This entry is part 2 of 11 in the series Ahkamul Janaaiz

Diterbitkan pertama kali pada: 29-Jun-2020 @ 17:12

4 menit membaca

Kitab Ahkamul Janaaiz-berwasiat
Ustadz Muhammad Anwar
16 Syaban 1440H

*Berwasiat kepada kerabat yang selain ahli waris*

Kerabat yang dimaksud adalah ahli waris yang terhalang oleh ahli waris yang lebih utama.

Misalnya, Ahmad meninggal dengan meninggalkan istri, anak dan cucu (dari anak Ahmad yang sudah duluan meninggal).

Ahmad (menurut sebagian ulama) wajib memberi wasiat kepada cucu tersebut.

Kadar wasiat kepada ahlu waris semacam ini adalah maksimal 1/3.

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ ، أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَ بِى مِنَ الْوَجَعِ مَا تَرَى ، وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلاَ يَرِثُنِى إِلاَّ ابْنَةٌ لِى وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَىْ مَالِى قَالَ « لاَ » . قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ « لاَ » . قُلْتُ فَالثُّلُثِ قَالَ « وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ ، إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ ، وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا ، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِى فِى امْرَأَتِكَ »
Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan 2/3 dari harta itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Alah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”
HR Bukhari dan Muslim.

*Berwasiat disaksikan oleh 2 orang muslim yang adil* (bila terpaksa boleh saksi kafir yang adil)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sholat (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.
Qs Al Maidah 106.

*Tidak boleh Berwasiat kepada ahli waris*

Terutama ahli waris utama, anak atau orang tua.

*larangan membuat wasiat yang menimbulkan mudharat*
Misalnya membuat wasiat yang bertentangan dengan syariat.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ}

sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya (si mayat) atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kerugian kepada ahli waris).
Qs An Nisa 12.

*wasiat tidak ada unsur kezaliman*

Hadits Ahmad 18985

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوكِينَ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُمْ فَدَعَا بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُمْ أَثْلَاثًا ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً وَقَالَ لَهُ قَوْلًا شَدِيدًا

Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Muhallab] dari [Imran bin Hushain] radliallahu ‘anhu bahwasanya seseorang telah membebaskan enam orang budaknya ketika ia sedang sakaratul-mautnya dan dia tidak mempunyai harta kecuali hanya budak-budak itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka lalu membaginya menjadi sepertiga kemudian beliau mengundi diantara mereka kemudian beliau bebaskan dua orang dan membiarkan empat yang lainnya menjadi budak. Lalu beliau berkata kepadanya dengan perkataan yang tegas.

Catatan:maksimal wasiat =1/3.

*Wasiat meminta penanganan jenazah kita dengan cara yang sesuai sunnah sesuai ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*

Hal tersebut dicontohkan oleh Saad bin Abi Waqqash yang meminta liang lahat.

Juga oleh sahabat Abu Musa al Asyari, yang meminta jenazahnya diusung dengan cepat dan tidak diiringi dengan api.

Padahal saat itu belum banyak pernak pernik ritual jenazah.

*Apa yang dilakukan saat kunjungi orang yang sakit*

1. *Menuntut syahadat Lailaha illa Allah. (Talqin).*

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

لقنوا موتا كم لا إله إلا الله

“Tuntunlah seseorang *yang akan meninggal dunia* untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’”
HR Muslim.

Catatan = talkin hanya sebelum meninggal dunia.

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”
HR Abu Dawud

2. *Mendoakan orang yang sakit*
Doakan yang baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu menjenguk orang sakit atau orang yang meninggal, maka ucapkanlah (do’a) yang baik, karena malaikat mengaminkan ucapan kalian.” HR Muslim

3. *Ucapkan yang baik*
Jangan mengucapkan kata yang buruk.

*CARA talkin..*

Kita perintahkan (tuntun pelan-pelan) si sakit untuk ucapkan Lailaha Illa Allah, bukan memperdengarkan ucapan kita.

*Bila dia sudah ucapkan Lailaha Illa Allah maka kita cukupkan.*

Lihat kisah meninggalnya Abu Thalib.

4.*Tidak perlu memindahkan posisi orang sakit saat sakaratul maut untuk hadap Kiblat*

Membaca Yasin kepada orang yang sedang sakaratul maut dibolehkan.

Jumhur ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Hambali – menyunahkan, sedangkan Malikiyah memakruhkan.

Dengan harapan surah Yasin tersebut membantu orang yang sakaratul maut lebih mudah.

Catatan: Bukan setelah meninggal dunia.

Syaikh Utsaimin = bila anggap hadits tersebut shahih maka silakan amalkan.

Syaikh Bin Baz = hadits tersebut ada namun dhaif.

Para ulama lain, silakan baca bukan hanya Yasin saja tapi surat lain juga (Al Fatihah, Al Baqarah), mungkin bisa jadi Ruqyah untuk yang sakit.

*bagaimana dengan datangi orang kafir yang sedang sakaratul maut?*
Bila ada manfaat baik kepadanya maka boleh, seperti mengajak kafir untuk bersyahadat.

##$$-aa-$$##

Ahkamul Janaaiz

AHKAMUL JANAAIZ # SAAT SAKIT AHKAMUL JANAAIZ # SAKARATUL MAUT-MENINGGAL
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?