SILSILAH HADITS SHAHIH-10
📖 *SILSILAH HADITS SHAHIH-10*
✒️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang disusun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman.
Ustadz Badrusalam, Lc
7 Rabi’ul Awal 1448H/ 20 Agustus 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
➡️ BAB 1: Akhlak, Perbuatan baik dan Hubungan sesama manusia.
➡️ Hadits 42
٤٢- عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ مَرْفُوعًا: (( أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى صَدَقَةٍ يُحِبُّ اللهُ مَوْضِعَهَا؟ تُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ يُحِبُّ اللهُ مَوْضِعَهَا. ))
Dari Abu Ayyub al-Anshari, secara marfu’ : “Maukah aku tunjukkan kepadamu amalan sedekah yang disukai Allah? Yaitu, kamu berbuat kebaikan di tengah-tengah manusia. Itu adalah amalan sedekah yang objeknya disukai Allah.” [no. 2644] — (HR. Al-Ashbahani)
Marfu’ = sampai pada Rasulullah ﷺ.
🔹 Faidah
1. Keutamaan mendamaikan muslim yang bertengkar.
Pahala besar, lebih dari sholat, puasa, sedekah yang sunnah.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
Artinya: “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Mereka menjawab, “Tentu.” Beliau ﷺ bersabda, “Mendamaikan hubungan antara manusia, karena rusaknya hubungan antara manusia adalah pencukur.”
HR Abu Dawud.
Pencukur – mencukur agama.
Nabi ﷺ bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.
Artinya:
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun akan diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan: Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai.”
HR Muslim.
Bertengkar karena urusan dunia.
➡️ Hadits 43
٤٣- عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يَرْفَعُونَ حَجَرًا فَقَالَ: (( مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ؟ )) فَقَالُوا: يَرْفَعُونَ حَجَرًا يُرِيدُونَ الشِّدَّةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ؟ —أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا— الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. ))
وَفِي رِوَايَةٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يَصْطَرِعُونَ فَقَالَ: (( مَا هَذَا؟ )) قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ! هَذَا فُلَانٌ الصَّرِيعُ، مَا يُصَارِعُ أَحَدًا إِلَّا صَرَعَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ؟ رَجُلٌ ظَلَمَهُ رَجُلٌ فَكَظَمَ غَيْظَهُ فَغَلَبَهُ وَغَلَبَ شَيْطَانَهُ وَغَلَبَ شَيْطَانَ صَاحِبِهِ. ))
Dari Anas: “Bahwa Nabi ﷺ lewat di hadapan suatu kaum yang sedang mengangkat-angkat batu (besar), kemudian beliau bertanya: ‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Para Sahabat lantas menjawab: ‘Mereka mengangkat-angkat batu agar otot mereka menjadi kuat.’
Lalu Nabi ﷺ bersabda: ‘Maukah aku tunjukkan kepada kalian perkara yang lebih berat daripada hal tersebut?—atau dengan ungkapan yang semakna dengannya.—Yaitu, orang yang dapat mengendalikan diri sendiri ketika sedang marah.'”
Dalam riwayat lainnya disebutkan: “Bahwasanya Nabi ﷺ lewat di hadapan suatu kaum yang sedang bergulat. Beliau bertanya: ‘Ada apa ini?’ Para Sahabat pun menjawab: ‘Wahai Rasulullah! Ini adalah Fulan, seorang pegulat. Tidaklah ia bergulat dengan seseorang, melainkan pasti dapat mengalahkannya.’
Lantas, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Maukah aku beritahukan kepada kalian orang yang lebih kuat daripadanya? Yaitu seorang laki-laki yang dizhalimi oleh laki-laki lainnya. Akan tetapi, ia dapat menahan amarahnya. Ia mampu mengatasi amarahnya itu, dapat mengalahkan syaitan dalam dirinya, juga syaitan dalam diri temannya.'” [no. 3295]
(HR. Al-Bazzar)
🔹 Faidah
1. Para sahabat dahulu juga latihan supaya kuat. Ini mubah, boleh, asalkan untuk persiapan jihad. Kalau untuk supaya Kelihatan kuat, sterk gak boleh.
