Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcAlkabaair

Syarah Kitab Al Kabaair #49- MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR

This entry is part 2 of 32 in the series AlKabaair

Diterbitkan pertama kali pada: 10-Okt-2020 @ 06:13

5 menit membaca

Syarah Kitab Al Kabaair #49- MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
23 Shafar 1442H

Bab sebelumnya adalah tentang semena-mena yang masih bersifat umum dan diteruskan dosa besar yang lebih rinci m

49. MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR

Ahlussunnah Wal jamaah meyakini bahwa pelaku dosa besar tidak dikeluarkan dari Islam dengan kadar iman masih ada, hanya melakukan kefasikan dan di akhirat kelak sesuai dengan kehendak Allah. Apabila dosanya tidak diampuni maka dia harus masuk neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan syirik akan kekal di neraka, dan yang melakukan dosa besar tergantung kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Adz Dzahabi dalam bab ini menyoroti kaum khawarij, yang sejarah historis keluar dari tuntunan ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diamalkan para sahabat Radhiallahu’anhu anhum. Mereka sangat mudah MENGKAFIRKAN pelaku dosa besar, sehingga mudah MENGKAFIRKAN pemimpin dan membolehkan berontak kepada pemimpin.

Khawarij pertama muncul pada akhir zaman Khalifah Utsman bin Affan, sampai terbunuhnya Utsman bin Affan. Dan berlanjut pada kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Mereka juga mengkafirkan para sahabat Radhiallahu’anhum.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk ke neraka kecuali satu yang selamat.

Kita lihat ancaman nya neraka. Namun hadits ini bukan untuk justifikasi pelaku dosa masuk neraka selagi masih hidup.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan satu yang selamat adalah Yang di atas jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan jalan para sahabat.

Dalam riwayat lain disebut Al Jamaah.

Golongan sesat akan bermuara pada 4 yang utama, yaitu :

1. Al Qadariyah
2. Al Khawarij
3. Syiah Rafidhoh
4. Al Jahmiyah.

Imam Adz Dzahabi memulai dengan ayat Al Qur’an..

وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ ﴿١٩٠﴾

Jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah[2]: 190)

Artinya tatkala tidak ridho terhadap ketetapan pemimpin, solusi nya bukan memberontak, karena ini salah satu bentuk melampaui batas. Apalagi bila sampai mengkafirkan orang lain yang berbuat dzalim.

Bila kita tidak mampu memberi nasihat maka kita ingkari semampunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاِنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3/403, Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyiin 2/94, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096 dan yang lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Dzilaal As-Sunnah 2/507)

Imam Adz Dzahabi melanjutkan, firman Allah Ta’ala :

وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا ﴿٣٦﴾

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
(QS. Al-Ahzab[33]: 36)

Apabila Allah dan Rasul-Nya telah memiliki ketetapan maka tidak boleh bagi mukmin untuk mempunyai pilihan lain.

Maka kita harus taat kepada pemimpin.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari no. 6104)

Konsekuensi nya adalah predikat kafir akan kembali kepada yang menuduh bila yang dituduh bukan kafir.

Imam ADz Dzahabi mengatakan “Dan sifat-sifat kaum khawarij telah ada di banyak hadits.”

Salah satu nya hadits berikut..

يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ؛ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Mereka melesat dari agama, sebagaimana anak panah melesat dari hewan sasaran. Jika kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah, bagi yang berhasil membunuh mereka. (HR. Bukhari 3611, dan Muslim 1066).

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“seburuk-buruk pembunuhan yang terjadi di bawah kolong langit adalah lebih baik daripada pembunuhan terhadap orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij)” HR Tirmidzi.

Ini menunjukkan kaum khawarij adalah satu hal yang harus diwaspadai.

Imam ADz Dzahabi mengatakan Khawarij adalah mubtadiah – pelaku bid’ah, menghalalkan darah dan mengkafirkan kaum muslimin. , jadi bukan termasuk kafir walaupun melakukan dosa besar.

Kaum Azariqah, adalah salah satu nama kaum Khawarij.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ

Khawarij adalah anjing-anjingnya neraka. (HR. Ahmad)

Ini adalah ancaman kepada mereka.

Hadits ini khilaf, ada yang mendhaifkan karena sanad nya putus. Namun banyak riwayat lain yang bisa menguatkan hadits ini.

dari Sa’id Bin Jahman, ia berkata :

“Aku masuk menemui Ibnu Abi Aufa رضي اللّٰه عنه dalam keadaan ia buta matanya lalu aku mengucapkan salam kepadanya lalu iapun membalas salamku dan berkata : “Siapa engkau?” Maka aku menjawab : “Saya Sa’id Bin Jahman

Lalu ia berkata : “Apa yang dilakukan ayahmu ?”. Maka aku menjawab : “Ia dibunuh oleh orang-orang Azariqah”.

Maka ia berkata : Semoga Allah melaknat orang-orang Azariqah semuanya. Kemudian ia berkata : Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم telah mengkabarkan kepada kami bahwa :

((ألا إنهم كلاب أهل النار))

“Ketahuilah bahwa mereka ialah anjing-anjing penduduk neraka”.

Aku bertanya : Semua orang-orang Azariqah ataukah kaum Khawarij ? beliau menjawab : “Kaum Khawarij semuanya”. HR. Ibnu Abi Ashim juz2 hal 438.

Dan Imam Adz Dzahabi menutup dengan hadits yang dibawa oleh Abdullah bin Abu Aufa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

طو بى لمن قتلهم و فتلوه
Berbahagialah bagi orang yang memerangi mreka (Khawarij) dan mereka pun memeranginya. HR. Ahmad.

Seorang yang rabbani, Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”

Semoga Bermanfaat
$$##-aa-##$$

AlKabaair

Syarah Kitab Al Kabaair #Bab 50 Mengganggu Kaum Muslimin dan Mencaci-maki Mereka ALKABAAIR # 48 (SEMENA-MENA)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?