KITABUL JAMI’# SETIAP KEBAIKAN ADALAH SEDEKAH
Diterbitkan pertama kali pada: 20-Jul-2020 @ 13:50
10 menit membacaSyarah Kitabul Jami’
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
14 Muharam 1441H
Hadits ke-9 | *SETIAP KEBAIKAN ADALAH SEDEKAH*
وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ.” أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.
Dari Jābir radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, dia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda:
“Seluruh perbuatan baik merupakan sedekah.”
(HR Imam Al Bukhari)
Hadits ini menjelaskan bahwasanya sedekah di mata syari’at bukan hanya terbatas pada harta, tetapi seluruh perbuatan baik (segala perbuatan kebaikan) juga merupakan sedekah.
Kebaikan apapun juga, entah kebaikan yang berkaitan dengan diri sendiri maupun kebaikan yang berkaitan dengan oranglain, pokoknya yang namanya kebaikan merupakan sedekah.
Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ
“Setiap Tasbih merupakan sedekah, setiap Tahmid (mengucapkan alhamdulillāh) juga merupakan sedekah, setiap bertahlil (mengucapkan lā ilāha illa Allāh) merupakan sedekah dan setiap takbir (mengucapkan Allāhu akbar) maka dia juga bersedekah. Dan menyeru oranglain kepada kebaikan juga sedekah dan juga mencegah oranglain dari perbuatan kemungkaran (nahyi munkar) juga dia bersedekah.”
(HR Muslim no. 2376, dari shahābat Abu Dzar)
Kalau tadi Tashbih, Tahlil, Tahmid adalah bersedekah, (maka) ini berkaitan dengan diri hamba; dia memuji Allāh, mengagungkan Allāh maka dia bersedekah kepada dirinya sendiri.
Sekarang yang berkaitan dengan oranglain, (yaitu) seperti amr bin ma’ruf adalah sedekah. Menyuruh oranglain untuk melakukan kebaikan berarti dia sedang bersedekah.
Bahkan dalam perkara yang kita anggap perkara duniawi, kata Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam:
وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
“Engkau menggauli istrimu engkau telah bersedekah.”
(HR Muslim)
⇒ Menyenangkan hati istri, berhubungan dengan istri ini dinilai sedekah menurut kacamata syari’at.
تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ
Demikian juga jika ada 2 orang datang kemudian menjadikan engkau sebagai hakim (pengambil keputusan) jika engkau berbuat adil kepada keduanya maka berarti engkau telah bersedekah.
وَتُعِينُالرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ
Demikian juga jika engkau membantu seseorang lalu engkau mengangkatkan barangnya di atas tunggangannya ini juga merupakan sedekah.
(HR Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1009)
⇒ Lihat disini, sedekah tidak mesti dengan uang/harta.
Kita membantu oranglain, (yaitu) sedekah dengan tenaga, mengangkatkan barangnya, meletakkan diatas tunggangannya atau bisa meletakkan diatas mobilnya, kita bantu angkat barang, ini juga merupakan sedekah, kata Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam.
Kemudian juga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan dalam hadits yang lain:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Dan berkata-kata yang baik merupakan sedekah.”
(HR Al Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 2332)
Seseorang menahan dirinya dari perkataan buruk kemudian berusaha berbicara dengan perkataan yang baik, berarti dia telah bersedekah.
Apakah dia berbicara dengan saudaranya, orangtuanya, istrinya, dia berusaha memilih kata-kata yang baik. Tatkala dia berusaha memilih kata-kata yang baik sesungguhnya dia sedang bersedekah.
⇒ Ini dalil menunjukkan bahwasanya seluruh bentuk kebaikan merupakan sedekah.
Hal ini menunjukkan sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya, orang-orang miskin yang tidak punya harta juga bisa bersedekah.
Namun Allah membuka cara sedekah dengan cara yang lain, tidak mesti dengan harta.
HADITS KE 10. *Jangan meremehkan kebaikan*
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda:
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, meskipun kau bertemu dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.”
(Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Muslim).
⇒ Hadits ini menjelaskan bahwasanya syari’at memotivasi kita untuk berbuat kebaikan apapun.
