KASYFU SYUBHAAT #-10 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-1 Muqaddimah
- KASYFU SYUBHAAT #-2 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-3 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-4 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-5 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-10 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-6 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-7
- KASYFU SYUBHAAT #-8 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
Diterbitkan pertama kali pada: 30-Okt-2022 @ 20:54
5 menit membaca*KASYFU SYUBHAAT* #-10 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
🎙️Ustadz Dr. Firanda Andirja, LC, M.A
Ahad malam, 6 Rabi’ul Tsani 1444 H (30 OKT 2022)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
✅ SYUBHAT KE-4
Kemudian apabila dia mengatakan:“Saya tidak beribadah kecuali kepada Allah, sedangkan berlindung kepada orang-orang shalih dan berdo’a kepada mereka semacam ini bukanlah ibadah”.
Maka, katakan kepadanya: “Bukankah kamu mengakui, bahwasanya Allah telah mewajibkan kepadamu pemurnian ibadah hanya untuk-Nya, dan itu merupakan hak Dia atas kamu?” Jika dia menjawab: “Ya”, maka katakan padanya: “Coba terangkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan kepadamu, yaitu: keikhlasan, kemurnian beribadah hanya untuk Allah semata, dan itu merupakan hak Allah atas kamu.” (yaitu tauhid)
Sesungguhnya dia tidak akan tahu apa itu ibadah dan apa macam-macamnya. Untuk itu terangkanlah hal itu kepadanya dengan ucapan anda:
Allah subahanahu wa ta’ala telah befirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (rasa takut) .” (Al A’raaf: 55).
Lalu jika anda sudah memberi tahukan hal itu kepadanya, maka katakan kepadanya:
“Apakah kamu tahu, bahwa berdo’a itu merupakan ibadah kepada Allah?” Maka pasti dia akan mengatakan: “Ya, do’a itu puncak (intisari) ibadah”.
Lantas katakan kepadanya: “Kalau kamu sudah mengakui, bahwa do’a itu adalah ibadah kepada Allah, dan kamu sendiri sudah berdo’a kepada Allah sepanjang malam dan siang hari dengan rasa takut dan harap, kemudian kamu berdo’a untuk keperluan tertentu kepada seorang Nabi atau yang lainnya; apakah bukan berarti kamu telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu Allah dalam beribadah kepada- Nya?” Maka, pasti dia akan menjawab: “Ya.”
Lalu katakan kepadanya lagi: “Apabila kamu sudah mengamalkan firman Allah, di saat Dia berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat untuk Rabbmu, dan sembelihlah kurban.” (Al Kautsar: 2).
Dan kamu sudah taat kepada Allah serta sudah pula menyembelih kurban untuk Dia; apakah hal ini (bukan) merupakan ibadah?”
Pasti ia akan menjawab: “Ya.”
Lantas katakan kepadanya: “Jika kamu menyembelih kurban demi untuk seseorang makhluk, baik itu seorang nabi atau jin ataupun yang lainnya, bukankah kamu sudah menjadikan selain Allah sekutu bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya?”
Dia pasti akan mengakui dan mengatakan: “Ya.”
Dan katakan kepadanya lagi: “Orang-orang musyrik -yang mana Al-Qur’an telah turun menjelaskan tentang keadaan mereka-, apakah mereka dulu senantiasa menyembah malaikat, Orang-orang shalih, Al Latta dan yang lainya?” Sudah pasti dia akan mengatakan: “Ya.”
Maka katakan kepadanya: “Bukankah ibadah mereka kepada malaikat, orang-orang shalih dan yang lain-lain itu hanya dalam bentuk do’a, penyembelihan kurban, berlindung kepada mereka di saat ada kebutuhan dan yang semacamnya?
Jika tidak seperti itu lalu apa? Mereka mengakui, bahwasanya mereka adalah hamba-hamba Allah dan di bawah kekuasaannya, dan bahwasanya Allah lah yang mengatur segala urusan, namun mereka berdo’a kepada malaikat, orang-orang shalih dan berlindung kepada mereka karena mereka yakin bahwa yang mereka puja itu memiliki jaah (kedudukan tinggi) dan syafa’at, hal ini jelas sekali.”
