ALKABAIR – HATI DAN LISAN#37
- ALKABAIR-#01 – MUQADIMAH
- ALKABAIR-#02 – Dosa terbesar
- ALKABAIR-3
- Alkabair-4
- Alkabair-5 (Riya’ dan Sum’ah)
- ALKABAIR – HATI DAN LISAN#37
- Alkabair-6 – GEMBIRA YANG TERLAKNAT
- Alkabair-7 : PUTUS ASA DARI RAHMAT Allah Dan Merasa Aman dari Adzab Allah
- Alkabair-8 :BAB PENYEBUTAN Buruk Sangka terhadap Allah
- Alkabair-9 :BAB PENYEBUTAN keinginan bertindak sewenang-wenang dan berbuat kerusakan
🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#37*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 22 Rabi’ul Awal 1447H/ 14 September 2025
Ba’da Maghrib
➡️ *BAB KELUAR DARI AL JAMA’AH*
Memberontak pada penguasa.
Syarat-syarat pemimpin yang ideal ada tujuh seperti disebutkan oleh Al Mawardi, yang jaman sekarang hampir tidak ada.
Saking pentingnya sikap taat pada penguasa walaupun dzalim, para ulama masukkan dalam buku aqidah. Seperti Imam Ahmad dalam buku Ushulul sunnah. Padahal Imam Ahmad sendiri didzalimi penguasa sampai 3x.
Karena taat penguasa itu perintah dari Nabi ﷺ,. Yang juga memerintahkan kita untuk sholat, puasa, zakat dll.
🔹 Sikap terhadap penguasa yang dzalim.
🔸1. Taat jika diperintahkan pada kebaikan.
وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
1.1 Terhadap perkara yang ada dalil nya (syariat).
1.2 Terhadap perkara Al Maslaha Al Mursalah – kemaslahatan yang tidak dibahas oleh syariat dan datangkan kebaikan , contoh peraturan / undang-undang yang baik dan tidak langgar syariat – misal surat tanah, surat nikah, lalu lintas.
1.3 pada pilihan penguasa meski pendapat yang tidak kuat selama perkara ijtihadiyah.
Misal – perintah wajib sholat subuh dengan Qunut.
🔸2. Jika memerintahkan pada keburukan maka tidak ditaati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” HR Ahmad
Contoh perintah setiap rumah harus ada salib nya, harus ada bir dst.
Tidak boleh dalam hal ini bukan berarti harus memberontak.
🔸3. Jika penguasa terjerumus dalam dosa besar.
3.1 tidak sampai kafir (judi, minum khamr). Maka tetap wajib taat pada hal yang baik dan dilarang memberontak.
Nabi ﷺ bersabda,
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”
Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak), “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”
Nabi ﷺ menjawab,
َِ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“TIDAK…! Selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tidak baik, maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka.” HR Muslim
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan – sampai kalian melihat kekufuran yang nyata.
3.2 jika sampai kafir. Dengan syarat kafirnya jelas – tidak diperselisihkan.
Seperti jaman Imam Ahmad – khalifah al Makmun yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk – bagi Imam Ahmad – penguasa orang awam yang terkena syubhat.
Ini boleh memberontak kepadanya dengan syarat punya kekuatan yang pasti bisa melengserkannya. ❗
Adapun kekuatan yang tidak mampu maka tidak boleh, karena ini termasuk nahi munkar. Dimana syarat nya tidak boleh ada mudhorot yang lebih besar.
Ini aqidah Ahlu sunnah wal jamaah yang membedakan dari khawarij dan mu’tazilah.
➡️ Sikap kepada penguasa dzalim (pelaku dosa besar).
1. Khawarij – pelaku dosa besar kafir, maka wajib untuk diberontak.
2. Mu’tazilah – tidak kafir tetapi di antara kufur dan Islam.
“Al-Manzilah baina al-manzilatain” (منزلة بين منزلتين)
Tetapi wajib dilengserkan /berontak.
Itulah sebabnya para ulama bahas di bab aqidah untuk membedakan dengan Ahlu bidah.
➡️ Peringatan : meski tidak boleh memberontak namun tidak boleh mendukung kedzaliman penguasa. ❗❌
Rasulullah ﷺ bersabda,
«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ»
“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka, dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR. Tirmidzi, AN-Nasai, dan Al-Hakim)
Tidak boleh mendukung penguasa dzalim apalagi menjilat / cari muka.
Ini semua menunjukkan syariat Islam dibangun di atas kemaslahatan. Secara umum pemberontakan menimbulkan kemudhorotan. Walaupun ada yang hasilkan kebaikan tapi tidak umum. Dan syariat Islam dibangun di atas keumuman.
Ibnu Taimiyyah – pemberontakan hampir mustahil tidak berhasil, kalau pun berhasil akan ada kemudhorotan yang lebih besar.
Tidak diingkari bahwa ada salaf yang memberontak seperti Husein pada Yazid bin Muawiyah, Ibnu As’ad dan para tabiin yang berontak pada Hajaj bin Yusuf. Itu dulu, dan sudah diingkari para ulama.
Ibnu Hajar – sekarang sudah tetap untuk meninggalkan pendapat tersebut karena ijrihadiyah. Artinya sekarang Ijma tidak boleh berontak.
Fakta – Husein saat itu juga sudah dinasihati oleh para sahabat diantara Ibnu Umar, Ibnu Abbas.
Ibnu Taimiyyah menyatakan pendapat seperti Ibnu Hajar.
Darah seorang muslim lebih berharga daripada dunia dan seisinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُّشَا قِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الْهُدٰى وَ يَـتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَـنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 115)
Kaum muslimin janganlah membangkang.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma secara marfu’ :
مَن كَرِهَ مِن أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ،
فَإِنَّهُ مَن خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً.
“Barang siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari ketaatan terhadap penguasa walau sejengkal, maka ia mati dalam keadaan kematian Jahiliyah.”
HR Bukhari dan Muslim
Memberontak sejengkal saja. Orang jahiliyah dahulu paling tidak suka diperintah, semua raja sehingga mudah terjadi pertempuran. Maka ditetapkan ada 4 bulan haram, yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab.
Mati jahiliah bukan bermakna mati kafir tetapi mati jahiliyah, tercela karena gak ada pemimpin.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان
“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”
Sampai seorang salaf berkata – siapa dari kita yang bisa seperti Fudhail?
Dan dalam riwayat Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu anhu secara marfu :
يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” HR Muslim.
Ini berat, siapa yang bisa sabar seperti ini akan bertemu Rasulullah ﷺ di telaga Haudh.
Dan dalam riwayat Muslim dari ‘Arfajah Al-Asyja’ i radhiyallahu anhu secara marfu :
مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa datang kepada kalian (untuk memberontak), sedangkan urusan kalian telah bersatu di bawah satu orang (pemimpin), lalu dia ingin memecah tongkat persatuan kalian atau memecah belah jamaah kalian, maka bunuhlah dia.”
HR Muslim.
Dalam riwayat lain – siapa pun dia.
Di negara lain, yang terjadi pemberontakan, akibatnya negara miskin dan setiap orang punya senjata.
Semoga bermanfaat.
#alkabaair #sunnah #salaf #dosabesar #penguasa #taat #ulilamri #aqidah #sabar
##$$-aa-$$##

