SILSILAH HADITS SHAHIH-13
📖 *SILSILAH HADITS SHAHIH-13*
✒️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang disusun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman.
Ustadz Badrusalam, Lc
20 Rabi’ul Akhir 1448H/1 Oktober 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
➡️ BAB 1: Akhlak, Perbuatan baik dan Hubungan sesama manusia.
➡️ **Hadits No. 54**
٥٤- عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيْكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوْهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِيْنُوْهُمْ. ))
Dari Abu Dzar, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya pembantu-pembantu mu itu saudara mu itu adalah para pelayanmu. Allah menjadikan mereka di bawah kekuasaanmu. Barang siapa saudaranya (se-Islam) berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari makanan yang ia makan, dan memberinya pakaian dari pakaian yang ia pakai. Janganlah kamu membebani mereka tugas yang tidak mampu mereka lakukan. Jika kamu membebani mereka tugas yang berat, maka bantulah mereka.” [no. 2842] — (HR. Al-Bukhari)
Lengkap nya,
Al-Ma’rur bin Suwaid berkata:
“Aku bertemu Abu Dzar di Ar-Rabadzah. Ketika itu beliau mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakan oleh pembantunya. Aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Abu Dzar menjawab:
‘Aku pernah mencela seseorang dan aku mencelanya dengan menyebut ibunya. Maka Nabi ﷺ berkata kepadaku:
‘Wahai Abu Dzar, apakah engkau mencelanya dengan menyebut ibunya? Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.
Para pembantu kalian adalah saudara kalian. Allah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barang siapa saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah dia memberinya makan dari makanan yang dia makan dan memberinya pakaian dari pakaian yang dia pakai.
Janganlah kalian membebani mereka dengan pekerjaan yang mereka tidak mampu melakukannya. Jika kalian membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, maka bantulah mereka.’”
🔹 Faidah
1. Para budak-pembantu adalah saudara (maksudnya saudara seiman).
2. Haramnya mencaci orang dan menjelek-jelekkan karena itu termasuk perbuatan jahiliyah.
3. Orang yang terjatuh pada prilaku jahiliyah tidak kafir.
4. Anjuran untuk menghormati para pembantu.
5. Islam memuliakan akhlak dan adab.
6. Larangan memberikan beban yang berat kepada pembantu.
➡️ **Hadits No. 55**
٥٥- عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّ أَكْمَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ دَرَجَةَ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ. ))
Dari Anas bin Malik, ia menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Sesungguhnya, akhlak yang mulia itu mengimbangi derajat puasa dan shalat (di sisi Allah).” [no. 1590] — (HR. Al-Bazzar)
🔹 Faidah
1. Iman itu bertingkat-tingkat, bertambah dan berkurang. (firqah murjiah – iman itu satu, tetap, tidak ada kesembuhan tambah dan tidak kurang – konsekuensi nya orang maksiat iman nya sempurna, selain itu menyamakan orang yang beriman dan orang maksiat).
2. Amal termasuk iman, amal mempengaruhi iman.
3. Keutamaan akhlak yang baik. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling bagus akhlaknya.
➡️ **Hadits No. 56**
٥٦- عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ خَطَبَهُمْ فَقَالَ: (( إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ. ))
Dari Iyadh bin Himar, dari Nabi ﷺ; Bahwasanya beliau berkhutbah di hadapan mereka (para Sahabat). Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap orang lain dan tidak ada seorang pun yang menzhalimi orang lain.” [no. 570]
(HR. Muslim, Ibnu Majah, Abu Nu’aim)
🔹 Faidah
1. Wajibnya tawadhu (lawan dari sombong – menolak kebenaran dan meremehkan manusia). Tawadhu = menerima kebenaran. Kalau ada orang yang ingatkan kesalahan kita maka jangan sombong.
