KELAS UFA : TADABUR 10-11, MATERI : 69-70-71 (TAWADHU)
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA : TADABUR 10-11, MATERI : 69-70-71 (TAWADHU)
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 18-Apr-2021 @ 11:28
6 menit membacaKelas UFA. 05.04.2021
➡️ Tadabur 10 Berfikir sebelum bicara
Firman Allah,
وَقُلْ لِّعِبَا دِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَا نَ لِلْاِ نْسَا نِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “agar mereka berucap kata-kata yang terbaik. Karena setan mengadu domba diantara manusia,. Dan setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 53)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memerintahkan kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar ketika berbicara hendaknya mereka mikir terlebih dahulu dan ini adalah sifat orang yang beriman, mereka sebelum ngomong mikir dulu, bukan ceplas ceplos dalam berbicara.
Makanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, ucapkan yang baik atau diam.
Ini menunjukkan harus mikir dulu sebelum ngomong.
Kalau seandainya hamba-hamba Allah mengamalkan perintah Allah ini tentunya banyak permasalahan yang tidak terjadi.
Akan tetapi banyak sekali banyak yang begitu terlintas di pikiran langsung ngomong. Padahal setan mudah adu domba.
Padahal dalam ayat ini Allah memerintah untuk berkata dengan perkataan yang baik.
Yang menakjubkan dalam ayat ini,
وَقُلْ لِّعِبَا دِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, untuk mengucapkan kata-kata yang terbaik.
اَحْسَنُ
Ism tafdhil yang artinya yang terbaik.
Artinya kalau di depan kita ada 2, 3 atau 4 ungkapan yang bisa kita ungkapkan maka kita pilih yang terbaik.
Ini mengharuskan kita lebih banyak berfikir daripada banyak komentar.
Inilah ibadah kepada Allah, ibadah bukan cuma baca Qur’an, sholat juga dalam berucap bila jalankan perintah Allah, kita dapat pahala.
Maka, kita latihan untuk sebelum bicara mikir dulu terutama kepada orang-orang dekat kita.
Seandainya kita sebelum bicara banyak mikir dulu maka kita dapat banyak pahala karena jalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️ Materi 69 : tawadhu tidak merasa besar di hadapan orang lain
Kita mulai belajar hadits-hadits praktek nya Nabi ﷺ terhadap sikap tawadhu, karena Nabi ﷺ adalah Imamun mutawadhi’in, imam nya orang-orang yang tawadhu.
Nabi ﷺ mempraktekkan contoh-contoh yang terindah.
Diantara contoh praktek nya Nabi ﷺ adalah seperti yang diungkapkan oleh sahabat Abu Mas’ud Uqbah bin Amr radhiallahu Ta’ala anhu, HR Ibnu Majah dalam sunnah nya dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu Ta’ala.
Ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَكَلَّمَهُ فَجَعَلَ تُرْعَدُ فَرَائِصُهُ فَقَالَ لَهُ هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan mengajaknya berbicara dan tiba-tiba dia gemetar ketakutan (karena berbicara dengan Nabi ﷺ yang memilih karisma yang luar biasa) , maka Nabi ﷺ berkata kepadanya , “Tenangkan dirimu, sesungguhnya aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak seorang wanita yang memakan daging yang dikasih garam dikeringkan (dendeng) ” (HR. Ibnu Majah) –
ال فَرَائِصُهُ
Adalah daging yang ada lambung dengan tulang belikat (bagian belakang).
Hadits ini menjelaskan bagaimana tawadhu nya Nabi ﷺ.. Banyak penguasa yang ingin membesarkan dirinya di hadapan rakyatnya.
Lihatlah Firaun yang mengaku sebagai penguasa negeri dan sampai melampaui batas, mengaku sebagai Tuhan.
Lihatlah Nabi ﷺ, tidak malah bangga melihat orang yang didepannya gemetar ketakutan. Nabi ﷺ malah memintanya tenang.. Bahkan menambahkan bahwa Ibu Nabi ﷺ orang biasa dan memakan makanan yang biasa.
Inilah sikap tawadhu Nabi ﷺ yaitu menenangkan orang yang ketakutan ketika berbicara di depan Nabi ﷺ.
➡️ Tadabur 11 : Program Syetan membuka aurat anak Adam
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَـنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَاۤ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَـنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَا سَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰ تِهِمَا ۗ
اِنَّهٗ يَرٰٮكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ
اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَآءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan nenek moyang kalian (ibu bapakmu) dari surga, sesungguhnya syetan telah menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya syetan dan keturunannya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.
Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 27)
Diantara Faidah ayat ini bahwasanya tujuan syetan yang paling utama sejak awal adalah bagaimana Adam dan Hawa bisa terbuka auratnya.
Dan itulah yang syetan kerjakan sampai sekarang.
Ada orang yang suka membuka auratnya dianggap modern dan orang yang menutup auratnya dianggap takaluf, terbelakang.
Sampai terbalik karena buatan syetan. Yang menutup aurat menjadi malu.
