KITAB TAUHID #39- ORANG YANG INGKARI SIFAT2 ALLAH (2)
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 16:39
6 menit membacaSyarah Kitab Tauhid Bab 39 lanjutan – ORANG YANG INGKARI SIFAT2 ALLAH (2)
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
6 Rabi’ul Akhir 1441 H
Jahm bin Sofyan ambil ilmu dari Jaad bin Dirham dan baca kitab-kitab falsafah.
Mereka berbicara dengan perkataan ahli kalam.
Berdebat dengan Sumaniah.
Yang akhirnya kena syubhat dan tidak shalat selama 40 hari, kalah berdebat saat ditanya bukti tuhan dengan panca indera (menjadi ragu adanya tuhan)
Sebenarnya bukti adanya Tuhan, yaitu Musa yang dengar perkataan Allah
Juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang pernah melihat Cahaya Allah.
Tidak semua yang tidak bisa dibuktikan dengan indera tidak ada, misalnya kakek buyut kita…
Jahm bin Sufyan punya teori menetapkan adanya Tuhan yang disebut teori dalil A’radh, teori tentang sifat dan Jism.
Tuhan harus berbeda dengan makhluk
Ciri khas Makhluk adalah berjism/berjasad.
Dan ciri khas jasad atau Jism adalah memiliki atau menerima sifat-sifat (Al A’ra) seperti : diam, bergerak, bersatu, terpisah, perubahan.
Kesimpulan : Tuhan tidak boleh seperti makhluk, berarti tidak boleh berjism, berarti tidak boleh bersifat.
Yaitu syarat jadi tuhan = tidak boleh bersifat.
Allah tidak mendengar
Allah tidak melihat
Allah tidak mencintai
Ternyata buku2 falasifah – the law of Plato.
Plato wafat sekitar 347SM.
Semua yang di alam bergerak, sampai ada yang tidak bergerak.
Plato punya murid Aristoteles yang punya buku Physics – (Fisika), yang wafat 322 SM
Dalam bukunya : alam semesta ada yang gerak, perubahan yang diatur oleh sesuatu yang lain sampai ada yang menguasai yang tidak bergerak.
Kesimpulan : tuhan harus statis (tidak boleh dinamis).
Jadi sama dengan kesimpulan Jahm bin Sufyan : Tuhan harus statis.
Para ulama khilaf akan kekafiran Jahm bin Sufyan, sebagian besar ulama mengkafirkan.
Bantahan terhadap pemikiran Jahm bin Sufyan.
Dalil A’roodh (sifat-sifat):
1. Cara menetapkan adanya Allah banyak cara dan mudah
+ dengan melihat makhluk maka sudah pasti ada yang menciptakan.
sewaktu Abu Hanifah berjumpa dengan orang-orang atheis yang mengingkari eksistensi al-Khaliq. Beliau bercerita kepada mereka:
“Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal tersebut mengarungi samuedera. Gelombangnya kecil, anginnya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai renana tanpa goncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nahkoda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akalkah cerita ini?”
Mereka berkata, “Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal, bahkan oleh khayal sekalipun, wahai Syaikh.” Lalu Abu Hanifah berkata, “Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal yang berlayar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang, dan benda-benda langit serta burung yang beterbangan tanpa adanya Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya dan mengaturnya dengan cermat?! Celakalah kalian, lantas apa yang membuat kalian ingkar kepada Allah?”
+ dalil mukjizat (dalil perubahan aturan alam)
2. Adapun dalil A’roodh (diterima oleh mutazilah, Asyairah, al Iji, Maturidiyah
Bahkan ada yang mengatakan bahwa yang tidak tahu dalil A’rad berarti kafir.
Para imam Madzhab sudah mencela dalil A’rad ini. Karena mereka ada sebelum para imam Mahdzab.
Semua firqah yang menyimpang dalam tauhid asma wa sifat terpengaruh dengan dalil A’roodh
Para menolak semua sifat :
1. Menolak seluruh sifat
1.1 Jahmiyah (menolak seluruh nama-nama Allah kecuali Yang Maha Kuasa, Melihat, Membuat dan semisalnya )
1.2. Mu’tazilah, al Isri, Ibnu Abi Duat.
(menetapkan seluruh nama-nama Allah tetapi menolak seluruh sifat-sifat Allah baik dzatiah maupun fi’liyah)
Menurut mereka, semua sifat baik dzatiah apalagi fi’liyah adalah A’roodh.
Dzatiah = berkaitan dzat (mata, wajah, dll)
Fi’liyah = berkehendak.. (mencintai, dll)
2. Menolak sebagian sifat
2.1 Kulabiyah dan Asyairah terdahulu.
Menurut kelompok 2 ini, sifat-sifat dzatiah bukan A’roodh karena tidak mengalami perubahan sehingga mereka tetapkan.
Adapun sifat-sifat fi’liyah mereka tolak karena melazimkan perubahan.
Menetapkan sifat wajah, kedua tangan, mata, ketinggian Allah.
2.2 Asyairah belakangan dan maturidiah.
Hanya menetapkan 7 sifat dzatiah : hidup, melihat, mendengar, berkehendak, berilmu, berbicara, berkuasa.