2. Hadits – orang yang kuat bukan yang kuat dalam gulat tapi yang kuat menahan amarah.
Hadits lain – jangan marah – balasan surga.
Kita ini mudah marah, akibatnya mudah sakit.
Bisa nahan marah – lepas dari banyak mudhorot.
Bagaimana nahan amarah?
A. Hati tidak tenang. Solusi nya banyak dzikir.
Ingat firman Allah,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
📖 QS. Ar-Ra’d: 28
B. Lapar bisa sebabkan mudah marah.
C. Bawaan dari lahir.
Mudhorot marah.
1. Pemicu kemaksiatan, Puncak kemarahan itu membunuh.
2. Marah digunakan alat oleh para musuh Islam.
Maka dari itu, Nabi ﷺ nasihatkan untuk tidak marah.
Dari Abu Hurairah, ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ:
“Berilah aku wasiat.”
Beliau ﷺ bersabda:
«لَا تَغْضَبْ»
“Jangan marah.”
Orang itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan setiap kali Nabi ﷺ menjawab:
“Jangan marah.”
HR Bukhari.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi apresiasi yang tinggi orang yang berkuasa tapi mampu menahan amarah.
Dari Mu‘adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ
“Barang siapa menahan amarahnya padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, kemudian Allah memberinya pilihan untuk memilih bidadari yang ia kehendaki.”
HR Abu Dawud.
Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah marah.
➡️ Hadits 44
٤٤- عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَاتَ يَوْمٍ فِي خُطْبَتِهِ: (( أَلَا إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا، كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ، وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَإِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَقَالَ: إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ، وَأَنْزَلْتُ عَلَيْكَ كِتَابًا لَا يَغْسِلُهُ الْمَاءُ تَقْرَؤُهُ نَائِمًا وَيَقْظَانَ، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أُحَرِّقَ قُرَيْشًا، فَقُلْتُ: رَبِّ! إِذًا يَثْلَغُوا رَأْسِي فَيَدَعُوهُ خُبْزَةً! قَالَ: اسْتَخْرِجْهُمْ كَمَا اسْتَخْرَجُوكَ، وَاغْزُهُمْ نُغْزِكَ، وَأَنْفِقْ فَسَنُنْفِقُ عَلَيْكَ، وَابْعَثْ جَيْشًا نَبْعَثْ خَمْسَةً مِثْلَهُ، وَقَاتِلْ بِمَنْ أَطَاعَكَ مَنْ عَصَاكَ. قَالَ: وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ؛ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ [مُتَصَدِّقٌ] ذُو عِيَالٍ. قَالَ: وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ؛ الضَّعِيفُ الَّذِي لَا زَبْرَ لَهُ الَّذِينَ هُمْ فِيكُمْ تَبَعًا لَا يَتْبَعُونَ أَهْلًا وَلَا مَالًا، وَالْخَائِنُ الَّذِي لَا يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ—وَإِنْ دَقَّ—إِلَّا خَانَهُ، وَرَجُلٌ لَا يُصْبِحُ وَلَا يُمْسِي إِلَّا وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. ))—وَذَكَرَ الْبُخْلَ أَوِ الْكَذِبَ:
(( وَالشِّنْظِيرُ الْفَحَّاشُ. وَإِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ. ))
Dari Iyadh bin Himar; Bahwasanya pada suatu hari, Rasulullah ﷺ berkata di dalam khutbahnya: “Ketahuilah, sesungguhnya Rabbku telah memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa-apa yang belum kalian ketahui dari sesuatu yang telah Dia beritahukan kepadaku hari ini: ‘Setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba itu adalah halal.
Sesungguhnya, Aku menciptakan seluruh hamba-Ku di atas agama yang lurus. Kemudian, datanglah syaitan kepada mereka, lantas syaitan itu menjauhkan mereka dari agama mereka. Syaitan mengharamkan atas mereka apa-apa yang telah Aku halalkan untuk mereka. Dan, syaitan memerintahkan mereka untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak pernah Aku turunkan sedikit pun keterangan tentangnya.’
Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi (sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ), dan Allah sangat marah terhadap mereka, baik orang Arab maupun orang non-Arab, kecuali beberapa orang dari Ahlul Kitab (yang masih berpegang teguh dan tidak mengubah agama mereka yang murni).
