ALKABAIR – HATI DAN LISAN#33
- ALKABAIR-#01 – MUQADIMAH
- ALKABAIR-#02 – Dosa terbesar
- ALKABAIR-3
- Alkabair-4
- Alkabair-5 (Riya’ dan Sum’ah)
- ALKABAIR – HATI DAN LISAN#33
- Alkabair-6 – GEMBIRA YANG TERLAKNAT
- Alkabair-7 : PUTUS ASA DARI RAHMAT Allah Dan Merasa Aman dari Adzab Allah
- Alkabair-8 :BAB PENYEBUTAN Buruk Sangka terhadap Allah
- Alkabair-9 :BAB PENYEBUTAN keinginan bertindak sewenang-wenang dan berbuat kerusakan
🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#33*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 10 Shafar 1447H/ 3 Agustus 2025
Ba’da Maghrib
➡️ *BAB Menceritakan Kemaksiatan Yang Dilakukan.*
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
**”كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.”
“Seluruh umatku akan selamat (diantaranya adalah diampuni dosanya) kecuali mereka yang menjadikannya terang-terangan (mujahirin). Salah satu bentuk ke-mujahar-an adalah ketika seorang hamba berbuat dosa pada malam hari, lalu di pagi harinya—padahal Rabbnya telah menutupinya—ia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan begini dan begitu.’ Padahal semalam Rabbnya menutupinya, siang dan malam Dia terus menutupinya, lalu dia membuka penutupan Allah atas dirinya.” HR Bukhari dan Muslim.
Al Mujaharah – melakukan maksiat dengan terang-terangan. Selain dosa, dia bangga, meremehkan ancaman Allah dan memberi contoh buruk pada orang lain. Oleh karena itu para ulama melarang mengunjungi negeri kafir Karena di sana banyak kemaksiatan.
Orang yang sering nonton film luar maka akan sering anggap lihat aurat itu hal normal. Normalisasi hatinya.
Diantara bentuk Mujaharah adalah menceritakan kemaksiatan yang sudah Allah tutupi.
Kalau ingin bertanya gunakan orang ketiga. Misalnya apa hukum perbuatan begini begitu..
Kecuali cerita secara umum untuk kemaslahatan, misalnya saat Ja’far bercerita kemaksiatan mereka saat masih jahiliyah,sampai datang Rasulullah ﷺ.
🔹Hadits ini ada dua hal.
1. Ada rahmat Allah sehingga orang selamat.
2. Ada adzab Allah bagi mujaharah.
Jangan pernah cerita kemaksiatan yang pernah dilakukan dan sudah Allah tutupi.
Aib gak boleh diceritakan.
➡️ *MENCACI orang lain dengan tuduhan zina*
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَذَفَ مَمْلُوكَهُ بِالزِّنَا، يُقَامُ عَلَيْهِ الْحَدُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ كَمَا قَالَ
“Barangsiapa menuduh budaknya berzina, maka pada hari kiamat akan ditegakkan hukuman had atasnya, kecuali jika budak itu memang seperti yang ia katakan.”
HR Bukhari dan Muslim.
Diantara dosa besar adalah orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat zina dan akan dicambuk.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَ رْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَا جْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَا دَةً اَبَدًا ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik,”
(QS. An-Nur 24: Ayat 4)
Di hari akhirat semua sama, tidak ada budak, tidak ada bangsawan, tidak ada majikan.
Kedzaliman itu cenderung terjadi dari atasan pada bawahannya (majikan pada pembantunya).
➡️ *BAB Larangan menyebut orang fasik dengan terhormat (Yang Mulia dst)*
Fasik = melakukan dosa besar.
Kalau fasik orang munafik sampai pada kekufuran.
Dari Buraidah -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
لا تَقُولوا للمُنَافق: سيِّدٌ، فإنَّهُ إنْ يكُ سيِّداً فقَدْ أسْخَطْتُمْ ربَّكُمْ _عز وجل
“Janganlah kalian mengatakan “tuan” kepada orang munafik. Sungguh bila dia seorang tuan (tokoh), kalian telah membuat murka Rabb kalian -‘Azza wa Jalla-.” HR Abu Dawud. Dengan sanad yang shahih.
Fasik, terang-terangan berbuat dosa.
➡️ *BAB LARANGAN bersumpah dengan Amanah.*
Misal sumpah dengan firman Allah.
Sumpah dengan Allah.
Adapun sumpah dengan selain Allah itu dilarang, disini contohnya Demi Amanah. ❌ Ini termasuk syirik lafazh.
Contoh lain – Demi kakek, demi nenek, demi Ibu, demi moyang ku dst.
