This entry is part 6 of 32 in the series AlKabaair

Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 18:56

6 menit membaca

Kitab Al Kaba’ir (Imam Adz Dzahabi) – Dosa2 besar – Bab 39 *Tukang Melaknat *
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
17 Dzulqaidah 1440 H

Alhamdulilahi alladzi bini’matihi tatimu shalihaat, Allah telah memberi kita sangat kebaikan yang banyak (shalat subuh, menuntut ilmu) sementara diluar sana banyak orang yang susah membuka matanya.

Allah menjelaskan bahwa manusia banyak yang berbuat dzalim dan kufur, dan sangat sedikit yang bersyukur..

Sahabat, Hudzaifah Ibnu Yaman, “kita belajar kebaikan untuk berlomba berbuat kebaikan , dan belajar keburukan untuk menghindari keburukan”.

Bahkan para sahabat mengatakan kepada para tabi’in, bahwa dosa-dosa kecil yang para tabi’in lakukan dianggap sebagai dosa besar. Menunjukkan bahwa para sahabat sangat takut berbuat dosa walaupun dosa kecil.
Mereka takut untuk melakukan keburukan yang mungkin tidak mereka sadari.
Mereka, para sahabat, sangat takut berbuat munafik.

*Dosa 39 – Tukang Laknat*

Allah memberikan kasih sayang kepada semua hamba-hamba-Nya baik yang kafir atau pun yang mukmin.

Laknat Allah, maksudnya menjauhkannya dari kasih sayang Allah..

Laknat manusia kepada manusia maksudnya adalah mencaci, merendahkan dan menistakan.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

“Pelaknatan terhadap seorang mukmin seperti membunuhnya” [HR Bukhari dan Muslim].

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم :”سِبَابُ اَلْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu Mas‘ud Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mencela seorang muslim adalah sebuah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Walaupun orang yang dicaci kelihatan tidak marah, namun kita tidak bisa tahu dalam hatinya.

Jangan mudah melaknat orang sebagai kafir dll.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Orang-orang yang suka melaknat tidak memiliki pemberi syafaat dan orang yang bersaksi (untuk mereka) pada hari kiamat.” HR Bukhari dan Muslim.

Mudah untuk mencaci akan menjadi penghalang untuk mendapatkan syafaat di akhirat kelak.

Beberapa ayat diperbolehkan mengutarakan laknat.

1. Sebab kekufuran, Qs Al ahzab (sebagai pelaku, bukan menghukumi individu)

2. Sebab kefasikan, misal LGBT, wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya yang ada dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

3. Perbuatan bid’ah. Yang pertama kali sebut kata bid’ah adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yaitu dalam wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada para shahabat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)

“Barangsiapa berbuat bid’ah di dalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya” (Muttafaq ‘Alaih).

Meskipun lafaz nya ada kata Madinah namun menurut para ulama, ini berlaku umum.

Perlu diingat bahwa ini laknat pelaku secara umum, bukan menghukumi secara individu.

Bolehkan melaknat yahudi? Boleh..

Karena Allah pun menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya.

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسرَٰءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبنِ مَريَمَ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعتَدُونَ. كَانُواْ لَا يَتَنَاهَونَ عَن مُّنكَر فَعَلُوهُ لَبِئسَ مَا كَانُواْ يَفعَلُونَ

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS. Al-Maidah: 78-79).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ ۚ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ:

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah
terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Qs Al Maidah 64.

Juga para sahabat juga telah melaknat kaum Qadarriyah, Jahmiyah dan Khawarij.. Secara umum, bukan tunjuk hidung secara individu.

Beberapa cara pemahaman.. Oleh para ulama.

1. Apabila ada dalil seakan-akan boleh membolehkan melaknat secara individu (ada kelompok dalil yang boleh dan ada dalil yang melarang) maka dipahami para ulama adalah tidak boleh secara individu.

2. Ada yang gabungkan bila maknanya menjauhkan rahmat Allah maka itu boleh ditujukan kepada kafir.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

لَا يَنْبَغِي لِلصَّدِيقِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak sepantasnya seorang yang shiddiq itu suka melaknat.” HR Muslim.

Orang mukmin itu menjaga akhlak.
Laknat kita akan kembali ke diri kita sendiri…

Motivasi berbuat akhlak yang baik..

1. *Akhlaq mulia adalah timbangan yang paling berat.*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”

2. *Tempat duduk dekat dengan Rasulullah* shallallahu alaihi wasallam di surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

Laknat itu akan kembali kepada yang mengutarakannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا

“Ketika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit. Kemudian semua pintu langit akan tertutup tidak menerimanya. Lalu laknat ini turun ke bumi, dan semua pintu bumi tertutup tidak menerimanya, lalu dia kebingungan ke kanan dan ke kiri. Setelah dia tidak punya ruang, maka dia menuju yang dilaknat. Jika laknatnya benar sasaran maka dia mengarah ke sana. Jika laknatnya tidak benar maka kemabali ke orang yang melaknat. (HR. Abu Daud 4907 dan dihasankan al-Albani).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang dalam safar beliau ada sesuatu yang sudah dilaknat, misalnya unta yang dilaknat oleh pemiliknya. Larangan ini khusus untuk safar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda

“إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الِاسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ”

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar adalah merusak kehormatan seorang Muslim dengan tanpa hak”. [HR. Ahmad, no. 1651; Abu Dawud, no. 4876. Dishahihkan Syaikh Al-Albani]

##$$-aa-$$##

AlKabaair

ALKABAAIR # 41 – MEMBENARKAN DUKUN DAN AHLI NUJUM ALKABAAIR # 36 (MENGUNGKIT KEBAIKAN) – 37 (TIDAK BERIMAN KEPADA TAKDIR)-38 (MENGUPING PEMBICARAAN)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?