SILSILAH HADITS SHAHIH-14
📖 *SILSILAH HADITS SHAHIH-14*
✒️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang disusun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman.
Ustadz Badrusalam, Lc
24 Jumadil Awal 1448H/5 Nopember 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
➡️ BAB 1: Akhlak, Perbuatan baik dan Hubungan sesama manusia.
➡️ **Hadits No. 59**
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ بِتَصْدِيْقِكَ بِلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.)) رُوِيَ مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ، وَابْنِ عُمَرَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ مُرْسَلًا. وَهٰذَا لَفْظُ حَدِيْثِ أَنَسٍ: عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ: ((يَا فُلَانُ! فَعَلْتَ كَذَا؟)) قَالَ: لَا وَالَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ! وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ فَعَلَهُ، فَقَالَ لَهُ: … فَذَكَرَهُ.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni kebohonganmu disebabkan kamu telah membenarkan perkataan dengan mengucapkan *Laa ilâha illallah* (Tiada ilah yang berhak untuk diibadahi selain Allah).” Diriwayatkan dari hadits (riwayat) Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan al-Hasan al-Bashri secara *mursal*.
Dan berikut ini adalah redaksi hadits Anas. Dari Anas, ia menuturkan: “Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang laki-laki: ‘Wahai Fulan! Benarkah kamu melakukannya?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah yang tiada ilah selain Dia!’ Namun Nabi ﷺ mengetahui bahwa dia pelakunya, maka beliau berseru kepadanya: ‘…'” Lantas, perawi menyebutkan hadits di atas. [no. 3064] — (HR. Abd bin Humaid, Abu Ya’la, al-Bazzar, al-‘Uqaili, Ibnu Adi)
🔹 Faidah
1. Keutamaan Laa ilaha illallah, yaitu kalimat tauhid – tidak ada yang diibadahi yang benar kecuali Allah.
Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal.
Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’.
Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’.
Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).
Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
HR Ahmad.
Dalam hadits Qudsi – orang yang mati tanpa menyekutukan Allah – walaupun dosa nya sepenuh bumi maka Allah akan ampuni dosa nya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
النَّصُّ الْعَرَبِيُّ:
«يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»
“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.”
HR Tirmidzi
Orang yang meremehkan dosa dikuatirkan akan mati dalam keadaan suul khatimah.
➡️ **Hadits No. 60/م**
((إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ اللهَ يُعْطِى الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ ضَنَّ بِالْمَالِ أَنْ يُنْفِقَهُ، وَخَافَ الْعَدُوَّ أَنْ يُجَاهِدَهُ، وَهَابَ اللَّيْلَ أَنْ يُكَابِدَهُ فَلْيُكْثِرْ مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ اللهِ، [وَالْحَمْدُ لِلهِ،] وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ.))
Dari Abdullah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah ﷻ membagi-bagikan akhlak sebagaimana Dia membagi-bagikan rezeki kalian. Allah ﷻ memberikan harta dunia kepada orang yang Dia sukai dan orang yang tidak Dia sukai, namun Allah hanya memberikan iman kepada orang yang Dia sukai. Barang siapa yang kikir dengan hartanya untuk berinfak, takut kepada musuh untuk turut berjihad, dan enggan bangun pada tengah malam, maka hendaklah ia memperbanyak ucapan: *Subhanallah, [walhamdulillah], walaa ilaha illallah , Wallahu akbar*.” [no. 2714] — (HR. Al-Isma’ili)
🔹 Faidah
1. Akhlak itu berbeda-beda tiap orang begitu juga rezeki tiap orang.
2. Susah dijumpai manusia yang sempurna, semua bagus dari semua sisi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا النَّاسُ كَالإِبِلِ المِائَةِ، لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً
“Sesungguhnya manusia itu seperti unta seratus, hampir-hampir kamu tidak mendapatkan padanya unta yang cocok untuk ditunggangi.” HR Bukhari
3. Banyak harta dunia bukan tanda cinta Allah padanya. Tanda cinta Allah adalah keimanan dan amal sholeh, bertakwa.
Riwayat dari Mujahid bin Jabr رحمه الله:
ملك الأرض مشرقها ومغربها أربعة نفر: مؤمنان وكافران، فالمؤمنان: سليمان بن داود وذو القرنين، والكافران: بختنصر ونمرود بن كنعان، لم يملكها غيرهم
“Penguasa bumi dari timur hingga barat ada empat orang: dua orang mukmin dan dua orang kafir. Dua orang mukmin adalah Sulaiman bin Dawud dan Dzulqarnain. Adapun dua orang kafir adalah Bukhtanashar dan Namrud bin Kan’an.”
Islam tidak melarang untuk kaya, tapi kaya harus beriman.
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الدنيا سجن المؤمن، وجنة الكافر
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.“ HR Tirmidzi
4. Barang siapa yang kikir dengan hartanya untuk berinfak, takut kepada musuh untuk turut berjihad, dan enggan bangun pada tengah malam, maka hendaklah ia memperbanyak ucapan: *Subhanallah, [walhamdulillah], walaa ilaha illallah , Wallahu akbar* dalam hadits lain 4 dzikir ini adalah dzikir yang sangat dicintai Allah.
5. Gadget telah menyebabkan kita malas berdzikir.
6. Dzikir adalah amalan yang ringan tapi berat timbangan di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.”
Subhanallah – meniadakan kekurangan Allah.
Alhamdulillah – puji Allah dalam segala syariat nya, bahkan memuji Allah saat ditimpa sesuatu yang tidak disukai.
. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat perhatian dengan keselamatan kaumnya.