Seluruh yang namanya kebaikan hendaknya kita lakukan karena sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
لاَ تَحْقِرَنَّ
“Jangan sekali-sekali engkau meremehkan.”
kemudian Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencontohkan:
وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum.”
Karena bertemu saudara dengan wajah tersenyum merupakan kebaikan.
Ingat firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa yang melakukan kebaikan sebesar dzarrah, maka dia akan melihat hasilnya.” (QS Al-Zalzalah: 7)
Allah tidak akan melupakan kebaikan apapun meskipun sebesar dzarrah.
⇒ Dzarrah, disebutkan oleh sebagian Ahli Tafsir bisa dimaknakan dengan salah satu dari 3 makna:
• ⑴ Semut kecil
Yang semut kecil itu seandainya kita letakkan di daun timbangan untuk mengetahui berapa gram beratnya seakan-akan hampir-hampir tidak terasa beratnya.
Kalau semut itu berada di pundak kita tidak akan merasa kalau ada semut karena saking ringannya.
⇒ Artinya, kalau ada orang berbuat kebaikan meskipun beratnya sebesar semut ini maka Allāh akan beri balasan.
Maka jangan diremehkan dan balasannya akan ada dihari kiamat kelak.
• ⑵ Misalnya seseorang meletakkan kedua telapak tangannya di tanah sehingga tangannya kotor, kemudian dia tepukkan kedua tangannya maka tersisalah butiran-butiran kecil di tangannya, itulah dzarrah.
Kalau kita ambil satu butir dari butiran-butiran yang ada tersisa di telapak tangan kemudian kita timbang itulah dzarrah.
Kalau kita letakkan di timbangan mungkin tidak ketahuan berapa beratnya, saking ringannya.
• ⑶ Misalnya seorang membuka jendela maka masuk cahaya matahari maka akan dia akan lihat butiran-butiran debu di udara, itulah dzarrah.
Artinya kalau kita ambil 1 butir dan kita timbang tidak akan terasa beratnya.
Namun disisi Allāh Subhānahu wa Ta’ala , Allah tahu beratnya dan Allah akan beri balasannya.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa melakukan kebaikan sebesar dzarrahpun, Allāh akan berikan balasan.”
Ingatlah, Allāh Maha Tahu. Allāh mengatakan:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kebaikan apapun yang kalian lakukan maka Allāh Maha Mengetahui.”
(QS Al-Baqarah: 215)
Meskipun orang lain tidak tahu engkau senyum kepada orang lain, mungkin orang tidak peduli dengan senyumanmu atau mungkin engkau sendiri juga lupa dengan senyumanmu, tapi Allāh tidak lupa.
Allah mengatakan:
فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Allāh mengetahui senyumanmu tersebut, Allāh mengetahui kebaikanmu tersebut.
Jadi kita berusaha melakukan kebaikan apapun meskipun orang lain tidak tahu, Allāh Maha Tahu.
Meskipun orang lain melupakan kebaikan kita atau bahkan kita sendiri melupakan kebaikan kita.
Dan Allāh tidak akan lupa dan Allāh akan memberi ganjaran di akhirat kelak.
Betapa kita butuh dengan kebaikan di akhirat kelak karena di akhirat kelak kita butuh timbangan kebaikan kita menjadi berat.
Oleh karenanya kita berusaha melakukan kebaikan apapun; senyum kepada saudara.
⇒ Ini akan menambah beratnya timbangan kebaikan kita di akhirat, jangan kita remehkan.
Oleh karenanya, seorang berusaha melatih diri untuk bertemu dengan saudaranya dengan wajah berseri-seri, dengan wajah senyum.
Jangan bertemu dengan saudaranya dengan wajah muram, kusam, garang, tetapi kita harus tawādhu’ (rendah diri).
Apa salahnya jika kita senyum?
Apakah kalau kita senyum dengan orang lain berarti kita rendah?
Terkadang setan datang mengabarkan kepada kita kalau kita senyum kepada orang seakan-akan kita rendah, sehingga kita dengan wajah masam seakan-akan angkuh.
Kita berusaha senyum kepada setiap orang, hal ini menunjukkan kita tawādhu’ di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita senyum kepada dia karena perintah dari Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam dan ini pasti ada balasannya di akhirat kelak.
