KELAS UFA#Tematik#75-88-argumentasi salah dalam agama & Tadabur#28
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA#Tematik#75-88-argumentasi salah dalam agama & Tadabur#28
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 06-Des-2021 @ 16:57
10 menit membacaKelas UFA
15. November 2021
➡️ 🍃Tematik 75 – Beda Kita dengan Salafus Shaleh🍃
Salafus shaleh dahulu kalau berdosa akan ingat dosa yang mereka kerjakan. Sampai ada yang berkata, “Saya ini tidak bisa sholat malam karena saya pernah dosa pada jam sekian di tempat sekian”.
Sedangkan kita lupa dosa-dosa yang kita kerjakan, dan santai-santai saja.
Oleh karenanya kalau kita bertaubat, taubat dari dosa yang kita sadari maupun yang kita sadari…
➡️🍃Tematik 76 – Kita Mengaku Cinta Kepada Allah ﷻ, Tapi Perkaranya Apakah Kita Benar-Benar Dicintai Allah ﷻ🍃
Ibnul Qayyim berkata, “perkara nya bukan engkau mencintai tapi apakah engkau dicintai.”
Diantara perkara yang menyebabkan Allah cinta kepada kita adalah bertaubat kepada Allah ﷻ.
Bahkan Allah Janji kan limpahan rezeki bagi yang bertaubat….
{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا}
maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 10)
{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا}
maka aku berkata (kepada mereka),’ Mohonlah ampunan kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (Nuh: 10-11)
{وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا}
dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 12)
➡️🍃Tematik 77 – Kesalahan Argumen dalam Beragama Menganggap Wali Adalah Maksum🍃
Bukan persyaratan wali harus maksum..
Tidak boleh taqlid.
Imam Syafi’i menyelisihi Imam Malik (gurunya).
Imam Syafi’i, muridnya juga menyelisihi yaitu Imam Muzany dan Imam Ahmad.
Umar Khaththab, wali Allah, tidak ada yang ragu.. Beberapa kali salah..
Kalau Umar pernah salah, Imam Malik pernah salah, Imam Syafi’i pernah salah.. Maka apalagi wali-wali sekarang.
➡️🍃Tematik 78 – Diantara Kesalahan Dalam Beragama Lebih Mendahulukan Akal Daripada Dalil🍃
Akal, bukanlah barometer untuk mengukur kebenaran.
Imam Malik berkata, “Sungguh kabarkan kepadaku dengan akal siapa mau ditimbang Al Qur’an dan Sunnah”.
Karena akal itu bermacam-macam.
Oleh karenanya orang-orang yang menggunakan akal sebagai dalil juga berselisih. Padahal mereka sepakat dengan suatu kaidah Akal di dahulukan daripada dalil jika bertentangan.
Mereka berselisih dalam Asma wa Sifat Allah. Akal Jahmiyah tidak sama dengan akal Mu’tazilah dan tidak sama dengan akal Asyairah.
Akal adalah indera yang butuh pengarahan. Wahyu adalah cahaya yang mengantarkan akal tersebut.
Ibarat akal adalah mata
Wahyu adalah cahaya
Akal diperlukan untuk memahami wahyu dengan baik.
Para ulama berhasil menjelaskan makna sifat Allah dengan baik.
➡️ 🍃Tematik 79 – Diantara Kesalahan Dalam Beragama Mengikuti Ijtihad Ulama yang Salah🍃
Ulama yang tergelincir pada kesalahan yang nyeleneh. Disebut Zallatul Ulama (kesalahan-kesalahan ulama)
Misalnya Ibnu Abbas pernah berpendapat riba hanya riba nasyiah, riba fadhl tidak mengapa.. Juga boleh mut’ah..
Misal Ibnu Umar pernah wudhu dengan tambahan masuk kan air ke dalam mata.
Contoh lain, Ibnu Hazm yang salah dalam mendhoifkan hadits musik, menyelesihi para shahabat, tabiin dan para Imam Mahdzab.
Berusaha mendhaifkan hadits Bukhari.
(Akan ada umat muslim yang halalkan riha, zina dan musik).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” HR Bukhari, shahih.
➡️🍃Tematik 80 – Diantara Kesalahan Dalam Beragama Berdalil dengan Mimpi🍃
. Berdalil dengan mimpi. Mimpi hanya sebagai penguat bila sudah ada dalil.
Mimpi ada 3:
A. Bawaan dari pembicaraan sebelum tidur
B. Syetan menggoda manusia
C. Kabar gembira dari Allah.
Tafsir mimpi pun perlu dirujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai pemahaman para sahabat.
