Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MAAqidah

KASYFU SYUBHAAT #16 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)

This entry is part 16 of 17 in the series Kasyfu_syubhat

Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jan-2023 @ 22:35

7 menit membaca

*KASYFU SYUBHAAT* #16 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
🎙️Ustadz Dr. *Firanda Andirja*, LC, M.A
Ahad malam, 24 Jumadil Akhir 1444 H (16 jan 23)
🕌 Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

➡️ SYUBHAT 13&14

Istighatsah Kepada Selain Allah

Dan orang-orang musyrik itu masih mempunyai syubhat lain. Yaitu apa yang pernah disebutkan oleh Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam bahwasanya manusia nanti di hari kiamat akan baristighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam, kemudian kepada Nabi Nuh ‘Alaihissalam, kemudian kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, kemudian kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, kemudian kepada Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam, lalu semuanya tidak dapat melakukan sehingga akhirnya mereka sampai ke Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam.

⛔Orang-orang musyrik itu mengatakan: “Hal itu menunjukkan, bahwasanya istighatsah kepada selain Allah itu tidak Syirik”. (ini yang hidup minta pada yang mati)

🖍️ Sehingga jawabnya mudah, karena saat itu yang hidup minta kepada yang hidup.

✅ Sebagai jawabannya, hendaklah kita katakan: Maha Suci Allah Yang Mengunci mati hati musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya istighatsah kepada makhluk dalam hal yang dia mampu kami tidak memungkirinya, sebagaimana firman Allah tentang kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam:

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya.” (Al Qashash:15).

Saat terjadi pertengkaran kaum Musa dengan Qibti.

Dan sebagaimana seseorang meminta pertolongan kepada teman-temannya dalam peperangan atau hal lain yang makhluk mampu mengerjakannya. Kami hanya mengingkari istightsah Al-ibadah (istightsah yang bersifat penyembahan) yang mereka lakukan di sisi kuburan-kuburan para wali atau istightsah kepada wali itu di saat para wali itu di tempat yang jauh, bukan di hadapannya, dalam hal-hal yang tidak ada seorangpun mampu atas hal itu kecuali Allah Subhanahu wata’ala.

✅ Ingkari minta pada mayat.

Jika ini telah tegas, maka istightsah mereka kepada para Nabi di hari kiamat seraya menginginkan dari nabi-nabi itu untuk berdo’a kepada Allah agar segera melakukan hisab kepada manusia sehingga penduduk syurga dapat beristirahat terlepas dari susah dan payahnya keadaan waktu itu.

Hal ini memang boleh di dunia dan di akhirat. (minta maaf pada Nabi saat hidup)

Yaitu, misalnya; anda datang kepada seorang yang shalih yang masih hidup, dia duduk mendampingi anda dan mendengarkan perkataan anda, anda mengatakan kepadanya: “Berdo’alah kepada Allah untukku”, sebagaimana dahulu para sahabat Rasulullah memohon hal itu kepada beliau Shallallahu‘alaihi wasallam di saat beliau hidup.

✅ Sedangkan sesudah beliau wafat, sekali-kali tidak dan sekali-kali tidak, dan tidaklah para sahabat itu memohon hal itu di sisi kuburan beliau Shallallahu‘alaihi wasallam.

✅ Bahkan, ulama’ salaf mengingkari orang yang bermaksud berdo’a kepada Allah di sisi kuburan beliau Shallallahu‘alaihi wasallam, lebih-lebih berdo’a memohon kepada diri beliau Shallallahu‘alaihi wasallam?

Maka lebih parah adalah orang-orang yang meminta pada kuburan Nabi.

➡️ Bantahan terhadap syubhat.

Ini adalah istighosah dari orang hidup kepada orang hidup pada perkara yang dimampui. Adapun di kuburan adalah istighosah dari orang hidup kepada orang mati.

➡️ Macam-macam istighosah kepada selain Allah.

