Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #1
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin)
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #3 Adab Makan
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #5 Adab Tidur
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #6 Adab Bersin
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #7 Adab Menguap
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #9 ADAB DI JALAN
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #10 – Adab Berpakaian
Diterbitkan pertama kali pada: 30-Agu-2020 @ 11:19
9 menit membacaSyarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
(Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamad Al ‘Ushaimiy)
Ustadz Dr Abdullah Roy, Lc M.A.
11 Muharam 1442H
Alhamdulilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi banyak kenikmatan dunia ataupun agama baik yang kita sadari ataupun tidak.
Keempat : Berbicaralah dengan ucapan yang baik dalam kebaikan, rendahkan suaramu, pelan-pelan dalam berbicara, diamlah ketika orang berbicara kepadamu, menghadaplah kepadanya, jangan memotong pembicaraan, dan jangan mendahului yang lebih tua
Setiap muslim hendaknya paham adab berbicara, karena bisa menjadi sebab saling mencintai sesama muslim.
Perseturuan bisa disebabkan karena lisan yang buruk bahkan bisa jadi sebab masuk ke neraka.
Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang, di akhir hadits disebutkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ
“Maukah Engkau aku kabarkan dengan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?”
Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.”
Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda,
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا
“Tahanlah (lidah)-mu ini.”
Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”
Beliau menjawab,
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi no. 2616, dinilai shahih oleh Al-Albani)
1. Berkatalah dengan perkataan yang baik dalam kebaikan
Perkataan yang baik: perkataan yang selamat dari kejelekan/keburukan.
Allah anugerahkan kita dengan 2 bibir dan lisan yang dengannya ada banyak kemudahan.
Termasuk bersyukur atas anugerah lisan dan bicara adalah dengan perkataan yang baik.
Keburukan bisa sampai kesyirikan, atau pun tidak (bisa sampai ke dosa besar)
Kebaikan: sesuatu yang dianjurkan dari sisi syari’at (baca Al Qur’an dll) atau kebiasan manusia (urf atau adat istiadat)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia mengucapkan yang baik atau diam (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Beriman bahwa Allah Maha Mendengar dan nanti di akhirat ada balasan atas perbuatan kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawasi dan Maha Mendengar.
Diam menahan bicara yang buruk, ini termasuk iman. Diam karena Allah bisa mendapatkan pahala yang besar.
Bukan diam pada kemungkaran, sebagian salaf mengatakan diam pada kemungkaran adalah seperti syetan yang bisu.
Pertanyaan yang biasa tapi membawa rasa nyaman, senang, maka ini juga berpahala yang besar.
Apa yang dimaksud ucapan yang jelek? Yaitu yang tidak selamat dari kejelekan.
Misalnya
+ ghibah..
Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat (aib) mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad}
+ adu domba, dengan suudzon.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba.
+ tidak boleh dusta, ucapan yang selisih kenyataan. Kejujuran akan bawa kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).
Dan kebohongan akan membawa kepada keburukan dan keburukan akan membawa ke neraka.
Dusta akan menjerumuskan dusta yang lain.
Dan dusta adalah salah satu ciri orang yang munafik.
+ ucapan jorok.
Karena Rasullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, HR Ahmad)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencontoh kata jima’ dengan kata yang lain (lams atau kata yang lain).
.
+ Dilaranga sumpah palsu
: (( إن الله ينهاكم أن تحلفوا بآبائكم فمن كان حالفاً فليحلف بالله أو ليصمت
Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak2 kalian (syirik).
Sumpah harus dengan nama Allah dan yang kita ucapkan jujur.
+. Perkara yang tidak bermanfaat.
Harus ucapan yang membawa manfaat.
{ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3) } المؤمنون
Sungguh beruntung orang yang beriman, yaitu berpaling dari perkara yang tidak bermanfaat.
2. Merendahkan suara
Yang pertama adalah tentang isi dan ini tentang cara.
Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya tentang adab berbicara.
﴿ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ ﴾ [لقمان: 19].
Dan rendahkanlah suaramu, sesungguhnya suara yang paling jelek adalah suara keledai (QS. Luqman: 19)
Berucap dengan suara yang sekedarnya.
Sifat suara keledai yang paling mungkar : keras.
Apabila diperlukan maka tidak masalah
Hikmah: menunjukkan penghormatan
3. pelan-pelan di dalam ucapan, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
Pelan : tartil, bisa dipahami.