Dari Buraidah -radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا
“Siapa yang bersumpah atas nama amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami.” HR Abu Dawud.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik. HR Abu Dawud.
Kecuali demi ~ untuk.
Untuk ibuku saya akan..
➡️ *BAB LARANGAN Bersumpah dengan agama selain Islam.*
Dari Abu Zaid radhiallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَلَفَ عَلَى مِلَّةٍ غَيْرِ الإِسْلاَمِ فَهُوَ كَمَا قَالَ
Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam, maka dia seperti apa yang dia katakan. HR Bukhari dan Muslim.
Contoh – kalau saya dusta maka saya yahudi…
Sumpah begini artinya anggap agama selain Islam benar. Padahal di sisi Allah hanya Islam agama yang benar.
Dari Buraidah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
من حلف فقال: إني بريء من الإسلام، فإن كان كاذبًا فهو كما قال، وإن كان صادقًا فلن يرجع إلى الإسلام سالما
“Barangsiapa bersumpah lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari Islam,’ maka jika ia berdusta, maka ia seperti yang ia ucapkan. Dan jika ia jujur, maka ia tidak akan kembali kepada Islam dalam keadaan selamat.” HR Abu Dawud.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini —baik Yahudi maupun Nasrani— yang mendengar tentangku, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” HR Muslim.
Orang yang ngomong seperti ini berarti ada masalah pada aqidahnya.
➡️ *BAB Penjelasan tentang Ghibah*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)
❗Ghibah termasuk dosa besar.
✅ Banyak sisi kenapa ghibah adalah dosa besar.
1. Allah samakan ghibah dengan makan bangkai saudara sendiri.
Disamakan dengan bangkai karena ceritain orang lain tidak didepan kita. Karena tidak bisa membela diri. Kalau dihadapan kita maka caci maki.
2. Ketika Rasulullah ﷺ jalan dengan Jibril – Rasulullah ﷺ lihat orang punya kuku baja dan cakar wajah sendiri.
Bahkan sebagian salaf berpendapat ghibah saat puasa batal puasa, tapi tapi yang benar puasa gak batal tetapi dosa nya sangat banyak, bisa minus pada hari itu.
Ghibah itu seperti orang yang punya istana besar dan dia hancurkan istana nya dengan ghibah yang dia lakukan.
Ghibah itu omongan fakta, sesuatu yang buruk yang tidak disukai. Kalau tidak benar maka ghibah plus dusta.
Ada ulama yang berpendapat ghibah itu dosa kecil yang sulit dihindari tapi pendapat yang tidak benar.
Dalam sebuah hadits, disebutkan..
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، قَالَ:
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ النَّحْرِ، فَقَالَ:
“أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟”
قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ،
فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ،
فَقَالَ: “أَلَيْسَ ذَا الْحِجَّةِ؟”
قُلْنَا: بَلَى،
قَالَ:
“فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟”
قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ،
فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ،
قَالَ: “أَلَيْسَتْ الْبَلْدَةَ الْحَرَامَ؟”
قُلْنَا: بَلَى،
قَالَ:
“فَأَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟”
قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ،
فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ،
قَالَ: “أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟”
قُلْنَا: بَلَى،
قَالَ:
“فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا.”
“أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟”
قَالُوا: نَعَمْ،
قَالَ: “اللَّهُمَّ اشْهَدْ.”
قَا لَهَا ثَلاَ ثًا،
Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami pada Hari Nahr (Haji – Idul Adha), lalu bersabda:
“Bulan apakah ini?”
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau diam lagi, lalu bersabda: “Bukankah ini bulan Dzulhijjah?”
Kami menjawab: “Tentu.”
Beliau bersabda: “Negeri apakah ini?”
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau diam lagi, lalu bersabda: “Bukankah ini negeri Haram?”
Kami menjawab: “Benar.”
Beliau bersabda “Hari apakah ini?”
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Maka beliau diam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama lain.
Beliau bersabda: “Bukankah ini Hari Nahr?”
Kami menjawab: “Benar.
Lalu beliau bersabda:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, seperti haramnya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini.”
Lalu beliau bersabda:
“Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan (risalah)?”
Mereka menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.”
Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. HR Bukhari dan Muslim.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ingin menekankan saat itu hari Nahr. Rasulullah ﷺ ingatkan bukan cuma darah, harta, negeri tapi juga harga diri.
Rasulullah ﷺ meminta sahabat untuk sampaikan kepada yang lain. Bisa jadi yang tidak hadir lebih paham dari pada yang hadir.
Semoga bermanfaat,
#alkabaair #sunnah #dosa #dusta #maksiat #mujaharah #ghibah
##$$-aa-$$##

