KITAB NIKAH # MAHAR
Diterbitkan pertama kali pada: 20-Jul-2020 @ 17:14
4 menit membacaKitab Nikah – Mahar
Ustadz Abdullah Sya’roni
21 Rabi’ul Akhir 1441 H
MAHAR DAN KEHARMONISAN RUMAH TANGGA
Mahar, sesuatu yang diberikan pihak suami kepada istri saat menikah, hukumnya wajib, termasuk rukun nikah.
Mahar ini membedakan nikah dan pelacuran.
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (QS. An Nisa’: 4).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam Mengajarkan Kepada Kita Kemudahan Dalam Mahar Agar Kita Meneladaninya.
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan, “Ketika ‘Ali menikah dengan Fathimah Radhiyallahu anhuma dan hendak menggaulinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berikanlah sesuatu kepadanya.’ Ia mengatakan, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu.’ Beliau bertanya, ‘Di mana baju besimu (دِرْعُكَ)?’ Lalu ia memberikan baju besinya kepada Fathimah, kemudian menggaulinya.’”
Memahalkan mahar adalah makruh.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ
‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud)
Juga hadits nya adalah..
إِنَّ أَعْظَمَ النَّكَـاحِ بَرَكَةً أَيَْسَرُهُ مُؤْنَةً.
“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” HR Ahmad.
Mahar putri-putri Nabi shallallahu alaihi wasallam juga ringan (400 Dirham).
Mahar bisa berupa gelang besi atau non fisik seperti pengajaran ilmu syari, Al Qur’an atau Bahasa Arab (sampai bisa baca kitab Arab gundul).
Dulu ada shahabiyah menghibahkan diri kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa mahar, maka ini hanya khusus untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan untuk dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak tertarik dengannya. Hingga ada salah seorang lelaki yang hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَ: لاَ وَاللهِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَقالَ: اذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ، فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا. فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: لاَ وَاللهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : انْظُرْ وَلَوْ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ. فَذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ، فَقَالَ: لاَ وَاللهِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ خَاتَماً مِنْ حَدِيْدٍ، وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي فَلَهَا نِصْفُهُ. فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ : مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ، إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ مِنْهُ شَيْءٌ. فَجَلَسَ الرَّجُلُ حَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسَهُ قَامَ، فَرَآهُ رَسُوْلُ للهِ مُوَالِيًا فَأَمَرَ بِهِ فَدُعِيَ، فَلَمَّا جَاءَ قَالَ: مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ؟ قال: مَعِيْ سُوْرَةُ كَذَا وَسُوْرَة كَذَا –عَدَّدَهَا- فَقاَلَ: تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: اذْهَبْ، فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”
“Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
“Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”
Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”
“Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”
Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut.
Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?”
“Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya.
“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Iya,” jawabnya.
“Bila demikian, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)
Jadi yang dimaksud mahar ini adalah pengajaran Al Qur’an, sesuatu yang bermanfaat bagi istri seperti ilmu alat (bahasa Arab, Tajwid dll).
Hukum tidak sebutkan mahar saat nikah..
Jawab tidak harus dan sah (asal sudah sepakat sebelumnya) – mubah, karena penyebutan mahar bukan syarat sah akad nikah. Mungkin takut terjadi riya dan sum’ah.
Allah berfirman,
لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً
Tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. (QS. Al-Baqarah: 236).
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahkan seorang lelaki,
أَتَرْضَى أَنْ أُزَوِّجَكَ فُلَانَةَ؟
“Apakah kamu bersedia aku nikahkan dengan wanita ini?”
“Ya.” Jawab sahabat.
Kemudian beliau menyampaikan kepada si wanita:
أَتَرْضَيْنَ أَنْ أُزَوِّجَكِ فُلَانًا؟
“Apakah kamu bersedia aku nikahkan dengan lelaki itu?”
”Ya.” jawab si wanita.
Uqbah melanjutkan kisahnya,
فَزَوَّجَ أَحَدَهُمَا صَاحِبَهُ فَدَخَلَ بِهَا الرَّجُلُ وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يُعْطِهَا شَيْئًا
Mereka berdua-pun dinikahkan. Si suami telah mencampuri istrinya, namun belum ditentukan mahar, dan si suami belum memberikan apapun.
Ketika sang istri hendak meninggal, si suami mengatakan,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَنِي فُلَانَةَ، وَلَمْ أَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ أُعْطِهَا شَيْئًا، وَإِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي أَعْطَيْتُهَا مِنْ صَدَاقِهَا سَهْمِي بِخَيْبَرَ، فَأَخَذَتْ سَهْمًا فَبَاعَتْهُ بِمِائَةِ أَلْفٍ
”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkanku dengan Fulanah, dan belum aku sebutkan maharnya, dan belum aku beri apapun (sebagai mahar).
Aku jadikan kalian sebagai saksi, bahwa aku telah memberi si Fulanah tanahku di Khaibar sebagai mahar untuknya.” Wanita itupun mengambil jatah tanah suaminya di Khaibar dan menjualnya seharga 100 ribu dirham. (HR. Abu Daud 2117 dan dishahihkan al-Albani).
Bila istri belum tahu jumlah mahar, maka istri berhak mendapatkan mahar seperti kerabat-kerabat perempuan lainnya (nilai wajar kebiasaan) , asal sudah berduaan.
Dalam sebuah hadits
وَرُوِيَ أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سُئِل عَنْ رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا وَلَمْ يَدْخُل بِهَا حَتَّى مَاتَ؛ فَقَال ابْنُ مَسْعُودٍ: لَهَا مِثْل صَدَاقِ نِسَائِهَا… ؛ فَقَامَ مَعْقِل بْنُ سِنَانٍ الأَْشْجَعِيُّ فَقَال: قَضَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍ امْرَأَةٍ مِنَّا مِثْل مَا قَضَيْتَ
“Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa beliau pernah ditanya tentang laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan tetapi dia belum menentukan jumlah maharnya, dan dia juga belum menyentuh istrinya sedikitpu, hingga akhirnya dia meninggal. Maka Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa peempuan yag ditinggal mati oleh suaminya harus mendapatan mahar mitsli… Lalu berkata Ma’qil bin Sna Al-Asyja’i bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga pernah berkata demikian dalam perkara Rou’ binti Wasyiq (HR. Turmudzi)
Jadi wanita yang ditinggal suami meninggal tapi belum disebutkan saat nikah :
1. Dapat mahar
2. Dapat hak waris
3. Ada masa idah 4 bulan 10 Hari.
Namun sebaiknya mahar disebutkan.
##$$-aa-$$##