Allah Akbar – ketika berucap rasakan besar Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️ **Hadits No. 60**
٦٠- عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
((إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ.)) ثُمَّ قَرَأَ: ۞ وَكَذٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِىَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخْذَهُۥ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
Dari Abu Musa ﷺ, ia menuturkan: “Suatu ketika Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya Allah memberikan tempo kepada orang zhalim, hingga ketika Allah telah menyiksanya (sesudah ia mati), Dia tidak akan melepasnya begitu saja.'”
Abu Musa melanjutkan: “Kemudian, beliau membacakan ayat (yang artinya): *’Dan begitulah siksa Rabbmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.’* (QS. Hud [11]: 102).” [no. 3512] —(HR. Al-Bukhari,Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, an-Nasa-i)
🔹 Faidah
1. Allah sayang kepada hamba-hamba Nya. Allah masih beri tenggang waktu kepada orang dzalim.
2. Kita sering tertipu dengan Mudahnya Allah ampuni hamba.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
QS An Anam ayat 44.
3. Gunakan nikmat untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️ **Hadits No. 61**
٦١- عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، قَالَ: كُنْتُ فِيْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ، فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ عَلَيْهِ نَوْبٌ تَامٌ، وَأَخَذَ الْعَرَقُ فِيْ جُلُوْدِنَا طَرَفًا فَقَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ مِنَ الْغُبَارِ وَالْوَسَخِ إِذْ أَقْبَلَ رَجُلٌ عَلَيْهِ شَارَةٌ حَسَنَةٌ، ((لِيُبَشِّرَ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ)) فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ إِلَّا كَلَّفَتْهُ نَفْسَهُ [أَنْ] يَعْلُوَ كَلَامَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ! فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: ((إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ هٰذَا وَضَرْبَهُ يَلْوُوْنَ أَلْسِنَتَهُمْ لِلنَّاسِ لَيَّ الْبَقَرَةِ لِسَانَهَا بِالْمَرْعَى، كَذٰلِكَ يَلْوِي اللهُ أَلْسِنَتَهُمْ وَوُجُوْهَهُمْ فِي النَّارِ.))
Dari Watsilah bin al-Asyqa’, ia bertutur: “Ketika itu, aku berada bersama *ash-habush shuffah* (orang-orang yang tidur di teras masjid). Tatkala aku memperhatikan keadaan kami, ternyata tidak ada seorang pun yang memakai pakaian lengkap hingga keringat di kulit kami menjadi bagian dari debu dan kotoran.
Lalu datanglah Rasulullah ﷺ menemui kami seraya berkata: ‘Bergembiralah, hai orang-orang fakir Muhajirin.’ Tiba-tiba, munculah laki-laki yang berpenampilan bagus. Lalu tidaklah Nabi ﷺ berbicara satu kalimat, melainkan ia berusaha [untuk] berbicara lebih tinggi dari perkataan Nabi ﷺ!
Ketika laki-laki itu pergi, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang ini dan orang yang semisalnya. Mereka bermanis mulut di hadapan manusia seperti sapi betina mengemoh di padang rumput! Seperti itulah nanti Allah memelintir lidah dan wajah mereka di dalam Neraka.'” [no. 3426] — (HR. Ath-Thabrani, Abu Nu’aim, al-Baihaqi)
🔹 Faidah
1. Ahlu suhfah – sahabat yang miskin dan tinggal di masjid Nabawi – kebanyakan Muhajirin.
2. Anjuran untuk memberikan kabar gembira.
3. Keutamaan fuqara – keutamaan faqir miskin dikalangan Muhajirin.
4. Tercelanya orang yang memfasih-fasihkan lisan agar terlihat hebat.
➡️ **Hadits No. 62**
٦٢- عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِى كَرِبَ الْكِنْدِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((إِنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ، ثُمَّ يُوْصِيْكُمْ بِآبَائِكُمْ، ثُمَّ يُوْصِيْكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ.))
Dari al-Miqdam bin Ma’dikarib al-Kindi, dari Nabi ﷺ, (bahwa) beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian supaya berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian Allah mewasiatkan kalian agar berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, lantas Allah mewasiatkan kalian agar berbuat baik kepada kerabat yang dekat terlebih dahulu, lalu kerabat setelah mereka.” [no. 1666] — (HR. Al-Bukhari, Ibnu Majah, al-Hakim, Ahmad)
🔹 Faidah
1. Manusia yang paling berhak dapat bakti kita adalah ibu kita.
Ibu – mengandung 9 bulan, menyusui 2 tahun.
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).
2. Hadits ini menunjukkan untuk mengutamakan dan memperhatikan kerabat kita dulu baru yang lain.
Hadits lain adalah adalah kisah Abu Thalhah Al-Anshari رضي الله عنه yang menyedekahkan kebun kesayangannya, kemudian Rasulullah ﷺ menyarankan agar kebun tersebut diberikan kepada kerabatnya.
Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ، وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرَحَاءُ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ، أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ، فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
بَخٍ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ.
قَالَ أَبُو طَلْحَةَ: أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ.
Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:
Ketika turun ayat:
“Tidak akan kamu memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).
Abu Thalhah kemudian mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman bahwa kalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai. Harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha’. Aku menyedekahkannya karena Allah, dengan mengharapkan kebaikan dan simpanan pahala di sisi Allah. Maka gunakanlah kebun itu sebagaimana yang Allah tunjukkan kepadamu.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan, dan menurutku sebaiknya engkau memberikannya kepada kerabat-kerabatmu.”
Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”
Kemudian Abu Thalhah membagikan kebun tersebut kepada kerabat dan anak-anak pamannya.
HR. Bukhari dan Muslim
3. Untuk beramal harus punya ilmu. Jangan sesuai dengan perasan.
Semoga bermanfaat.
#salaf #hadits #dzikir #tauhid #kerabat
##$$-aa-$$##

