Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin)
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #1
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin)
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #3 Adab Makan
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #5 Adab Tidur
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #6 Adab Bersin
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #7 Adab Menguap
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #9 ADAB DI JALAN
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #10 – Adab Berpakaian
Diterbitkan pertama kali pada: 16-Agu-2020 @ 10:52
6 menit membacaSyarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin) dari
(Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamad Al ‘Ushaimiy)
Ustadz Dr Abdullah Roy, Lc M.A.
26 Dzulhijjah 1441 H / 16 Agustus 2020
ADAB KE-2. ADAB MEMINTA IZIN
Yang disebutkan oleh Syaikh adalah yang paling penting..
Apabila engkau masuk kepada seseorang maka hendaklah engkau meminta izin dalam keadaan engkau berdiri di sebelah kanan pintu atau sebelah kiri pintu..
Ini menunjukkan kita yang ingin masuk..
Adab diatas adalah menunjukkan aturan masuk ruangan yang tertutup pintunya, supaya terjaga aurat nya.
Seseorang adalah umum, termasuk mahram kita.
Meminta izin maksudnya untuk masuk.
Di sunnahkan untuk tidak depan pintu supaya bila pintu terbuka kita tidak melihat sesuatu yang dilarang..
Diriwayatkan dari Abdullah bin Bisyr, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَي بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلِ البَابَ مِنْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الأَيْمَنِ أَوْ الأَيْسَرِ وَيَقُوْلُ “السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ”
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah orang, Beliau tidak berdiri di depan pintu, akan tetapi di samping kanan atau samping kiri, kemudian Beliau mengucapkan salam “assalamu ‘alaikum, assalamu ‘alaikum”, karena saat itu rumah-rumah belum dilengkapi dengan tirai”. [Hadist riwayat Abu Dawud].
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“هَكَذَا عَنْكَ – أَوْ هَكَذَا – فَإِنَّمَا الاِسْتِئْذَانُ مِنَ النَّظَرِ”
“Menyingkirlah dari depan pintu, sesungguhnya meminta izin disyari’atkan untuk menjaga pandangan mata”.
Dan jangan mengintip ke dalam rumah..
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“لَوْ أَنَّ امْرَأً اِطْلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفَتْهُ بِحُصَاةٍ فَفَقَأَتْ عَيْنُهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ”
“Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu”. [Hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim].
Dalam hadits lain disebutkan,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ مِنْ بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ أَوْ بِمَشَاقِصَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَخْتِلُ الرَّجُلَ لِيَطْعُنَهُ
“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang ntuk menusuk orang itu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)
Bila sudah diizinkan masuk berarti pemilik rumah sudah siap menerima tamu…
Apabila dikatakan kepada kalian “kembalilah” (mungkin dengan kata lain tetapi makna nya sama), maka hendaklah kalian pulang.
Ada udzur untuk menolak tamu dan itu hak kita..
Jangan ngeyel… Adabnya kita segera kembali, ini adalah perintah Allah..
Bukan berarti orang tersebut tidak mau menerima kita dan kita tidak boleh suudzon kepada nya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan berdiri di sebelah kanan atau kiri pintu… Maka kita berdiri di posisi yang tepat supaya saat pintu dibuka tidak terlihat aurat atau sesuatu yang dilarang. Ada sebagian orang membalikkan badan.
Hukum meminta izin ini disyariatkan, dan hukumnya wajib..
Allah berfirman,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27) فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (28) لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ (29) }
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian merasa nyaman (tuan rumah siap) dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat.
Jika kalian tidak menemui seseorang di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin.
Dan jika dikatakan kepada kalian, “Kembali (saja)lah?, “maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Tidak ada dosa atas kalian memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiamib (toko misalnya) , yang di dalamnya ada keperluan kalian, dan Allah mengetahui apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian sembunyikan. Qs An Nur ayat 27-29.
Kewajiban bisa gugur dengan sebab, misalnya ada kebakaran rumah, penggerebekan dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.
Dulu para salaf bila bertamu dan diminta kembali oleh pemilik rumah maka mereka gembira, karena bisa mengamalkan perintah Allah.