2. Larangan berbangga-bangga atas sesuatu (harta, jabatan, amal sholeh (paling buruk), kecerdasan dst).
3. Kesombongan menyebabkan kedzaliman, tawadhu selamat dari berbuat kedzaliman.
➡️ **Hadits No. 57**
٥٧- عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ وَيَبْغَضُ سَفْسَافَهَا. ))
Dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata : “Rasulullah ﷺ pernah bersabda : ‘Sesungguhnya Allah itu Maha Mulia. Allah menyukai kemuliaan dan nilai-nilai akhlak yang tinggi, lalu Allah tidak menyukai akhlak yang buruk.'”. [no 1378]
HR Abu Syaikh, Al Hakim, As Salafi, Abu Nu’aim.
🔹 Faidah
1. Diantara nama dan Sifat Allah Adalah Karim (Mulia dan Dermawan).
2. Keutamaan sifat dermawan, Allah cinta pada orang yang dermawan. Dermawan menunjukkan kemuliaan akhlak, kelapangan dada.
Dermawan ada dua tingkat.
2.1 dermawan saat lapang
2.2. Dermawan saat senang dan susah, ini tingkat yang tinggi.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّاءِ وَٱلضَّرَّاءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun waktu sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
📖 QS. Ali ‘Imran: 134
3. Allah benci pada akhlak yang rendah (malas, pemarah, ngibul, cerewet, munafik, khianat).
Dalam sebuah hadits,
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsārūn, al-mutasyaddiqūn, dan al-mutafayhiqūn.”
Para sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟
“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui siapa ats-tsartsārūn dan al-mutasyaddiqūn, lalu siapa al-mutafayhiqūn?”
Beliau ﷺ menjawab:
الْمُتَكَبِّرُونَ
“Orang-orang yang sombong.”
HR. At-Tirmidzi
Makna ketiga sifat tersebut
الثَّرْثَارُونَ (ats-tsartsārūn) → orang yang banyak bicara, banyak ocehan, berbicara tanpa kebutuhan.
الْمُتَشَدِّقُونَ (al-mutasyaddiqūn) → orang yang berlebihan dalam berbicara, dibuat-buat, suka memamerkan kefasihan atau memperpanjang pembicaraan.
الْمُتَفَيْهِقُونَ (al-mutafayhiqūn) → orang yang sombong dan membesarkan diri, terutama dalam perkataan dan sikap terhadap orang lain.
➡️ **Hadits No. 58**
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ لَمَّا خَلَقَ الْخَلْقَ قَامَتِ الرَّحِمُ فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرَّحْمٰنِ، [فَقَالَ: مَهْ]، قَالَتْ: هٰذَا مَقَامُ الْعَائِذِ [بِكَ] مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: [نَعَمْ]، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ [قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ] قَالَ: فَذَاكَ [لَكِ].
قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: [ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:] اِقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ:
• فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ
• أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَٰرَهُمْ
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ. ))
Dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya pada waktu Allah ﷻ telah menciptakan makhluk, *rahim* (kekerabatan) bangkit berdiri hendak memegang pinggang Ar-Rahman.
[Allah ﷻ berkata: ‘Cukup sampai di situ.’] Rahim berkata: ‘Aku berdiri di sini untuk berlindung [kepada-Mu] dari pemutus silaturahim.’
Allah ﷻ berkata: ‘[Baiklah], sukakah kamu jika Aku menyambung siapa saja yang menyambungmu dan Aku memutus siapa saja yang memutusmu?’ [Maka *rahim* berkata: ‘Tentu saja, wahai Rabbi.’] Allah ﷻ berkata: ‘Itulah yang kamu dapatkan [untukmu].'”
Abu Hurairah melanjutkan: “[Kemudian Rasulullah ﷺ berkata:] Bacalah, jika kalian mau: ‘Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya. Maka tidakkah mereka menghayati al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?’ (QS. Muhammad [47]: 22-24).” [no. 2741] — (HR. Ahmad)
🔹 Faidah
1. Wajibnya menyambung silaturahim dan bahaya memutus silaturahim.
2. Orang yang memutus silaturahim terputus kebaikan nya, dan terancam masuk neraka.
Silaturahim itu yang ada hubungan darah.
Semoga bermanfaat
#salaf #hadits #akhlak #cinta #amanah #khianat #silaturahim
##$$-aa-$$##

