ALKABAIR – HATI DAN LISAN#36
- ALKABAIR-#01 – MUQADIMAH
- ALKABAIR-#02 – Dosa terbesar
- ALKABAIR-3
- Alkabair-4
- Alkabair-5 (Riya’ dan Sum’ah)
- ALKABAIR – HATI DAN LISAN#36
- Alkabair-6 – GEMBIRA YANG TERLAKNAT
- Alkabair-7 : PUTUS ASA DARI RAHMAT Allah Dan Merasa Aman dari Adzab Allah
- Alkabair-8 :BAB PENYEBUTAN Buruk Sangka terhadap Allah
- Alkabair-9 :BAB PENYEBUTAN keinginan bertindak sewenang-wenang dan berbuat kerusakan
🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#36*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 30 Shafar 1447H/ 24 Agustus 2025
Ba’da Maghrib
➡️ *BAB HADIAH Atas Pemberian SYAFA’AT*
Syafaat adalah bantuan. Membantu supaya hajat nya terlaksana.
Syafaat itu bisa yang bagus maupun yang buruk. Seperti firman Allah.
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا
“Barang siapa memberikan syafaat (pertolongan) yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ 4:85)
Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu secara marfu’ :
مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ بِشَفَاعَةٍ فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا
Barangsiapa yang memberikan syafaat untuk saudaranya dengan suatu syafaat kemudian orang itu memberikan hadiah kepadanya dan ia menerimanya, maka ia telah mendatangi salah satu pintu besar dari riba. HR Abu Dawud.
Kenapa dikatakan riba? Karena amalan ini disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seakan-akan dapat hadiah tanpa ada barteran lebih.
Muamalah ada dua, ada yang ingin bantu atau ingin cari untung.
Hutang adalah muamalah dalam rangka membantu.
Dosa menerima hadiah karena memberi syafaat. Karena pintu kebaikan bisa tertutup.
Ibrahim Al-Harbi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, dia berkata :
السحت أن يطلب الرٌجل الحاجة فتفضي له فيهدي إليه فيقبلها
As-suht (penghasilan buruk tidak halal) adalah seseorang mencari kebutuhannya, kemudian engkau memenuhi kebutuhan untuknya, kemudian dia diberi hadiah, dan hadiah itu dia terima.
Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Masruq dari Ibnu Mas’ud :
عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ:
“مَنْ رَدَّ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَخِيهِ شَيْئًا، فَأَهْدَى لَهُ عَلَيْهِ هَدِيَّةً فَقَبِلَهَا، فَذَلِكَ السُّحْتُ.”
“Barang siapa yang mengembalikan (hak) milik seorang Muslim dari orang lain, lalu orang itu memberi hadiah kepadanya karena itu, dan ia menerimanya, maka itulah as-suht (harta haram).”
Lalu Masruq berkata:
فَقُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا كُنَّا نَرَى السُّحْتَ إِلَّا الرِّشْوَةَ فِي الْحُكْمِ، قَالَ: ذَاكَ الْكُفْرُ.
“Aku berkata kepadanya (Ibnu Mas‘ud): Wahai Abdurrahman, kami tidak memandang as-suht kecuali hanya suap dalam hukum. Beliau menjawab: Itu adalah kekufuran.”
As suht – kebiasaan Yahudi, menerima sogokan. Dan ini bentuk kekufuran, karena merubah hukum Allah. (perlu ada pembahasan detail).
Jadi kalau bantu seseorang jangan harap dapat hadiah, harus ikhlas.
(kemudian dia membaca firman Allah Ta’ala)
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang yang kafir. Qs Al Maidah ayat 44.
➡️ *BAB GHULUL*
Ghulul asal nya pejuang yang ambil ghanimah sebelum dikumpulkan semuanya.
Ghanimah itu khusus untuk Rasulullah ﷺ.
Umat-umat terdahulu tidak dihalalkan ghanimah bagi mereka.
– Kalau mereka mendapatkan harta rampasan perang, tidak boleh dipakai, tapi dikumpulkan lalu turun api dari langit yang membakarnya (sebagai tanda diterima).
– Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Tidak pernah halal ghanimah bagi seorang pun sebelumku. Sesungguhnya Allah memberi kemenangan kepadaku, lalu ghanimah dihalalkan untukku.”
HR. Bukhari dan Muslim
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّ ۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 161)
Dalam sebuah hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
“لَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ ﷺ خَيْبَرَ، أَصَبْنَا الْغَنِيمَةَ، فَجَاءَ دِحْيَةُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطِنِي جَارِيَةً مِنَ السَّبْيِ، فَقَالَ: اذهب فَخُذْ جَارِيَةً، فَأَخَذَ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ، فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَعْطَيْتَ دِحْيَةَ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ، سَيِّدَةَ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرِ؟! لَا تَصْلُحُ إِلَّا لَكَ، قَالَ: “ادْعُوهُ بِهَا”. فَجَاءَ بِهَا، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ ﷺ، قَالَ: “خُذْ جَارِيَةً مِنَ السَّبْيِ غَيْرَهَا”. قَالَ: وَأَعْتَقَهَا النَّبِيُّ ﷺ، وَتَزَوَّجَهَا.
(dan dalam bagian akhir hadits disebutkan:)
وَبَيْنَمَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ، إِذْ جَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ: أُصِيبَ فُلَانٌ، وَقَدْ أُصِيبَ فِي نَفْسِهِ، فَقَالَ رَجُلٌ: هَنِيئًا لَهُ الْجَنَّةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: كَلَّا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا مِنَ الْمَغَانِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا”.
فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَصَبْتُ شِرَاكَيْنِ. قَالَ: “شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ، أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ”.
Abu Hurairah berkata:
Ketika Allah membuka (menaklukkan) Khaibar bagi Rasul-Nya ﷺ, dan kami memperoleh harta rampasan, tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Fulan telah gugur, terkena panah.” Maka ada yang berkata: “Selamat baginya surga (mati syahid) .”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain yang dia ambil dari ghanimah pada hari Khaibar (7H) – sebelum dibagikan – menyala-nyala sebagai api neraka di atasnya.”
Lalu datang seseorang (lain) membawa dua tali sandal, dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku hanya mengambil dua tali sandal.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Dua tali sandal dari neraka.” HR Muslim.
Tidak Semua orang yang dhahirnya mati syahid maka belum tentu syahid di sisi Allah. ❗
➡️ *BAB TAAT PADA PENGUASA*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)
Umaro pemegang urusan kaum muslimin (presiden, raja, gubernur). Mereka adalah ulil amri.
Kita harus taat kepada ulil amri kecuali perintah yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penguasa disebut penguasa bila ditaati.
Sebuah hadits,
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
HR. Ahmad, Bukhari
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَا سْمَعُوْا وَاَ طِيْعُوْا وَاَ نْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)
Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu secara marfu’ :
“الغزو غزوان: فأمّا من ابتغى به وجه الله، وأطاع الإمام، وأنفق الكريمة، وياسَى الشريك، واجتنب الفساد، فإنّ نومه ونبهه أجرٌ كلّه، وأمّا من غزا فخرًا، ورياءً، وسمعةً، وعصى الإمام، وأفسد في الأرض، فإنّه لن يرجع بالكفاف.”
“Peperangan itu ada dua macam:
Siapa yang berperang mengharap wajah Allah, taat kepada imam, menginfakkan harta yang mulia, menolong teman seperjuangan, dan menjauhi kerusakan, maka tidurnya dan bangunnya semuanya berpahala.
Adapun yang berperang karena sombong, riya’, dan ingin terkenal, membangkang kepada imam, dan berbuat kerusakan di bumi, maka dia tidak akan kembali dengan keadaan selamat (kembali hanya dengan beban dosa, tidak mendapat pahala sedikit pun).” HR Ahmad.
Taat pada lampu merah adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpahala.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ.”
“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam perkara yang ia sukai maupun ia benci, selama tidak diperintahkan kepada maksiat. Jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” HR Muslim.
Semoga bermanfaat,
#alkabaair #sunnah #salaf #dosabesar #ghulul #taat #ulilamri #penguasa
##$$-aa-$$##