Oleh karenanya, tebarkanlah senyuman maka niscaya Anda akan mendapatkan ganjaran sebanyak-banyaknya di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
HADITS 11- *anjuran memperhatikan tetangga*
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً, فَأَكْثِرْ مَاءَهَا, وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ – أَخْرَجَهُمَا مُسْلِمٌ
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan berilah kepada tetanggamu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2625]
Faedah Hadits
Hadits ini maksudnya jika kita memasak daging berkuah, maka hendaklah memperbanyak kuahnya untuk diberikan kepada tetangga. Karena memperbanyak kuah lebih mudah daripada memperbanyak daging.
Memperbanyak kuah daging tadi untuk menunjukkan bahwa kita diajarkan untuk tidak pelit (bakhil).
Hadits ini mengajarkan akhlak mulia dengan berbuat baik pada tetangga.
Tetaplah berbuat baik walau dengan sesuatu yang sedikit.
Tetangga diperintahkan menghadiahi tetangganya, apalagi jika tetangga sampai mencium bau masakan.
Kita diperintahkan untuk membuat orang lain bahagia.
Hadiah punya manfaat untuk menebar kasih sayang, memperkuat hubungan persahabatan, dan rasa cinta lebih-lebih pada tetangga. Karena bisa jadi sesama tetangga sering terjadi masalah, bisa jadi karena anak atau karena hubungan tetangga.
Hadits 12 *Menghilangkan penderitaan sesama muslim*
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Dari shāhabat Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang Muslim penderitaannya dari penderitaan di dunia, maka Allāh akan menghilangkan penderitaannya dari penderitaan-penderitaan hari Kiamat.
Barangsiapa yang memudahkan bagi orang yang mengalami kesulitan karena terlilit hutang, maka Allāh akan memudahkan baginya urusan di dunia dan di akhirat.
Barangsiapa yang menutupi aib orang Islam, maka Allāh akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allāh senantiasa menolong hamba tersebut jika seorang hamba menolong saudaranya.”
(HR Muslim)
Hadits ini menunjukkan kaidah yang sangat agung yaitu:
الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ
“Balasan sesuai dengan amal perbuatan.”
Barangsiapa yang melakukan kebaikan maka Allāh akan balas dengan kebaikan, barangsiapa yang melakukan keburukan maka Allāh akan balas dengan keburukan.
Lihat hadits ini,
• Barangsiapa yang menghilangkan penderitaan orang lain Allāh akan menghilangkan penderitaannya.
• Barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allāh akan mengilangkan kesulitannya.
• Barang siapa yang menutup aurat seorang Muslim maka Allāh akan menutup auratnya.
• Barang siapa menolong seorang hamba maka Allāh akan menolongnya.
Ini semua menunjukkan bahwasannya “balasan seusai dengan perbuatan”.
Dan hadits ini membicarakan beberapa permasalahan.
■ PERTAMA
Yaitu sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang menghilangkan penderitaan seorang muslim dari penderitaan-penderitaannya di dunia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan penderitaanya pada hari kiamat kelak.”
“Karena penderitaan di dunia tidak ada apa-apanya (tidak ada bandingannya) jika dibandingkan dengan penderitaan pada hari kiamat kelak.”
Sesungguhnya penderitaan pada hari kiamat kelak sangatlah berat. Oleh karenanya Allah menyediakan bagi orang yang menghilangkan penderitaan sauadaranya di dunia, Allah akan menghilangkan penderitaannya di akhirat.
Seperti dalam hadits disebutkan:
يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ , يُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ , فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لا يُطِيقُونَ وَلا يَحْتَمِلُونَ , فَيَقُولُ النَّاسُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : أَلا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ , أَلا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwasanya,
• Allāh akan mengumpulkan seluruh manusia sejak awal sampai akhir di satu dataran.
• Matahari akan direndahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
• Maka orang-orang akan mengalami penderitaan dan kesulitan dan penderitaan yang mereka tidak mampu untuk menghadapinya, mereka tidak mampu untuk memikulnya.
• Maka sebagian orang berkata kepada yang lainnya, “Tidakkah kalian melihat yang kalian rasakan, tidakkah kalian melihat siapa yang bisa memberi syafa’at bagi kita di sisi Rabb kita.”