Dalam sebuah hadits,
عَنْ عَائِشَةَ – رضي الله عنها: (أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لأَحْصَاهُ)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bila berbicara, seandainya ada yang menghitung kata-kata beliau niscaya dia bisa menghitungnya (HR. Al Bukhari)
Pelan dan tidak menumpuk kata.
Hikmahnya: supaya bisa dipahami dan lebih jauh dari kesalahan (bisa berfikir).
Dalam sebuah hadits,
عن عائشة -رضي الله عنها- قالت: “كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ“،
Dari Aisyah beliau berkata: Dahulu ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ucapan terputus-putus (tidak menumpuk), dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. (HR. Abu Dawud, dihasankan Syeikh Al Albani))
Ilmu dengan belajar, hilm (sifat tidak mudah marah) diperoleh dengan berusaha dan bersabar.
Tujuan bicara adalah dipahami oleh orang yang diajak berbicara.
Bukan berarti terlalu pelan atau terlalu cepat
Ini bisa diusahakan dengan berlatih.
Pelan sekali tidak menunjukkan kewibawaan
Cepat tidak menunjukkan kecerdasan.
4. Inshat ketika orang lain berbicara
Inshat = lisan diam, telinga mendengarkan, hatinya fokus. (gabungan tiga perkara).
Memotong pembicaraan adalah adab yang buruk.
Mendengarkan dengan baik, apalagi dalam majelis ilmu.
وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah (inshat) dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
Ahlussunnah menjaga adab dalam berbicara dan ahlul bidah suka memotong pembicaraan.
Hikmah inshat :
— Penghormatan
— menyempurnakan ucapan
– mengambil Faidah.
5. Badan menghadap kepada lawan bicara bukan kesamping atau membelakangi
Hikmah: penghormatan
6. Jangan memotong ucapannya
memotong pembicaraan orang lain sebelum dia menyelesaikan pembicaraannya, sehingga orang lain tersebut tidak bisa menyampaikan maksudnya*
Dalam sebuah hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُحَدِّثُ. [أي: لم يقطع حديثه] فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ، فَكَرِهَ مَا قَالَ… الحديث. رواه البخاري.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah majelis berbicara kepada sebuah kaum, datang seorang arab badui (sifat nya kurang sopan dan bicara keras), kemudian berkata: Kapan terjadi hari kiamat?
Maka Nabi meneruskan pembicaraannya (tidak menghentikan pembicaraan beliau), maka sebagian berkata: Nabi mendengar apa yang orang badui ucapkan dan membenci yang yang dia ucapkan…(HR. Al Bukhari)
Ini menunjukkan memotong pembicaraan adalah bukan adab yang Islami.
7. Jangan mendahului orang yang lebih tua
Meskipun kita lebih punya ilmu, kita dahulukan mereka.
Dalam sebuah hadits,
عَنْ زَرْبِيٍّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبْطَأَ القَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا»
Dari Zarbi: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Datang orang tua ingin bertemu Nabi, maka mereka agak lambat dalam memberikan keluasan tempat bagi orang tersebut, maka Nabi berkata: Bukan termasuk golongan kami orang yang sayang kepada anak kecil, dan tidak menghormati yang lebih besar.
Dan sebuah hadits yang lain,
عن سهل بن أبي حثمة، قال: انطلق عبد الله بن سهل، ومحيصة بن مسعود بن زيد، إلى خيبر وهي يومئذ صلح، فتفرقا فأتى محيصة إلى عبد الله بن سهل وهو يتشمط في دمه قتيلا، فدفنه ثم قدم المدينة، فانطلق عبد الرحمن بن سهل، ومحيصة، وحويصة ابنا مسعود إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فذهب عبد الرحمن يتكلم، فقال: «كبر كبر» وهو أحدث القوم، فسكت فتكلما…
Dari Sahl bin Abi Hatsmah beliau berkata: Abdullah bin Sahl dan Muhaishah bin Mas’ud bin Zaid datang ke Khaibar, dan di hari tersebut masih di masa perdamaian, maka keduanya berpisah, dan datanglah Muhaishah kepada Abdullah bin Sahl yang sedang ….datanglah Abdurrahman bin Sahl,Muhaishah dan Huwaishah anak Mas’ud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka majulah Abdurrahmanberbicara, maka Nabi berkata: Dahulukan yang tua, dahulukan yang tua. Dan Abdurrahman adalah yang paling muda, kemudian beliau diam dan keduanya berbicara”
Maksud: Tidak berbicara kecuali yang lebih tua dulu, kecuali dia mempersilakan
Tua ada dua macam:
1. lebih tinggi kedudukan
2. lebih tua umur
Kita lihat kisah Ibnu Abbas yang walaupun kecil tapi boleh berbicara setelah diberi izin karena kedudukan ilmunya.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, “’Umar memasukkanku bersama para sahabat senior yang mengikuti perang Badar. Seolah-olah mereka tersinggung dengan mengatakan, ‘Mengapa Engkau mengajak anak kecil ini, sedangkan kami juga memiliki anak kecil?’ ‘Umar mengatakan, ‘(Kecerdasan) Ibnu ‘Abbas itu sudah kalian ketahui.’”
