Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATazkiyatun Nafs

KELAS UFA#Materi 20-21-22-23-24 – CARA MELAWAN RIYA

This entry is part 25 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 17-Des-2020 @ 12:27

9 menit membaca

CARA MELAWAN RIYA
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc. MA.
UFA – PEKAN 5

➡️ Materi #20

Diantara cara kita untuk bisa berjuang melawan riya adalah kita Merenungkan orang yang kita harapkan pujiannya.

Mungkin orang tersebut adalah pejabat, orang terkenal atau siapa saja, ketahuilah bahwa orang yang kita harapkan pujiannya tersebut adalah :

1. Manusia yang tidak memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudhorot.
2. Orang tersebut adalah makhluk yang sangat lemah
(lihat ketika sakit)
Orang yang meninggal bila tidak dikubur akan menyebarkan bau yang busuk.
Orang tersebut juga belum tentu masuk surga.
Walaupun saat ini memuji kita bisa jadi lain waktu dia mencela kita.
Celaan orang sedunia kepada kita, kalau derajat kita tinggi di sisi Allah maka itu tidak akan menurunkan derajat kita di sisi Allah.
Begitu juga pujian orang sedunia kalau kita rendah di sisi Allah maka tidak akan menaikkan derajat kita di sisi Allah.

➡️Yang terakhir yang bisa kita lakukan untuk melawan riya adalah kita renungkan akan diri kita sendiri.

Apakah hakikat diri kita,
Orang memuji kita, Apakah kita ini mulia? kita ini banyak dosa.

Seandainya Allah bongkar sedikit saja dosa kita, tidak ada orang yang tertarik pada kita.

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah pernah berkata:

لو كان يوجد للذنوب ريح، ما قدرتم أن تدنوا مني من نتن ريحي

“Seandainya dosa itu punya aroma (akan banyak aroma busuk dari tubuh kita – Dosa ghibah, dosa Namimah dll), sehingga tidak ada orang yang mau duduk dengan kita”

Tidak akan ada yang memuji kita.
Oleh karena jangan terpedaya dengan pujian manusia. Kita ini manusia yang penuh kekurangan, yang dimuliakan oleh Allah, aib-aib kita ditutup. Seandainya aib kita ada baunya maka semua orang akan lari dari kita, jangankan memuji kita bahkan lari dan mencerca kita.

➡️ Materi #21

Beberapa tips agar Allah lindungi kita dari riya

1️⃣ Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini sangat penting karena riya adalah penyakit yang sangat samar. Dalam suatu riwayat Nabi ﷺ pernah mengatakan, riya adalah Asy Syirku khofii (syirik yang samar) dalam riwayat lain Nabi ﷺ mengatakan Asy Syirku syarooir (syirik yang tersembunyi).

Demikian juga dalam suatu Hadits dari Abu Musa al Asy’ari, beliau berkata, Sesunguhnya Rasulullah ﷺ pada suatu hari berkhutbah kepada kami, kemudian Rasulullah ﷺ berkata, ‘Wahai manusia sekalian, hindarilah kalian pada kesyirikan ini, karena sesungguhnya syirik itu lebih samar daripada rayapan semut’.

Kemudian ada orang yang berkata kepada Nabi : ‘ Yaa Rasulullah, Bagaimana kami bisa menghindarinya, sementara ia lebih samar daripada rayapan semut?’

Kata Rasulullah ﷺ ,’Ucapkanlah

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari kesyirikan kepada Mu
Yang kami ketahui , dan kami memohon ampunan dari kesyirikan dari yang kami tidak ketahui”. [HR Ahmad IV/403 dan ath Thabrani, dan Ibnu Abi Syaibah dan di hasan kan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib]

Untuk penyakit yang samar, solusinya adalah doa.

Senada dengannya, Dalam hadits, Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku berjalan bersama Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu menemui Nabi ﷺ , lalu Nabi ﷺ bersabda: “Yaa Abu Bakar! Sesungguhnya kesyirikan pada kalian lebih samar daripada semut yang merayap.”

Lalu Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Bukankah kesyirikan adalah menjadikan sesembahan lain selain Allah ?”

