This entry is part 7 of 27 in the series Sifat Sholat Nabi

Diterbitkan pertama kali pada: 04-Jul-2020 @ 17:23

4 menit membaca

*SIFAT SHOLAT NABI*
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny
9 Dzulqo’dah 1439 H

N I AT

adalah syarat sah sholat
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan untuk masing-masing orang tergantung apa yang dia niatkan.

Niat adalah amalan hati. Sehingga bila dilafalkan maka bukan amalan hati lagi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan melafazkan niat selama hidupnya, sehingga para ulama yang menganjurkan melafazkan niat tidak pernah memberikan dalil (riwayat) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.

Para ulama yang menganjurkan melafazkan niat, karena mereka memberikan batasan yang sulit pada niat, sehingga melafazkan niat dianggap mempermudah niat.
Padahal niat adalah amalan hati..
Kita cukuplah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

TAKBIR

Ini wajib dan salah satu rukun sholat.
Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuka sholat dengan ucapan (bukan dalam hati)

ALLAH AKBAR

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إنَّهُ لا تتمُّ صلاةٌ لأحدٍ منَ النَّاسِ حتَّى يتوضَّأَ فيضعَ الوضوءَ مواضعَهُ ثمَّ يقولُ اللَّهُ أَكبرُ

“Tidak sempurna shalat seseorang sampai ia berwudhu, lalu ia membasuh air wudhu pada tempat-tempatnya, lalu ia berkata ‘Allahu Akbar’” (HR Abu Daud 857, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda juga

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Pembuka shalat adalah bersuci (wudhu), yang mengharamkan adalah takbir dan yang menghalalkan adalah salam” (HR. Abu Daud 618, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Ketika Nabi ﷺ sakit maka Abu Bakar ( yang dibelakangnya) yang mengeraskan suaranya….

فَتَأَخَّرَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَعَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جَنْبِهِ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ التَّكْبِيرَ
“Lalu Abu Bakar mundur dan Nabi duduk di sampingnya, sedangkan Abu Bakar memperdengarkan (kepada) orang-orang takbir (Nabi)”.
[Muttafaqun ‘alaihi]

Rasulullah ﷺ tdk pernah mengganti lafal Allohu akbar menjadi kata² serupa Arrohiimu Akbar dll
Apalagi mengganti dg bahasa Indonesia atau bahasa lain…

ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳﺘُﻤُﻨِﻲ ﺃُﺻَﻠِّﻲ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

MENGANGKAT KEDUA TANGAN
Ketika takbirotul ikhrom juga disyariatkan….
Kapan kita mengangkat tangan
1) Bersamaan dengan suara takbir
2) Kadang-kadang setelah takbir
3) Kadang-kadang sebelum takbir
Dan khilaf yang seperti ini disebut tanawu’ ( berdasar dalil – variasi ibadah) tapi semuanya diriwayatkan dari Nabi dg sanad yang sahih, sehingga kita bisa memilih salah satu diantaranya….
Dan ini adalah sunnah fi’liyah…..

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengangkat tanganya dan merenggangkan jari jemarinya…

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjadikan tangannya sejajar dengan Pundaknya, dan kadang² Rasulullah ﷺ mengangkat tanganya sampai kedua daun telinga Beliau ﷺ
Ini juga khilaf tanawuk…

MELETAKKAN TANGAN KANAN DIATAS TANGAN KIRI
Ini diwajibkan karena Rasulullah ﷺ melakukanya demikian, dan ketika ada shohabat meletakkan tangan kiri diatas tangan kananya dirubah lah posisinya sama Rasulullah ﷺ

كان الناسُ يؤمَرون أن يضَع الرجلُ اليدَ اليُمنى على ذِراعِه اليُسرى في الصلاةِ
“Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya ketika shalat”
(HR. Al Bukhari 740)
Cara pertama yaitu al wadh’u(meletakkan kanan di atas kirim tanpa melingkari atau menggenggam). Letak tangan kanan ada di tiga tempat: di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri.

Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr tentang sifat shalat Nabi,
ثم وضَع يدَه اليُمنى على ظهرِ كفِّه اليُسرى والرُّسغِ والساعدِ
“..setelah itu beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan atau di atas lengan”
(HR. Abu Daud 727).

MELETAKKAN TANGAN DIATAS DADA KITA
Ini yang paling afdhol dan para Ulama khilaf tentang hal ini, Madzhab hanafi di bawah pusar, Syafii diatas pusar dan diatas pusar yang tepat adalah didada kita….
Adapun Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpendapat di bawah dada dan di atas pusar.

Dalilnya hadits Wail bin Hujr:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
“Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat”
(HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322)
Rosululloh meletakkan tangan kanannya diatas telapak tangannya, atau pergelangan kanan atau kiri, dan beliau dahulu meletakkan tanganya diatas dada…
Boleh dipegang, dan boleh diletakkan saja…

نهى أن يصلي الرجل مختصرا
“Nabi ﷺ melarang seseorang bertolak pinggang ketika sedang shalat”
(HR. Bukhari 1220, Muslim 545)

Maksudnya meletakkan tanganya sambil bertolak pinggang….
Karena menyerupai bentuk penyaliban yang pernah dilarang oleh Nabi ﷺ dan sangat tdk selaras dg sifat tunduk dan patuh terhadap dzat yang Maha Besar, Maha Agung Dan Maha Mulia, maka semua gerakan sholat adalah menundukkan dan merendahkan diri dihadapan Alloh ﷻ
Seperti gerakan seperti duduknya anjing, seperti mematuknya burung, itu bertentangan dengan nilai ketundukan kita kepada Alloh ﷻ

Yang kita sedang menghadap-Nya
Gerakan seperti menderungnya onta juga dilarang didalam sholat….

والـلــه تعالى أعلم بالصواب

QA
Sebagian orang sholat dengan tidak meletakkan tangan di dada,

Jawab, itu dilakukan oleh sebagian madzhab Malikiyah karena mereka bersandar pada perbuatan Imam Malik, Imam Melakukan tersebut bukan berdasar dalil tapi karena udzur beliau (tidak mampu mengangkat tangan – karena sakit tangan setelah dipukul dipenjara dg sebab menyelisihi perintah penguasa tentang fatwa talak).

##$$

Sifat Sholat Nabi

SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SETELAH ALFATIHAH (LANJUTAN) SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SHALAT MALAM & SHALAT JUM’AT
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?