1️⃣ istighosah orang hidup kepada orang hidup.

🔹A. Pada perkara yang dimampui manusia pada umumnya, hukumnya Boleh

🔸B. Pada perkara yang tidak mampu kecuali Allah. Hukum nya syirik akbar seperti meminta hidayah, syafaat dll.
Minta pada wali untuk mendapatkan anak dst.

2️⃣. Istighosah orang hidup kepada mayat. Hukum nya syirik akbar (apalagi pada pohon dan batu). Karena pohon dan batu tidak bisa apa-apa.

3️⃣. Istighosah pada yang ghaib (orang hidup tidak hadir, jin, malaikat)
Hukum syirik akbar. Contoh. Istighosah kepada Nabi Isa yang masih hidup.

Beda dengan orang hidup tapi bisa dihubungi.

Yang terjadi di hari kiamat adalah yang hidup pada yang hidup pada hal yang dimampui.

➡️ Sisi-sisi bantahan.

1. Tentu berbeda antara beristighosah /minta pertolongan kepada mayat dengan kepada yang hidup.
Para nabi dan manusia dalam kondisi hidup ketika itu.

Syubhat – mereka berusaha menyamakan yang hidup dengan yang sudah mati.

Para sahabat menyikapi Nabi ﷺ saat hidup berbeda dengan saat Nabi ﷺ sudah wafat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَا تًا فَاَ حْيَا کُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُوْا رَبَّنَاۤ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَ حْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَا عْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

“Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?””
(QS. Ghafir 40: Ayat 11)

Yaitu alam janin – dunia – mati – padang Mahsyar.

2. Mereka berusaha meniadakan perbedaan antara yang hidup dan mati padahal Allah berfirman

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَسْتَوِى الْاَ حْيَآءُ وَلَا الْاَ مْوَا تُ 

“dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati.”
(QS. Fatir 35: Ayat 22)

Para sahabat menyikapi Nabi ﷺ saat hidup berbeda dengan saat Nabi ﷺ sudah wafat. Saat hidup para sahabat sering minta Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendoakan.
Misal saat Ukasyah minta doa supaya masuk surga tanpa hisab dst.
Juga saat wanita yang sakit ayan minta doa kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam saat kambuh supaya tidak tersingkap auratnya.
Saat Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah wafat sahabat minta doa kepada Ibnu Abbas bukan kepada kuburan Nabi ﷺ.

3. Lagi pula yang diminta adalah perkara yang mungkin dilakukan yaitu berdoa agar Allah memulai persidangan. Sementara mereka berdoa kepada mayat pada perkara yang tidak mampu dilakukan. (minta sembuh dari sakit, minta rezeki dst, padahal saat hidup pun tidak mampu)

A. Nabi yang lain tidak memenuhi karena ada halangan sementara hari sangat dahsyat. Nabi yang lain minta udzur.
Nabi ﷺ pun sujud memohon.

Ali bin Husein bin Ali sempat mencegah orang yang meminta-minta pada kuburan Nabi ﷺ.

🔹Diriwayatkan bahwa suatu hari Zainal Abidin (w. 93 H) melihat seseorang masuk ke salah satu pojok di makam Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam lalu berdoa di situ. Zainal Abidin pun memanggilnya seraya berkata, “Maukah kuberitahukan padamu suatu hadits yang aku dengar dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Beliau bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburanku ‘ied (tempat yang dikunjungi rutin secara berkala) dan rumah kalian kuburan. Bershalawatlah untukku, sesungguhnya shalawat dan salam kalian akan sampai padaku di manapun kalian berada”.