Mimpi bukan dalil tapi hanya sebagai penguat,misalnya bertemu Rasulullah ﷺ untuk dakwah (sudah ada), disuruh berbakti kepada orang tua dst.
Abu Bakar saja kalau menafsirkan mimpi benar sebagian dan salah sebagian.
Imam Nawawi berkata : Bila seorang bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka yang dijadikan dalil adalah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di alam nyata bukan sabda Nabi dalam mimpi,
Apalagi sekarang banyak ibadah baru yang didapat dari mimpi, padahal Allah sudah mengatakan bahwa Islam sudah sempurna sebelum Rasulullah ﷺ wafat.
Ada orang yang menafsirkan ayat dari mimpi,
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ}
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran: 110)
Dengan dipahami, dakwah harus keluar khuruj). Tafsir itu ayat dengan ayat, ayat dengan hadits.
Ibnu Arobi yang diagungkan orang sufi mengaku menulis buku yang kumpulan bertemu dengan Rasulullah ﷺ, isinya diantaranya Firaun masuk surga.
➡️ 🍃Tematik 81 – Diantara Kesalahan Argumentasi Beragama Menjadikan Keberhasilan Sebagai Dalil🍃
Misalnya, dakwah dengan joget, musik, dukun dan ada yang ikut ajaran dakwah mereka.
Tidak semua keberhasilan menjadikan keberhasilan sebagai argumentasi dalam beragama.
Banyak yang dakwah dengan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).
Keberhasilan belum tentu wasilah yang benar.
➡️ 🍃Tematik 82 – Diantara Kesalahan Argumentasi Beragama Menjadikan Kekayaan Barometer Kebenaran🍃
Harta bukan dalil..
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَا لَ مُتْـرَفُوْهَاۤ ۙ اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
“Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 34)
وَ قَا لُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَا لًا وَّاَوْلَا دًا ۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
“Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (dari kamu) dan kami tidak akan diazab.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 35)
Mereka sombong…
Allah menyuruh Nabi untuk membantahnya.
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 36)
وَمَاۤ اَمْوَا لُـكُمْ وَلَاۤ اَوْلَا دُكُمْ بِا لَّتِيْ تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفٰۤى اِلَّا مَنْ اٰمَنَ
“Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 37)
Jadi sudah dari dulu banyak orang yang berdalil dengan harta..
Allah memberikan harta kepada orang kafir dan orang beriman..
Saat Umar melihat kemewahan pada orang-orang Romawi dan Persia maka Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka hanya dapat di dunia.
Dalam sebuah hadits.
Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”
‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”
Nabi pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”
HR Bukhari.
Kebanyakan Nabi yang Allah utus dalam keadaan miskin..
➡️ 🍃Tematik 83 – Diantara Kesalahan Beragama Memotong-motong Ayat untuk Dijadikan Dalil🍃
Ini sering dilakukan oleh orang-orang liberal..
Seperti. Orang yang mabuk sholat..
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ .
Celakalah orang-orang yang shalat,…. titk..
Padahal lanjutan nya..
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Contoh lainnya adalah mereka ingin membenarkan perkataan ahli kitab..
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.
Kata mereka ini dalil untuk cari persamaan (dalam buku fikih lintas agama).
Padahal lanjutannya..
أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah (yaitu Tauhid).
Mereka potong.. Sebagian ayat.
Contoh lainnya.. Mereka berkata tidak ada pemaksaan dalam dakwah
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Dan katakanlah, “Keheranan itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa yang ingin (kafir)
Allah beri kebebasan tidak usah dakwah (kata mereka). Padahal lanjutan nya
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Dan katakanlah, “Keheranan itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling
Ini namanya ancaman..
Seperti firman Allah “Lakukan sekehendak kalian”.
Contoh yang mereka potong adalah, tidak ada paksaan, penuh rahmat.. (sekaligus menuduh Islam Teroris)
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Padahal lanjutnya
أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml: 30-31)
Juga terkait tauhid.. Mereka mengaku akademis tapi dalilnya seperti dalil orang yang mabuk.
➡️🍃Tematik 84 – Diantara Kesalahan Beragama Berdalil dengan Ayat Mutasyabihat untuk Menjatuhkan yang Muhkam🍃
Ayat muhkam dalam Alqur’an banyak sekali.
Seperti Allah di atas..
Surat Ta-Ha (20) Ayat 5
ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.
Sedangkan ayat ini hanya satu..
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.
Allah bersama kalian (1 ayat) , padahal banyak ayat muhkam yang jelas menjelaskan Allah di atas.
Ini digunakan untuk membongkar ayat yang muhkam..