Pada suatu hari, ‘Umar mengajakku untuk bermusyawarah bersama mereka. Dan aku tahu bahwa tidaklah ‘Umar mengajakku kecuali karena ingin mempertontonkanku di depan mereka.
‘Umar berkata, ‘Apa pendapat kalian tentang firman Allah Ta’ala,
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (QS. An-Nashr [110] : 1)
Sebagian di antara mereka berkata, ‘Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memuji-Nya dan beristighfar, yaitu ketika kita diberikan pertolongan dan kekuatan untuk menaklukkan suatu negeri.’
Sedangkan sahabat yang lain diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
‘Umar berkata kepadaku, ‘Apakah benar begitu, wahai Ibnu ‘Abbas?’
Aku menjawab, ‘Tidak.’
‘Umar bertanya, ‘Lalu apa pendapatmu (tentang ayat tersebut)?’
Aku berkata, ‘Yang dimaksud adalah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada beliau, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila telah datang pertolongan Allah Ta’ala dan kemenangan”; itu adalah tanda wafatmu; “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah Ta’ala dengan berbondong-bondong.” (QS. An-Nashr [110] : 3)
‘Umar berkata, ‘Tidak ada yang aku ketahui (tentang maksud ayat tersebut) kecuali sebagaimana yang engkau katakan.’” (HR. Bukhari no. 4970)
ADAB-adab lain dalam berbicara :
1. Berbicara sesuai pemahaman
علِيٍّ – رضي الله عنه: (حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ)
Ali radhiyallahu anhu mengajarkan, “Berbicaralah dengan orang-orang tentang apa yang mereka ketahui, apakah kalian ini Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR Bukhari)
رواه البخاري. وقول ابن مسعود – رضي الله عنه -: (مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ؛ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً) رواه مسلم
Ibnu Mas’ud berkata : “Tidaklah anda berbicara dengan suatu kaum suatu pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka” HR Muslim.
2. Lembut.
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا ، وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ، فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: لِمَنْ أَطَابَ الْكَلامَ ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ ، وَصَلَّى لِلهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ )
Dari Sahabat Ali , Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya.” Maka seorang badui berkata, “Untuk siapa itu, wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Untuk orang yang baik perkataannya, memberi makan bagi orang lain, terus-menerus berpuasa (puasa Dawud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak.” HR Tarmizdi.
3. Memulai dengan salam
Seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memulai dengan salam.
مَنْ بَدَأَ بِالكَلامِ قَبْلَ السَّلامِ فَلا تُجِيبو
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memulai dengan perkataan sebelum salam, maka janganlan kalian menjawab salamnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani.
4. Menjaga rahasia
Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam bersabda dalam hadits.
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الْحَدِيثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Apabila ada seseorang yang mengajak bicara dan sebelum berbicara dia nengok kanan kiri dulu, maka itu rahasia, itu amanah.”
HR Tirmidzi.
5. Jangan berdebat (debat kusir)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ»
“Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di sekeliling surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Demikian pula memberikan jaminan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda, dan memberikan jaminan terhadap sebuah rumah di bagian tinggi dalam surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
6. Mengulang ucapan.
Anas bin Malik radhiallahu’anhu menceritakan,
كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berbicara mengulang 3x.
7. Tidak berbicara berdua dan meninggalkan yang ketiga.
Tidak boleh meninggalkan yang ketiga, bisa terjadi sakit hati.
Ini disebut Najaa
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه -قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.
Dari Ibnu Mas’ūd beliau berkata: Rasūlullāh bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” (HR.Bukhari dan Muslim)
8. Senyum
عن أبي الدر داء قال : (( كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحدث حديثاً إلا ابتسم
Dari abu Darda, Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kalau berbicara dengan tersenyum.
##$$-aa-$$##