🔹Atsar yang lain. Suhail bercerita bahwa di suatu kesempatan ia datang ke makam Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengucapkan salam pada beliau. Saat itu al-Hasan bin al-Hasan (w. 97 H) sedang makan di salah satu rumah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau memanggilku dan menawariku makan. Namun aku tidak makan. Beliau bertanya, “Mengapa aku tadi melihatmu berdiri?”. “Aku berdiri untuk mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam” jawabku. Beliau menimpali, “Jika engkau masuk masjid, ucapkanlah salam kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Sesungguhnya beliau telah bersabda, “Shalatlah di rumah dan jangan kalian jadikan rumah seperti kuburan. Allâh melaknat kaum Yahudi, lantaran mereka menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi masjid. Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai padaku di manapun kalian berada.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah menutup celah-celah kesyirikan.

➡️ Meminta Pertolongan Kepada Selain Allah

Syubhat lain yang dimiliki orang-orang musyrik adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tatkala dilempar ke dalam api, Malaikat Jibril ‘Alaihissalam menghalanginya di udara. Lalu, Jibril bertanya kepada Ibrahim ‘Alaihissalam,

ألك حاجة؟

“Apakah kamu butuh sesuatu?”

Maka Ibrahim ‘Alaihissalam menjawab,

أما إليك فلا

“Kepadamu saya sama sekali tidak butuh”. Lantas mereka (orang-orang musyrik) mengatakan: “Kalau istighatsah itu syirik tentu Jibril tidak akan menawarkan pertolongannya kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.”

➡️BANTAHAN syubhat 14 ini⛔

1️⃣ Riwayat ini sanadnya palsu, hanya riwayat Israiliyat. Ibnu Taimiyyah – Majmu Fatawa. Dan ulama lain.

2️⃣ Konten bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 1-183).

Riwayat palsu ada tambahan.
Ibrahim berkata . Cukuplah Allah tahu kondisi ku. Sehingga saya tidak perlu meminta kepada Allah.

Dalam riwayat Shahih dari Ibnu Abbas.
Ibrahim berdoa perlindungan Allah. (HasbiAllah…).

3️⃣. Seandainya shahih.. Jibril bukan sedang ghaib tapi sedang hadir / datang. Dan Ibrahim mengenal Jibril alaihissalam.
Jika shahih, Nabi Ibrahim dialog – ada timbal balik.

4️⃣. Jibril menawarkan yang dia mampu. Sedangkan mayat tidak bisa apa-apa.

Sebagai jawabannya ialah: Sesungguhnya hal ini termasuk jenis syubhat sebelumnya. Sebab, sesungguhnya malaikat Jibril ‘Alaihissalam telah menawarkan kepada Ibrahim ‘Alaihissalam untuk memberi pertolongan kepadanya dalam hal yang Jibril ‘Alaihissalam mampu melaksanakan hal itu. Karena sesungguhnya malaikat Jibril ‘Alaihissalam seperti yang difirmankan Allah tentang diri Jibril ‘Alaihissalam:

شَدِيدُ الْقُوَى

“Yang sangat kuat.” (An Najm: 5)

Maka, jika diizinkan untuk mengambil api dan apa yang ada di sekitar api itu lalu ia lemparkan ke ufuk timur atau barat niscaya akan ia kerjakan. Jika Allah memerintahkannya untuk meletakkan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di tempat yang jauh dari mereka, niscaya ia dapat melakukannya. Dan jika Allah memerintahkannya untuk mengangkat Ibrahim ‘Alaihissalam ke langit, niscaya ia dapat melakukannya.

Hal ini tak beda seperti seorang lelaki kaya-raya sedang melihat orang yang membutuhkan. Lantas ia menawarkan kepadanya untuk menghutanginya dan memberinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi, orang yang membutuhkannya itu tidak mau meminjam dan bahkan ia terus bersabar sampai Allah mendatangkan kepadanya rezeki yang ia tidak merasa tertumpangi jasa orang lain.

Betapa jauhnya perbedaan antara hal ini dengan istighatsah al-ibadah dan syirik, jika mereka benar-benar orang-orang yang mengerti.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Kasyfu_syubhat

KASYFU SYUBHAAT #-15 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu) KASYFU SYUBHAAT #17 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?