Diantara perkara yang berat adalah tontonan jaman sekarang yang banyak perlihatkan aurat. Dan kita harus selalu memperingatkan anak-anak akan tontonan yang memperlihatkan aurat ini.
➡️Materi 70: Tawadhu ketika berkunjung dan hadiri undangan.
Dalam sebuah hadits,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ لَهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّ لَكُمْ قَالَ أَنَسٌ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ وَالْيَتِيمَ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuk beliau. Beliau kemudian menyantap makanan tersebut kemudian bersabda:
“Berdirilah, aku akan sholat untuk kalian (pimpin kalian shalat) .”
Anas berkata, “Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah lusuh dan hitam akibat sering digunakan. Aku lalu memercikinya dengan air (agar lembut) , kemudian Rasulullah ﷺ berdiri (sholat) diatasnya. Aku dan seorang anak yatim lalu membuat barisan di belakang beliau, sementara orang tua (nenek) berdiri di belakang kami. Rasulullah ﷺ lalu shalat memimpim kami sebanyak dua rakaat lalu pergi.” HR Bukhari
Hadits ini menjelaskan tentang tawadhunya Rasulullah ﷺ.
Anas bin Malik radhiyallahu adalah pembantu Nabi ﷺ yang Umu Sulaim (Ibunya Anas bin Mali) ketika Nabi hijrah dan sampai Madinah menyerahkan Anas untuk dijadikan pembantu Nabi ﷺ.
Anas bin Malik menjadi pembantu Nabi ﷺ selama 9 atau 10 tahun sampai Nabi ﷺ wafat.
Yang jadi perhatian adalah bahwa Nabi ﷺ perhatian kepada pembantunya.
Anas bin Malik punya nenek, bernama Mulaikah (ada yang mengatakan maksudnya Ibunya sendiri, Umu Sulaim).
Dan nenek mengundang Rasulullah ﷺ untuk makan makanan – undangan sunnah (padahal bukan undangan wajib, yaitu walimatul urs)
Dan Rasulullah ﷺ datang memenuhi undangan tersebut agar mereka senang, dan memakan makanan tersebut (ini bentuk tawadhu).
Dan Rasulullah ﷺ memanfaatkan waktu untuk ajari mereka cara sholat. (wanita jarang lihat cara sholat Nabi ﷺ).
Anas ambil tikar yang sudah kehitaman.
Dan Nabi ﷺ tawadhu dengan sholat di atas tikar tersebut.
Demikianlah seseorang bertamu, secukupnya, karena masing-masing punya kegiatan yang penting sudah memenuhi undangan mereka.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di hampir seluruh rumah di kampungnya pernah dikunjungi beliau. Beliau tawadhu padahal punya kesibukan yang luar biasa,masih sempat kunjungi rumah-rumah untuk menyenangkan mereka.
Kisah lain, Syaikh Al Jibrin, yang punya jadwal untuk padat untuk acara atau walimah. Dan beliau akan datang siapa saja yang mengundang kalau ada waktu.
Semoga Allah anugerahkan kita sikap tawadhu.
➡️ Materi 71 : tawadhu terhadap anak kecil
Diantara praktek tawadhu Nabi ﷺ adalah tawadhu terhadap anak kecil.
Dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، لَيُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لأَخٍ لِي صَغِيرٍ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟
Rasulullah ﷺ bergaul dengan kami sampai-sampai Beliau berkata kepada saudaraku yang masih kecil, “Wahai Aba ‘Umair apa yang terjadi dengan nughair (burung kecil)?”(HR Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik radhiyallahu anhu adalah pembantu Nabi ﷺ dan dia punya adik kecil yang dikenal sebagai Abu Umair, yang anak dari Ibunya (Umu Sulaim) yang menikah dengan Abu Thalhah Al Anshari radhiyallahu Ta’ala anhu. (satu Ibu lain bapak)
Abu Umair masih kecil (balita) dan punya peliharaan burung (nughair), ternyata nughair mati dan dia bersedih..
Maka Rasulullah ﷺ datang kepada Abu Umair dan menyapa nya, “Yaa, Aba Umair,
apa yang terjadi dengan nughair.”
Rasulullah ﷺ bertanya untuk menghilangkan kesedihan dalam hatinya karena burung peliharaannya mati.
Lihatlah Rasulullah ﷺ sampai menurunkan levelnya dan bicara dengan anak-anak.
Rasulullah ﷺ tetap tawadhu, peduli dengan anak kecil, adik dari pembantu nya, untuk menghargai pembantunya.
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengatakan:
لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَشَرَ سِنِيْنَ, فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا قَالَ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟, وَلَا لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟
Sungguh aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku sekalipun, “Aah”, tidak pernah berkomentar tentang apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan (ini)”, dan tentang apa yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan demikian (saja)” HR Bukhari dan Muslim.
Bagaimana sikap Nabi ﷺ dalam penghargaannya kepada pembantu nya, sampai datang ke rumahnya berulang-ulang dan bahkan peduli dengan adiknya yang masih kecil.
Inilah tawadhu Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap anak-anak.


