Syarah Kitab AL KABAAIR : 67 -Mengurangi timbangan dan takaran & 68-Merasa aman dari siksaan Allah
- Syarah Kitab Al Kabaair #Bab 50 Mengganggu Kaum Muslimin dan Mencaci-maki Mereka
- Syarah Kitab Al Kabaair #49- MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR
- ALKABAAIR # 48 (SEMENA-MENA)
- ALKABAAIR#45 (ADU DOMBA) 46 (MERATAP DAN MENAMPAR MUKA SENDIRI)
- ALKABAAIR # 41 – MEMBENARKAN DUKUN DAN AHLI NUJUM
- Syarah Kitab AL KABAAIR : 67 -Mengurangi timbangan dan takaran & 68-Merasa aman dari siksaan Allah
- ALKABAAIR # 39 – TUKANG MELAKNAT
- ALKABAAIR # 36 (MENGUNGKIT KEBAIKAN) – 37 (TIDAK BERIMAN KEPADA TAKDIR)-38 (MENGUPING PEMBICARAAN)
- ALKABAAIR #34 (KHIANAT) – 35 (SEMBUNYIKAN ILMU)
- ALKABAAIR#29 (Yang Menhalalkan dan dihalalkan untuknya)-30 (Makan Bangkai, minum Darah, daging Babi)-31(Tidak Bersuci)
Diterbitkan pertama kali pada: 10-Apr-2021 @ 06:22
3 menit membaca📖 *Syarah Kitab AL KABAAIR*
⏩#67 Mengurangi timbangan dan takaran
⏭️ #68 Merasa aman dari siksaan Allah
👤 Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc
🗓️ 28 Syaban 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (online)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Kita belajar kitab dosa besar, supaya kita mengetahui keburukan supaya kita terhindar keburukan tersebut.
➡️6️⃣7️⃣ MENGURANGI TIMBANGAN DAN TAKARAN
Peringatan ini berlaku untuk penjual dan pembeli, ini terkait dengan kejujuran.
Allah berfirman,
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6)
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?
QS Al-Muthaffifin, ayat 1-6
Wail, dimaknai sebagai peringatan serius. Maknanya adalah celaka atau nama lembah dalam neraka.
Al-Muthaffifin adalah orang-orang yang curang, ingin untung sendiri sedangkan orang lain merugi.
Ada ancaman serius dalam kecurangan ini.
Kecurangan ini berlaku umum, apa saja.
Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan termasuk curangnya suami dan istri.
Menuntut hak yang berlebih kepada pasangannya namun tidak jalankan kewajiban.
Juga terkait perusahaan dan karyawan, pemimpin dan orang yang dipimpin.
Kaum muslimin terikat dengan kesepakatan diantara mereka (hadits).
Dalam ayat lain, Allah berfirman,
وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Qs Hud ayat 85.
Bila penguasa telah menetapkan aturan yang tidak bertentangan dengan syariat, maka harus dipenuhi demi kemaslahatan umum.
Menerobos lampu merah, lewat bahu jalan dengan kendaraan adalah termasuk mengurangi hak orang lain.
Ingat, ada balasan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Dan sempurnakanlah takaran apabila kalian menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itilah yang lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (Al-Isra: 35)
Semoga Allah menyelamatkan kita dari sifat kecurangan baik yang kita sadari atau tidak, sehingga kita dibangkitkan dalam keadaan tidak ada hak orang lain yang kita dzalimi.
Curang juga bermakna mencuri, Khianat dan ambil harta dengan cara yang dzalim (hadits secara makna)
➡️6️⃣8️⃣ MERASA AMAN DARI SIKSAAN ALLAH
Orang yang beriman tentu tidak merasa aman dari siksa Allah.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga demikian.
Dan diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata,
“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu ‘Aisyah bertanya, ‘Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’
Lalu beliau ﷺ menjawab,
أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا.
‘Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur.’”
HR Bukhari.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَاَ مِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)?
Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 99)
Tidak ada jaminan kita akan selamat di akhirat kelak.
Bukti kasih sayang Allah bukan semata-mata materi, bahkan banyak yang tidak merasa diulur-ulur oleh Allah.
Firaun, Hamam, Namrud, Qarun, putra Nabi Nuh adalah contoh orang yang kepedean dan Allah azab serta diabadikan di dalam Al Qur’an.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَا بَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِ ذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka.
Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba,
maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 44)
Itulah siksa Allah kepada orang-orang telah Allah abadikan dalam Al Qur’an.
Istidraj adalah tanda kebinasaan bagi manusia sebelum kebinasaan di akhirat kelak.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَآءَنَا وَرَضُوْا بِا لْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَا طْمَاَ نُّوْا بِهَا وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,” (QS. Yunus 10: Ayat 7)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُولٰٓئِكَ مَأْوٰٮهُمُ النَّا رُ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
“mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan.”
(QS. Yunus 10: Ayat 8)
Kaum muslimin bila berjihad yang dicari adalah kematian di jalan Allah, sedangkan kaum kafir berperang untuk hidup (di dunia).
Orang-orang dengan sifat ini (merasa aman dari siksa) terancam ditempatkan di neraka.
##$$-aa-$$##