Banyak sekali ayat-ayat muhkam yang menjelaskan Allah di atas.
Harusnya ayat yang mutsyabihat dibawa ke ayat-ayat yang muhkam.
Allah berfirman…
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ مِنْهُ ءَايَـٰتٌۭ مُّحْكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌۭ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌۭ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (untuk menguji manusia). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Surat Ali-Imran (3) Ayat 7
➡️🍃Tematik 85 – Diantara Kesalahan Beragama, Berdalil dengan Mayoritas Kebanyakan Orang🍃
Kalau mayoritas melakukan berarti kebenaran, Ini adalah salah.. Sifat manusia adalah lemah. Mudah terbawa kondisi lingkungan yang banyak..
Jika kau ikuti mayoritas di permukaan bumi maka kau akan disesatkan.
Allah berfirman,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴿١١٦﴾
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. [Al-An’am/6:116]
Kebenaran tidak diukur dari mayoritas.
Dalam banyak ayat, Allah mencela pendapat mayoritas.
Apalagi mayoritas adalah orang-orang awam..
Dan tidak ada dalam buku-buku fikih.
Dan disebutkan dakwah para nabi yang mengikuti hanya sedikit..
Harus kita lihat, ada dalilnya atau tidak.
➡️ 🍃Tadabbur Quran 28 – Sifat ‘Ibadurrahman Adalah Mendoakan Kedua Orang Tuanya, Keluarganya, Anak dan Istrinya🍃
Salah satu ciri adalah orang sholeh adalah sering mendoakan kedua orang tuanya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh yang mendoakannya” (HR. Muslim)
Kadar anak sholeh adalah sering mendoakan kedua orang tuanya, sebagai rasa terima kasih atas jasa orang tuanya.
Sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
لا يشكر الله من لا يشكر الناس
“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).
Orang paling berjasa kepada kita adalah orang tua kita.
Selain itu ciri orang sholeh adalah mendoakan keluarganya.
Ketika menyebutkan sifat-sifat Ibadurrohman, Allah menjelaskan
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ
Mereka adalah orang yang mendapatkan tempat tertinggi (surga).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.””
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
Ternyata ciri orang sholeh adalah suka mendoakan orang-orang terdekat mereka.
Sempatkan bangun malam dan mendoakan istri dan anak-anak kita supaya menjadi penyejuk pandangan kita.
➡️ 🍃Tematik 86 – Diantara Kesalahan Beragama, Berdalil dengan Mengikuti Nenek Moyang🍃
Ini dilakukan oleh orang-orang musyrikin dulu. Baik saat Nabi Ibrahim atau sebelumnya (Hud, Sholeh, Nuh)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذٰلِكَ مَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَا لَ مُتْرَفُوْهَاۤ اِنَّا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ
“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 23)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَ هْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَآءَكُمْ ۗ قَا لُوْۤا اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
“(Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 24)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا نْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 25)
Nenek moyang kita tidak maksum.
Masing-masing suku atau negara punya nenek moyang.
Jadi tetap dirujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah..
Karena tidak ada dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menyatakan nenek moyang yang mana..
➡️🍃Tematik 87 – Diantara Kesalahan Beragama, Berdalil Hadis Dhaif dan Maudhu’🍃
Boleh dengan syarat, tidak sangat lemah..
1. Hanya keutamaan amal (tidak boleh meyakini dari Nabi ﷺ)
2. Sudah ada amal yang sesuai hadits (tidak boleh meyakini dari Nabi ﷺ)
3. Berkaitan Shirah Nabi tapi bukan pada inti untuk gabung rantai yang terputus.
Adapun jadikan hadits dhaif sebagai amalan baru maka ini tidak boleh. Begitu dalam keyakinan atau aqidah.
Bukan hadits dhoif jiddan bahkan munkar, misal nya hadits palsu tentang Nur Muhammad..
➡️🍃Tematik 88 – Diantara Kesalahan Beragama, Berdalil Istilah Palsu yang Mengatasnamakan Syariat🍃
Istilah syari padahal hakikatnya bukan syari.
Contoh : jihad dengan BOM di tempat ibadah, termasuk di masjid Nabawi.
Iblis, menamakam pohon yang tida Allah namakan pohon keabadian dengan istilah syari, pohon Keabadian.
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَـٰنُ قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍۢ لَّا يَبْلَىٰ
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Riba diplesetkan dengan bagi hasil.
Baiat kepada imam yang tidak jelas
Musik yang haram diberi label musik Islami…
Jangan terpedaya dengan label, tapi lihatlah hakikatnya

