KASYFU SYUBHAAT #-13 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-1 Muqaddimah
- KASYFU SYUBHAAT #-2 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-3 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-4 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-5 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-13 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-6 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-7
- KASYFU SYUBHAAT #-8 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
Diterbitkan pertama kali pada: 04-Des-2022 @ 19:18
5 menit membaca*KASYFU SYUBHAAT* #-13 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
🎙️Ustadz Dr. Firanda Andirja, LC, M.A
Ahad malam, 11 Jumadil Awal 1444 H (4 NOV 2022)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
✅ SYUBHAT SELANJUTNYA
Kesyirikan orang terdahulu lebih ringan dari pada kesyirikan jaman sekarang
Apabila anda sudah tahu bahwa hal yang dinamakan oleh orang-orang musyrik pada zaman ini dengan “Al I’tiqaad,” adalah merupakan “syirik” yang dimaksud dalam Al- Qur’an dan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam memerangi manusia lantaran syirik itu, maka ketahuilah, bahwasanya bentuk syirik orang-orang dahulu itu lebih ringan dari bentuk syirik orang-orang zaman ini, hal ini karena dua hal :
➡️ Yang pertama: mereka hanya syirik atau berdoa kepada selain Allah dalam keadaan lapang saja.
Bahwasanya orang-orang dahulu tidak melakukan kesyirikan, tidak menyembah dan berdo’a kepada malaikat, para wali dan berhala-berhala disamping menyembah dan berdoa kepada Allah kecuali dalam keadaan senang.
Sedangkan di waktu susah mereka mentuluskan ibadah dan do’a mereka kepada Allah Ta’ala. Seperti firman Allah:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan adalah manusia itu selalu tidak berterima kasih”. (Al Israa’ :67).
Dan firman Allah:
قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ. بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ
Katakanlah: “Bagimana pendapat kalian jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. (Tidak) bahkan hanya Dialah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang kamu berdo’a kepadanya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sesembahan-sesembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)”. (Al An’aam: 40-41).
Dan Allah berfirman:
وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia memberikan nikmat- Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu- sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu, sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Az Zumar: 8).
Dan firman Allah Ta’ala:
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Luqman: 32).
Dalam tafsir Al Baghowy dan lainnya, para ulama bawa riwayat dari ikrimah maula (murid). Ibnu Abbas radhiyallahu anhu. – Allah gambar kan ngeyel nya orang-orang musyrikin.
Ikrimah berkata orang-orang musyrikin ketika berlayar bawa patung mereka untuk disembah namun dalam kondisi genting mereka Ikhlas berdoa hanya kepada Allah.
Ikrimah bin Abu Jahal (yang sudah masuk Islam) : kisah masuk Islam nya dan ikhlas berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kisah Abdul Muthalib saat 200 unta nya dirampas Abrahah dan menemui Abrahah untuk mengambil unta dan mengatakan bahwa Kabah itu milik Allah
Dan Abdul Muthalib pun berdoa kepada Allah supaya menjaga rumah Allah – Ka’bah.
Begitu juga dalam perang Badar, musyrikin Quraisy juga berdoa hanya kepada Allah.
➡️ Kesyirikan terjadi lebih parah pada Jaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu karena dalam kondisi genting justru melupakan Allah.
Justru bersandar kepada wali-wali mereka.
Imam ASY syaukani (yang hidup di Yaman)
Juga mengatakan bahwa dalam kondisi genting musyrikin berdoa kepada mayat-mayat.
As Singqity (Mauritanya) – menyatakan hal yang sama. Yaitu kondisi genting mereka bersandar kepada mayat-mayat orang sholeh.
Maka, barang siapa yang paham masalah yang sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya ini, yaitu: bahwasanya orang-orang musyrik yang diperangi Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam itu mereka berdo’a (menyeru kepada) Allah dan berdo’a pula kepada selain Allah dalam keadaan senang, sedangkan di waktu ditimpa bahaya dan susah, mereka hanya berdo’a kepada Allah semata, tiada sekutu baginya, dan mereka tinggalkan para penghuni kubur yang selalu mereka seru “Ya sayyidi, ya sayyidi”, dengan demikian semakin teranglah baginya perbedaan antara bentuk syirik orang-orang zaman kita dan bentuk syirik orang-orang dahulu.
Namun mana orang yang hatinya paham masalah ini dengan pemahaman yang dalam? Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan (untuk menuju ibadah yang sebenarnya kepada-Nya).
Maka jelas lah kesyirikan yang terjadi jaman sekarang dan jaman dahulu.
➡️ SISI KEDUA – kaum musyrikin dahulu hanya sembah makhluk yang sholeh (Nabi, Wali, malaikat) adapun musyrikin jaman penulis – berdoa kepada wali-wali yang mereka yakini lakukan kefajiran.
Bahwasanya orang-orang dahulu (musyrikin) itu, disamping menyembah Allah, mereka berdo’a kepada orang yang sangat dekat di sisi Allah, baik itu para nabi (Yahudi, Nasrani) atau para wali ataupun malaikat. Dan juga mereka menyembah (berdo’a) kepada pepohonan dan batu-batu yang semua itu tunduk dan taat kepada Allah, tidak maksiat kepada-Nya.
♦️ Sedangkan orang-orang zaman kita, disamping menyembah Allah mereka berdo’a kepada orang-orang yang tergolong manusia paling fasiq, dan orang-orang yang mereka seru itu justru orang-orang yang mereka sebut-sebut sendiri banyak melakukan kejelekan –kejelekan; mulai dari berzina, mencuri, meninggalkan shalat dan lain-lain.
Orang yang beri’tiqad terhadap orang shalih dan sesuatu yang tidak maksiat kepada Allah seperti kayu dan pohon, tentunya *lebih ringan* dari pada orang yang beri’tiqad terhadap orang yang ia sendiri melihat kefasikan dan kerusakannya, dan ia menyaksikan dengan jelas.
➡️ Kritik – sembahan orang musyrikin dahulu ada yang fajir – berzina dan dirubah jadi patung (Isaac dan Nailah)
➡️ Sebagian orang-orang sekarang meyakini makhkuk yang mereka sembah punya kemampuan rububiyah.
Orang Quraisy meyakini Latta Uza tidak punya kemampuan Rububiyah.
Sebagian mereka yakin Abdul Qadir Al Jilani diberi kemampuan KUN (fa ya kun) oleh Allah
➡️ Sebagian musyrikin sekarang samakan yang mereka sembah punya ilmu seperti ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila sudah jelas bagi anda, bahwasanya orang-orang yang pernah diperangi Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang paling ringan kesyirikannya dari orang-orang musyrik sekarang, maka hendaklah anda tahu, sesungguhnya mereka mempunyai syubhat yang mereka kemukakan sebagai jawaban terhadap apa yang sudah kami sebutkan, dan syubhat ini adalah syubhat yang terbesar. Makanya pusat pendengaran anda baik-baik terhadap jawaban dari syubhat itu.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