ADAB meminta izin
1. Ucapkan salam sebelum meminta izin
Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,
“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)
Bahkan ada atsar, yang menyatakan larangan masuk rumah tanpa ada ucapan salam.
Begitu juga ucapan Abu Hurairah bahwa meminta izin masuk rumah harus dengan kunci yaitu ucapan salam.
2. Meminta izin itu sampai 3x
Bila tidak ada izin maka kita pulang
Tiga keadaan kita ucapkan salam dan minta izin :
1. Dijawab dan silakan masuk
2. Ada jawaban tapi menolak, maka pulang
3. Tidak ada jawaban maka pulang
Meskipun kita dengar suara dari dalam mungkin mereka dalam keadaan tidak siap menerima tamu dan tidak tega mengatakan kepada kita.
Jangan berburuk sangka, marah dan berharap pahala kepada Allah.
3. Tidak berturut ketika meminta izin, ada jeda. Begitu juga bel pintu.
4. Mengetuk pintu dengan pelan dengan suara yang tidak keras.
Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam qs Al Hujurat,
{إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ (4) وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5) }
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maka, hendaknya ketukan itu adalah ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan pemilik rumah. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu,
إن أبواب النبي صلى الله عليه وسلم كانت تقرع بالأظافير
“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)
5. Memperkenalkan diri.. Saat bertamu..
Dengan memperjelas siapa kita, supaya pemilik rumah ambil sikap yang tepat.
Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas.
Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ مَنْ ذَا فَقُلْتُ أَنَا فَقَالَ أَنَا أَنَا كَأَنَّهُ كَرِهَهَا
“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Juga adab yang diajarkan malaikat Jibril saat membawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Mi’raj dan menjelaskan kepada malaikat penjaga langit.
6. Iin kepada mahram..
Di dalam kitab Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Muslim bin Nadzir, bahwasanya ada seorang laki laki bertanya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman: “Apakah saya harus meminta izin ketika hendak masuk menemui ibuku?” Maka ia menjawab: “Jika engkau tidak meminta izin, niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tidak engkau sukai.” [Hadits mauquf shahih].
7. Ketika pulang juga meminta izin dengan ucapan salam
Dalam sebuah hadits disebutkan,
إذا انتهى أحدكم إلى المجلس فليسلم فإذا أراد أن يقوم فليسلم فليست الأولى بأحق من الآخرة رواه أبو داود: 5210، والترمذي: 2706، وأحمد: 9662، وصححه الألباني في صحيح الجامع: 400].
Apabila salah seorang diantara kalain selesai bermajelis maka hendaklah dia mengucapkan salam, maka apabila dia ingin berdiri hendaklah dia mengucapkan salam, karena yang pertama tidak lebih berhak daripada yang terakhir (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Al Albani)
Hadits lain,
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا زَارَ أَحَدُكُمْ فَلا يَقُومُ حَتَّى يَسْتَأْذِنَهُ ”
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian berziarah (mengunjungi seseorang), janganlah ia berdiri hingga meminta izin (kepada tuan rumah) terlebih dahulu” [Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Thabaqaatul-Muhadditsiin bi-Ashbahaan no. 356; sanadnya shahih].
8. Memberikan isyarat.
Ini untuk kehati-hatian.. Misalnya dengan dehem..
9. Memilih waktu yang tepat dalam bertamu..
Misalnya yang sesuai kebiasaan
Berkaitan dengan meminta izin di dalam rumah, bila ingin masuk ke kamar orang tua..
Seorang anak yang sudah balig, mumayyiz, dan berakal wajib meminta izin kepada orangtuanya bila hendak masuk ke kamar khusus keduanya. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai kedua matanya melihat sebagian dari aurat kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya, atau melihat pemandangan yang tidak mengenakan perasaannya atau perasaan kedua orangtuanya.
Karena itu, ada kondisi dan waktu yang mengharuskan seorang anak meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki ruang khusus orangtuanya. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.
وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (laki-laki dan perempuan) yang kami miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu 3 kali (dalam sehari). Yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu.
Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tigas waktu) itu. Mereka melayani kami, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58-59).
##$$-aa-$$##


