This entry is part 19 of 32 in the series AlKabaair

Diterbitkan pertama kali pada: 14-Nov-2020 @ 06:12

6 menit membaca

📖 Syarah Kitab AL KABAAIR BAB #51 dan #52
👤 Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc
🗓️ 28 Rabi’ul Awal 1442H

Dimulai dengan doa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Mari kita mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk hari akhirat kelak, jangan meremehkan amalan yang kecil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud)

🔵 51.Menyakiti & Memushui Para Wali Allah

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa alasan /kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
Qs Al Ahzab: 58.

بُهْتَانًا
Lebih keji dari pada ghibah..

Membawa 2 jenis dosa:

✅1. Dosa menggunjing
✅2. Dosa berbohong

Definisi Wali Allah

Wali Allah diketahui oleh Allah.

{أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64) }

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 10:62)

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. 10:63)

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. 10:64)” (Yunus: 62-64)

Secara lahiriah wali Allah dijaga dari ketergelinciran dosa. Bukan dilihat dari pakaian, harus keturunan, bukan dari pengikut, bukan dari hartanya..

Wali Allah tidak mencari pengikut, mereka hanya mencari kehidupan akhirat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ

Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya.

dalam lafazh lain, disebutkan,

“Berarti dia telah dengan terang-terangan memerangi-Ku” (HR Bukhari).

Dosanya besar, yaitu Allah ancam dengan perang.

🔵 52. Melakukan ISBAL

Isbal adalah menjulurkan kain melebihi batas.
Imam Dzahabbi mengatakan, “Isbal adalah dosa besar dengan Menjulurkan kain baik disertai kesombongan ataupun tidak.”

Allah berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Qs Luqman ayat 18.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)

Peringatan ini untuk laki-laki..
Kain tersebut bisa jubah, sarung, celana dll.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً

“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari 5788)

Perbedaan dengan hadits sebelumnya, pada hadits ini ada ancaman lebih (selain di neraka).

Artinya larangan ini bersifat mutlak. (Hadits dari Abu Hurairah)

Pada hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim, 106)

✔️Ada 4 ancaman sekaligus..

1. Allah tidak ajak bicara
2. Allah tidak pandang
3. Tidak disucikan
4. Siksaan yang pedih.

✔️Dan mereka adalah:

1. Al Musbil = orang yang isbal
2. Al Manan, suka sebut2 pemberian
3. Pedagang yang suka lariskan dengan sumpah palsu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” [HR Bukhari dan Muslim]

Kesombongan itu dalam hati, namun bisa terindikasi dari lahirnya.

Makna hadits tersebut ada siksa kubur untuk orang-orang yang isbal.

Dari Abdullah bin Amr, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

Para ulama menjelaskan isbal itu identik dengan kesombongan.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

الإسبال في الإزار والقميص والعمامة من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة

“Isbal itu hanya ada pada kain sarung celana, baju dan kain tutup kepala (surban). Barangsiapa yang menyeretnya (melebihi ukurannya) dengan kesombongan, Maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat kelak” HR Abu Dawud (Hasan).

Isbalnya sorban adalah ketika buntut sorban melebihi dari adat kebiasaan,karena isyaratkan kesombongan. (Ibnu Hajar)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(إياك وإسبال الإزار فإنها من المخيلة وإن الله لا يحب المخيلة)

“Tinggalkan isbal karena isbal itu bagian kesombongan padahal Allah tidak mencintai kesombongan” (HR Bukhari, HR Ahmad dan Abu Daud).

Menjulurkan pakaian dibawah mata kaki adalah bagian kesombongan dijelaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hadits lain (ada khilaf dari sisi keshahihannya)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّى مُسْبِلاً إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ ». فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ ثُمَّ قَالَ « اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ ». فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ « إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang yang shalat dalam keadaan isbal -celananya menjulur di bawah mata kaki-. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata padanya, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Lalu ia pergi dan berwudhu kemudian ia datang kembali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berkata, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memerintahkan padanya untuk berwudhu, lantas engkau diam darinya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Ia shalat dalam keadaan isbal -menjulurkan celana di bawah mata kaki-, padahal Allah tidak menerima shalat dari orang yang isbal.” (HR. Abu Daud no. 4086.).

Sekali lagi hadits ini diperdebatkan, dan Imam Dzahabbi termasuk Ulama yang menguatkan hadits ini, sesuai syarat dari Imam Muslim. (Hasan Shahih).

Urusan diterima tidaknya sholat ada pada Allah, yang jelas ada larangan isbal.

Dalam hadits lain, Abu Bakar pakaian nya melorot…

من جر ثوبه من الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر: إنه يسترخي [أحد شقي] إزاري أحيانا [إلا أن أتعاهد ذلك منه]. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست منهم (رواه أحمد والبخاري)

0Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menoleh ke Abu Bakar, seraya mengatakan: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat kepadanya ”. Mendengar hal itu, Abu Bakar bertanya: “Sungguh salah satu dari sisi sarungku terkadang terjulur, akan tetapi aku selalu menjaganya agar ia tak terjulur”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Kamu bukanlah termasuk dari mereka” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Hadits ini sering dijadikan sandaran orang yang melakukan isbal.
Padahal Lafazh hadits jelas, karena Abu Bakar orang nya kurus dan pakaian nya mudah melorot. Dan sudah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jelaskan.

Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, menjelaskan sebab dari Abu Bakar begitu karena

1. lurus dan ikatan yang tidak kencang.

2. Dan Abu Bakar mengatakan kecuali kalau Aku selalu mengawasi…. Artinya tidak membiarkan.

Berbeda dengan orang yang sengaja isbal.

3. Apapun yang terjadi pada Abu Bakar sudah ada kesaksian Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ini wahyu Allah dan ini kebenaran.

4. Isbal tanpa kesombongan terlarang dan bila ada kesombongan ada ancaman lebih.

Begitu juga penjelasan oleh Ibnu Abdil Barr.

Isbal itu ada mirip dengan wanita karena asal pakaian wanita adalah panjang.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkap ” Satu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)

Hasta = ujung jari sampai siku.
Terlihat bahwa seorang laki-laki yang pakaian nya panjang ada keserupaan dengan perempuan.

Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda:

إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين, ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار, من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه. (رواه أبو داود وقال الألباني صحيح)

Sarung seorang muslim adalah sebatas pertengahan betis, dan tidak mengapa sarung yang berada antara batas tersebut hingga mata kaki. Adapun yang lebih rendah dari mata kaki, ia di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur, maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti). (HR. Abu Dawud, dan Albany mengatakan: shohih)

Dalam hadits dari Imam Muslim,
Ibnu Umar bercerita, “Saya melewati Rasulullah dan sarungku isbal, maka Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam berkomentar: “Wahai Abdullah, angkat sarungmu!”. Aku pun mengangkatnya. “Angkat lagi!”,kata beliau lagi. Maka aku pun tambah mengangkatnya. Setelah itu, aku selalu memperhatikan sarungku (agar tidak isbal)”. Sebagian orang menanyakan: “Sampai mana (engkau mengangkat sarungmu)?”. Ibnu Umar menjawab: “Hingga tengah dua betis” (HR: Muslim 5429)

Inilah pengajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.

Sesunguhnya ada juga bahasan, batasan lengan baju, tidak melebihi pergelangan tangan.

##$$-aa-$$##

Digita Template

AlKabaair

ALKABAAIR # PUNGUTAN LIAR & RIYA Syarah Kitab Al Kabaair#Bab 53 dan #54 (Larangan emas sutra bagi lelaki dan budak yang melarikan diri)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?