron, waj’al fii sam’ii nuuron, waj’al fii bashorii nuuron, waj’al min tahtii nuuron, waj’al min fauqii nuuron, wa ‘an yamiinii nuuron, wa ‘an yasaarii nuuron, waj’al amaamii nuuron, waj’al kholfii nuuron, waj’al fii nafsii nuuron, wa a’zhim lii nuuron.
Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lisanku. Jadikanlah cahaya dalam pendengaranku. Jadikanlah cahaya pada penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari bawahku. Jadikanlah cahaya dari atasku, cahaya dari kananku dan cahaya dari kiriku. Jadikanlah cahaya di depanku. Jadikanlah cahaya di belakangku. Jadikanlah cahaya pada jiwaku, dan besarkanlah cahaya untukku.
HR. Muslim no. 1791 dan an-Nasa’i no. 1121.
12. *Bacaan 12*
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allaahumma innii a’uudzu biridhooka min sakhothika, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika minka, laa uhshii tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa ats-naita ‘alaa nafsik.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahanMu, dan dengan keselamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung kepadaMu dari siksaMu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepadaMu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diriMu sendiri.
HR. Muslim 1/532.
Ada pujian yang tidak pantas dibaca untuk Allah,
Sebanyak apapun pujian kita kepada Alloh ﷻ tdk akan sebanding dengan kemuliaan Alloh ﷻ
” حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ”
” Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan menjamin tambahannya.”
* Maka bacaan ini tdk pantas kita ucapkan…
Kita cukupkan dengan bacaan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Ada khilaf antara boleh tidaknya menggabungkan bacaan-bacaan tersebut.
Imam Nawawi membolehkan, dan pendapat ini lebih dikuatkan oleh Ustadz karena lebih umum.
QA.
Doa dalam bahasa Indonesia, apakah dalam hati atau diucapkan?
Jawab : berdoa diucapkan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa.
##$$-aa-$$##