Nabi ﷺ menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sesungguhnya kesyirikan itu lebih samar daripada rayapan semut. Maukah aku tunjukkan kepada engkau satu perkara/doa yang jika kau ucapkan maka akan pergi kesyirikan darimu, yang kecil maupun yang banyak.

Nabi ﷺ berkata,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan Yang aku sadari ; dan aku memohon ampun dari-Mu dari syirik yang tidak aku sadari.
[HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad]
Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Adabul Mufrad.

Abu Bakar tahu bahwa menghilangkan kesyirikan itu berat,harus berdoa.

Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut hitam diatas batu licin yang hitam dalam kegelapan malam” HR Tirmidzi, Imam Ahmad, Abu Ya’la, dishahihkan oleh Syaikh Albani.

Artinya kesyirikan masuk kepada seseorang, sering tidak disadari, kalau hatinya bersih sering ada sinyal.

Sehingga doanya seperti yang Rasulullah ﷺ ajarkan. Doa ini harus diucapkan dengan penuh permohonan dan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

➡️ Materi #22

Tips terhindar dari riya, sama dengan sebelumnya yaitu doa.
Hanya saja doa ini diucapkan ketika dipuji oleh orang.
Karena Sesunguhnya pujian itu sangat besar, bila tidak kuat bisa jadi kita akan ujub, merasa besar dan bisa jadi riya.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ,

أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ

“Kalian telah membinasakan saudara kalian yang kalian puji atau Kalian telah mematahkan punggung orang yang kalian puji.” (HR. Bukhari no.dan Muslim)

Kenapa binasa? Karena agamanya binasa, tadinya Ikhlas bisa berubah jadi ujub, riya..

Oleh karenanya dalam suatu hadits, Nabi ﷺ berkata , 

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ

“Jika Engkau melihat orang yang memuji, maka lemparkanlah pasir di wajah-wajah mereka.” (HR. Muslim )

Bagaimana kalau kita dipuji?

Ada doa, yang diucapkan oleh para sahabat ketika dipuji,agar mereka ingat hakikat diri mereka.

Doanya adalah,

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

Ya Allah, janganlah Kau siksa aku, akibat apa yang mereka ucapkan. Dan ampunilah aku atas dosa2/aib 2yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka persangkakan.

Doa ini ingatkan akan hakikat diri kita.

Sebagian ulama berpendapat doa ini kita ucapkan dengan suara didengar oleh orang yang memuji, sehingga ingatkan orang yang memuji agar tidak berlebihan memuji kita, agar mereka tahu kita banyak kekurangan.

➡️ Materi #23

Tips ketiga, adalah menyembunyikan amal sholeh kita. Ini adalah wasiat dari Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa yang mampu untuk memiliki amalan sholeh yang tersembunyi maka lakukanlah !”

Karena amal sholeh tersembunyi pahala lebih besar dan terjauhkan dari riya.

Orang yang beramal sholeh tatkala sendirian menunjukkan bahwa dia bukan seorang yang munafik.

Maka ketika Hudzaifah ditanya oleh seseorang apakah dirinya munafik? Maka Hudzaifah bertanya kepada orang tersebut apakah engkau sholat tatkala bersendirian?
Orang tersebut menjawab, “iya”, maka berarti engkau bukan orang munafik.

Diantara tanda orang yang benar-benar beriman tidak ada kemunafikan pada dirinya adalah ketika dia semangat beribadah ketika tidak ada yang melihatnya kecuali Allah.

Wasiat ini wasiat para salaf. Seperti perkataan Abu Hazm Salamah bin Diinaar :

اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu”

Ketahuilah bahwa amalan sholeh yang sedikit tapi tersembunyi namun besar di sisi Allah, karena ini tanda orang beriman yang jauh dari riya.

Ketika Nabi ﷺ menyebutkan 7 golongan yang mendapat naungan di bawah Arsy Allah di akhirat kelak, dua yang Nabi ﷺ sebutkan sebagai orang ikhlas.

Pertama, seorang yang sedekah dengan tangan kanannya, kemudian disembunyikan sampai2 tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.

➡️ Ini menunjukkan semangat untuk sembunyikan amalan.

Kedua, seseorang yang sendirian kemudian dia mengingat Allah lantas dia menangis.

Ini adalah amalan yang hebat, menangis dan tidak ada yang lihat.