Maka Allah kembali berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menguji dirimu dan juga menguji orang-orang (Muhammad) untuk menurunkan kepadamu sebuah Kitab yang terjaga (al-Qur’an), tidak akan pupus tersiram air, bahkan kamu dapat membacanya sambil tidur dan terjaga.’
Sungguh Allah memerintahkanku untuk membakar/memerangi kaum Quraisy, maka aku mengatakan: ‘Rabbku! Jika demikian adanya, maka mereka akan memecahkan kepalaku dan meremukkannya seperti roti!’ Allah berfirman: ‘Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusir kamu. Infakkanlah hartamu, niscaya Kami akan menggantinya untukmu. Utuslah pasukan, niscaya Kami akan mengirim lima kali lipatnya. Dan, perangilah kaum yang mendurhakaimu bersama kaum yang mentaatimu.’
🔹 Penghuni Surga ada tiga macam:
(1) Seorang penguasa yang adil, suka bersedekah, dan murah hati.
(2) Seseorang yang penyayang lagi berhati lembut kepada semua karib kerabat dan kaum Muslimin.
(3) Orang yang menjaga diri dari segala sesuatu yang diharamkan, tidak meminta-minta kepada orang lain, dan [suka bersedekah] sedangkan ia memiliki keluarga (yang harus dinafkahi).
🔸 Penghuni Neraka ada lima macam:
(1) Orang lemah (agamanya) yang tidak memiliki akal (sehingga bisa menghindarkan dirinya dari perbuatan yang tidak layak untuk dilakukan); mereka di tengah-tengah kalian sebagai pengikut, yang tidak menginginkan hidup berkeluarga serta harta (melainkan hanya ingin memperkosa gadis kecil kaumnya).
(2) Seorang pengkhianat yang tidaklah menginginkan sesuatu—walau kecil—melainkan ia akan berkhianat untuk mendapatkannya.
(3) Seseorang yang senantiasa menipu kamu dengan memanfaatkan keluargamu dan hartamu, baik pagi dan petang.”—Kemudian beliau menyebutkan
(4) sikap bakhil atau suka dusta— “Dan
(5) orang yang berakhlak buruk dan suka mengucapkan perkataan kotor.
Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu sehingga tidak ada seorang pun yang menzhalimi orang lain dan tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap yang lainnya pula.” [no. 3599]
(HR. Muslim, an-Nasa-i, Abdurrazzaq, ath-Thayalisi, Ibnu Hibban)
🔹 Faidah
1. Nafkah yang didapat secara halal, diberikan kepada keluarga juga halal.
2. Pada asalnya semua masalah dunia itu halal. Sehingga masalah dunia itu tidak ada bid’ah.
3. Manusia pada asalnya hanif kecuali yang disesatkan oleh syetan.
Agama di dunia itu ada 4300 agama. Kita harus bersyukur dipilih jadi muslim dan hanya menyembah Allah.
4. Allah disifati dengan sifat marah tapi tidak boleh dimutlakkan pada Allah. Marahnya Allah beda dengan marah nya makhluk.
5. Allah utus Nabi ﷺ untuk menguji Nabi ﷺ dan menguji kita.
6. Nabi ﷺ diperintahkan oleh Allah untuk memerangi kaum kafir sampai mereka beriman.
Kafir harbi – yang memerangi kaum muslim.
Kafir dzimmi – tinggal dan bayar jizyah.
Kafir musta’man – dijamin keamanan oleh muslim.
Kafir muahad – punya perjanjian dengan kaum muslim.
7. Keutamaan penguasa yang adil, yaitu yang jalan kan syariat Allah. Penguasa yang jalan kan syariat Allah pasti adil. Dilarang memberontak pada pemimpin yang dzalim selama dia masih sholat.
8. Keutamaan orang yang punya sifat penyayang. Allah akan sayang orang yang penyayang. Sayang = rahmat.
Usaha untuk sampaikan kebaikan kepada orang yang kita sayangi dan mencegah mudhorot orang yang yang kita sayangi.
Semoga bermanfaat.
#hadits #shahih #adab #sayang #tawadhu #adil
##$$-aa-$$##