➡️ Syubhat – berdoa kepada orang sholeh bukan ibadah.
🔹Ibadah – menurut Ahlussunnah
Bahasa – ketundukan
Ditinjau dari macam. Mencakup segala yang dicintai Allah baik dhahir maupun batin. Nadzar, sembelih, doa.
🔸Ditinjau dari pelaku : suatu nama yang mencakup kehinaan diri, puncak kehinaan, puncak cinta dan ketundukan pada yang sedang dia ibadahi.
Berdoa, sujud, rukuk kepada Allah.
✖️ Sedangkan menurut ahlu bidah – selama ketundukan ditujukan kepada yang diyakini tidak punya kemampuan Rububiyah.
⛔ Dengan definisi ahlu bid’ah ini maka dikatakan seakan-akan tidak ada kesyirikan. ⛔
Ahlussunnah menjelaskan ibadah sering dituduh mengkafirkan.
➡️ Dalil doa adalah ibadah.
1. Perintah Allah
2. Datang dalam dalam dalil – hadits
Doa adalah ibadah
firman Allah :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. [Ghafir/40 : 60].
3. Larangan berdoa kepada selain Allah.
Tidak disyaratkan harus meyakini doa kepada selain Allah syirik harus meyakini Rububiyah kepada yang dituju doanya.
♦️BANTAHAN
🔸Sekedar yakin ada Rububiyah kepada selain Allah adalah syirik, meski tanpa doa, sujud, menyembelih…
🔸 Kaum musyrikin dahulu ada selain Allah yang mencipta.
Allah bantah kaum musyrikin dari sisi syafaat (karena mereka menyembah orang-orang sholeh).
Asy-Syu’ara’, ayat 69-77
{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (69) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (71) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (74) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77) }
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Apakah yang kalian sembah?” Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Berkata Ibrahim, “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) kalian sewaktu kalian berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepada kalian atau memberi mudarat?” Mereka menjawab, “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” Ibrahim berkata, “Maka apakah kalian telah memperhatikan apa yang selalu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.”
Mereka tidak meyakini Rububiyah berhala yang mereka sembah, dan Allah nyatakan mereka berbuat syirik.
Patung itu tidak bisa beri manfaat dan mudharat..
Kalau menurut definisi ahlu bidah – ini bukan syirik… Inilah syubhat mereka.
🔸Kelaziman – berarti ke dukun, minta tolong jin, pakai jimat selama tidak meyakini Rububiyah mereka maka bukan syirik.
➡️ Sifat-sifat yang boleh kita berdoa kepadanya
1. Harus menguasai manfaat dan mudhorot
Surat Al-Isra (17) Ayat 56
قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”.
Allah berfirman,
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ . وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus: 106-107).
Sedangkan Nabi sendiri..
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلا ضَرًّا إِلاَّ ما شاءَ اللَّهُ
Katakanlah (Muhammad kepada umatmu): “Aku TIDAK memiliki untuk diriku satupun manfaat dan tidak pula satupun mudhorot, kecuali apa yang Allah kehendaki”. (QS. Al-A’rof: 188)
Maka Nabi sendiri tidak boleh kita berdoa kepada nya.
2. Harus bukan hamba
Sedangkan nabi adalah hamba.
3. Harus yang memiliki segalanya
Surat Fathir (35) Ayat 13
يُولِجُ ٱلَّيْلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيْلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ كُلٌّۭ يَجْرِى لِأَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۚ وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
4. Harus bisa mencipta
5. Harus bisa menghukum pada hari kiamat
Surat Ghafir (40) Ayat 19
يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
Karena hanya Allah yang akan memberi hukuman atas dosa mata dan hati manusia kelak.
6. Memiliki syafaat
firman Allah, “Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Az Zumar: 44)
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