Praktek para salaf berusaha sembunyikan amal sholeh mereka, bahkan ada yang marah kalau ketahuan amal sholeh mereka. Sementara di sebagian kita bersusah payah untuk pencitraan, dari amal sholeh kita.

Contohnya adalah Ali bin Hesein bin Ali bin Abi Thalib, yaitu Zainal Abidin, yang dikenal Dengan Abidin.
Zainal Abidin sering memikul roti atau gandum untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Ketika dia meninggal dunia maka banyak orang-orang miskin kehilangan sedekah yang biasa mereka dapat di pagi hari. Ketika diperiksa, pundak Ali bin Husein ada bekas yang hitam (ketika dimandikan).

Tidak ada tahu kalau dia sering sedekah sampai wafatnya.

Lihatlah Thamim Ad Dari. .

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari radhiyallahu anhu ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”

Lihatlah Ayyub As-Sikhtiyani

Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu.

Agar orang menyangka dia tidur semalam.

Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Romawi. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membangunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”,

Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok”

Tidak seperti kita yang kadang sholat malam di share,
Jangan buka pintu-pintu riya karena hati kita lemah.

➡️ Materi #24

Berkaitan dengan menyembunyikan amal sholeh ada dua poin yang perlu diperhatikan,

1️⃣ Menampakkan amal sholeh ikut boleh yang penting seorang tetap Ikhlas. Tetapi bagaimana pun menyembunyikan amal sholeh itu pahalanya lebih besar m Allah berfirman,
 إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kalian menampakkan sedekah (kalian), maka itu adalah hal baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik lagi bagi kalian. Qs Al Baqarah: 271.

Jadi pahala amalan tersembunyi lebih besar daripada amalan yang terang-terangan.

Syetan, sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala, ingin agar pahala kita menjadi berkurang atau sirna.

Syetan berusaha menggoda orang yang telah beramal dengan sembunyi-sembunyi agar menampakkan amalannya, yang bisa jadi lain waktu dia cerita sehingga pahalanya berkurang dan bisa jadi terjerumus ke dalam sum’ah yang menyebabkan dosa.

2️⃣ Apakah amal sholeh semua disyariatkan untuk disembunyikan? Diperinci oleh Al Iz bin Abdu Salam.

Bahwasanya amal sholeh pada umumnya ada 2.

1. Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan untuk disyiarkan, biasanya berkaitan dengan amalan-amalan yang wajib seperti adzan, iqomat, bertakbir, khutbah, sholat jamaah. amar ma’ruf nahi mungkar, sholat jumat dan sholat ‘ied, mengantar jenazah. Ini adalah perkara-perkara yang harus dinampakkan karena ini syiar kaum muslimin.

Juga udhiyah yang dinampakkan karena syiar,menyembelih untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dia harus tetap berjuang untuk ikhlas.

2. Yang kedua, berkaitan amalan yang sunnah. Yang disunnahkan untuk disembunyikan. Seperti sholat sunnah, membaca Quran, berdzikir, sedekah. Beda dengan sedekah wajib (zakat) kita tampakkan agar orang-orang miskin tahu kita bayar zakat, agar tidak suudzon.

Kecuali seseorang adalah panutan, maka tidak mengapa dinampakkan dengan niat agar diikuti sebagaimana sabda Nabi ﷺ, ”

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

Barangsiapa yang mencontohkan suatu amalan yang baik, maka bagi dia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang menirunya.

Hadits ini diucapkan oleh Nabi ﷺ ketika ada sahabat yang bersedekah, maka diikuti oleh sahabat yang lain.

Maka bila seseorang sebagai panutan maka dia tampakkan amal sholeh yang dia kerjakan (tidak semua), dia tampakkan sebagai contoh dan sisanya dia sembunyikan..

Misal sedekah, sholat rawatib, baca Al Qur’an dia nampakkan sebagai contoh…

Digita Template

kelasUF

KELAS UFA#Materi 15-16-17-18-19 : JIHAD MELAWAN RIYA KELAS UFA# TEMATIK 19-20 (JAUHI SUUDZON – DETEKSI IMAN) – TANYA JAWAB 1-2-3: Admin Medsos- Takut miskin karena tinggalkan pekerjaan haram-Hukum Aborsi
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?