(HR Bukhari dan Muslim)
(HR Bukhari dan Muslim)
Juga membantu orang yang punya hutang..
Hutang adalah penderitaan
Cara bantu orang yang berhutang.
1. Memberi tenggang waktu atau tempo yang lebih panjang bila kesulitan
2. Memberi keringanan hutang (tidak full)
3. Yang terbaik, kita ikhlaskan.
Hadits 13- *KEUTAMAAN ORANG YANG MENUNJUKKAN KEPADA KEBAIKAN*
Kita lanjutkan hadits berikutnya:
وعَنْ ابن مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ، فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فاَعِلِهِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .
Dari shahābat Ibnu Mas’ud radhiyallahu Ta’ala anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka bagi dia pahala yang orang yang mengerjakan kebajikan tersebut.”
(HR Muslim)
Hadits ini adalah hadits yang agung, yang menjelaskan tentang keutamaan memberi petunjuk kebaikan kepada orang lain.
⇒ Artinya, barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan APAPUN, maka mencakup kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.
Dan kalau kita perhatikan hadits ini, kita bacakan haditsnya secara lengkapnya di dalam Shahih Muslim, kita akan dapati hadits ini datang dalam bentuk masalah kebaikan duniawi, yaitu:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أُبْدِعَ بِي فَاحْمِلْنِي فَقَالَ مَا عِنْدِي فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَدُلُّهُ عَلَى مَنْ يَحْمِلُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Dari Ibnu Mas’ud Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”
Kemudian lelaki ini berkata:
“Yā Rasulullah , sesungguhnya tungganganku (ontaku) tidak bisa lagi aku naiki maka berilah tunggangan bagiku.”
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:
“Aku tidak memiliki tunggangan yang bisa aku berikan kepadamu.”
Tiba-tiba ada seorang lelaki mengatakan:
“Yā Rasulullah , aku bisa menunjukkan kepada orang ini terhadap orang yang bisa memberikan tunggangan kepada dia.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan,
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, bagi dia seperti pahala orang yang melakukannya.”
Perhatikan di sini, hadits ini berkaitan dengan kebaikan dunia.
Artinya, ada orang yang tidak memiliki tunggangan dan dia minta tolong kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar diberi tunggangan.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “Aku tidak memiliki tunggangan untuk aku berikan kepadamu.”
Ada lelaki (shahabat) lain mengatakan, “Saya bisa menunjukkan ada orang yang bisa memberikan dia tunggangan.”
Si penunjuk ini, dia tidak memiliki tunggangan, tetapi dia bisa menunjukkan kepada “donatur” yang punya tunggangan yang bisa dipakai oleh orang yang minta tunggangan tadi.
Ternyata dia juga dapat pahala sebagaimana “donatur” tadi.
“Donatur” tadi yang mempunyai tunggangan mendapat pahala karena memberi tunggangan kepada lelaki yang minta tunggangan.
Demikian juga lelaki yang memberi petunjuk yang menunjukkan kepada “donatur” tersebut.
Subhanallah , betapa besar karunia Allãh Subhanahu wa Ta’āla dan betapa luas rahmat Allãh Subhānahu wa Ta’āla.
Lelaki ini tidak punya uang/kemampuan/tunggangan, namun dia hanya menunjukkan kepada orang yang punya tunggangan, ternyata kata Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, dia juga berpahala sebagaimana orang yang memiliki tunggangan untuk diberikan kepada orang lain.
Padahal ini berkaitan dengan masalah kebaikan dunia (masalah memberikan tunggangan kepada orang lain), bagaimana lagi tentang masalah akhirat?
Seperti seseorang yang menunjukkan kepada orang lain bagaimana belajar shalat yang benar, bagaimana beraqidah yang benar.
Kalau seseorang mungkin tidak mampu jadi ustadz, tidak mampu untuk menjelaskan tentang ‘aqīdah dan fiqih, tapi dia menunjukkan dimana tempat ustadz, maka sebagaimana orang tadi yang menunjukkan dimana lokasi “donatur” yang bisa membantu dia, juga berpahala.
Contoh, kita tahu ada rencana bangun masjid, maka kita info ke para donatur, maka pahala bangun masjid pun kita akan dapat..
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-$$##