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
وهم يكفرون بالرحمن قل هو ربي لا إله إلا هو عليه توكلت وإليه متاب
“Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih).
Katakanlah : “Dia adalah Tuhanku, tiada sesembahan yang hak selain dia, hanya kepada Nya aku bertawakkal dan hanya kepadaNya aku bertaubat.” (QS. Ar Ra’d, 30).
Mereka ingkari Ar Rahman, bukan adanya tuhan.
Mereka jadikan plintiran nama Allah menjadi nama-nama berhala.
Al Qur’an adalah firman Allah..
Padahal dalam Asyairah Al Qur’an adalah terjemahan Jibril.
Asalnya manusia yang fitrah itu mudah memahami Allah, tetapi jadi bimbang bila dapat syubhat (racun filsafat).
Untuk memahami sifat Allah kita berpegang pada perkataan Imam Malik.
Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:
َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ.
“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.”
Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya.
Diriwayatkan dalam shoheh Bukhari, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu berkata :
“حدثوا الناس بما يعرفون، أتريدون أن يكذب الله ورسوله ؟ “.
“Berbicaralah kepada orang-orang dengan apa yang difahami oleh mereka, apakah kalian menginginkan Allah dan RasulNya didustakan ?”.
Abdur Razak meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thowus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, bahwa ia melihat seseorang terkejut/marah ketika mendengar hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, karena merasa keberatan dengan hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata :
“ما فرق هؤلاء ؟ يجدون رقة عند محكمه ويهلكوه عند متشابه”.
“Apa yang dikhawatirkan oleh mereka itu ? mereka mau mendengar dan menerima ketika dibacakan ayat-ayat yang muhkamat (jelas pengertiannya), tapi mereka keberatan untuk menerimanya ketika dibacakan ayat-ayat yang mutasyabihat (sulit difahami)
Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan sebuah kisah menarik tentang dialog antara khalifah Abdul Malik bin Marwan dan ulama hadits dari generasi tabi’in, imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri.
Kisah tersebut dituturkan oleh Walid bin Muhammad Al-Muwaqqari bahwa pada suatu hari imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri mendatangi khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Abdul Malik bin Marwan: “Dari mana Anda datang?”
Az-Zuhri: “Dari Makkah.”
Abdul Malik bin Marwan: “Siapa ulama yang memimpin Makkah sepeninggal Anda?”
Az-Zuhri: “Atha’ (bin Abi Rabah).”
Abdul Malik bin Marwan: “Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?”
Az-Zuhri: “Dia seorang budak yang telah dimerdekakan.”
Abdul Malik bin Marwan: “Dengan apa ia menjadi pemimpin (ulama) Makkah?”
Az-Zuhri: “Dengan agama (ketakwaan) dan riwayat (ilmu dan periwayatan hadits).”
Abdul Malik bin Marwan: “Orang yang memiliki agama dan riwayat memang seyogyanya diangkat sebagai pemimpin. Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Yaman?”
Az-Zuhri: “Thawus (bin Kaisan Al-Yamani).”
Abdul Malik bin Marwan: “Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?”
Az-Zuhri: “Dia seorang budak yang telah dimerdekakan.”
Abdul Malik bin Marwan: “Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Syam?”
Az-Zuhri: “Makhul (Abu Abdillah Asy-Syami).”
Abdul Malik bin Marwan: “Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?”
Az-Zuhri: “Dia seorang budak yang telah dimerdekakan. Ia seorang budak bangsa Naubah yang dimerdekakan oleh seorang wanita dari suku Hudzail.”
Abdul Malik bin Marwan: “Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Jazirah (negeri di antara sungai Tigris dan Eufrat di Irak)?”
Az-Zuhri: “Maimun bin Mihran dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan.”
Abdul Malik bin Marwan: “Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Khurasan (Afghanistan)?”
Az-Zuhri: “Dhahak bin Muzahim dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan.”
Abdul Malik bin Marwan: “Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Bashrah?”
Az-Zuhri: “Hasan (bin Yasar Al-Bashri) dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan.”
Abdul Malik bin Marwan: “Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Kufah?”
Az-Zuhri: “Ibrahim (bin Yazid) An-Nakha’i.”
Abdul Malik bin Marwan: “Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?”
Az-Zuhri: “Dia adalah orang Arab.”
Abdul Malik: “Aduh! Anda telah mengurangi kesempitan saya. Demi Allah , budak-budak yang dimerdekakan akan memimpin orang-orang Arab di negeri ini sehingga nama mereka disebut-sebut di atas mimbar-mimbar, sementara orang-orang Arab berada di bawah mimbar.”
Az-Zuhri:
يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ، إِنَّمَا هُوَ دِيْنٌ، مَنْ حَفِظَهُ، سَادَ، وَمَنْ ضَيَّعَهُ، سَقَطَ.
“Wahai amirul mukminin, ini adalah agama. Barangsiapa menjaga agama, niscaya ia akan memimpin. Dan barangsiapa menelantarkan agama, niscaya ia akan jatuh.”
Orang-orang Quraisy ketika mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyebut “ArRahman”, mereka mengingkarinya, maka terhadap mereka itu, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firmanNya : [وهم يكفرون بالرحمن] “Dan mereka kafir terhadap Ar Rahman”.
Semoga bermanfaat.


