SHIRAH # BILAL BIN RABAH
- SHIRAH # HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB (1)
- SHIRAH # HAMZAN BIN ABDUL MUTHALIB (2) & ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB
- SHIRAH # BILAL BIN RABAH
- SHIRAH # SA’AD BIN ABI WAQQASH (1)
- SHIRAH # SA’AD BIN ABI WAQQASH(2) – Perang Qadisiyyah
- SHIRAH # ABDULLAH IBNU UMMI MAKTUM
- SHIRAH # SA’ID BIN ZAID
- SHIRAH # ABU UBAIDAH BIN AL JARRAH
- SHIRAH # MUSH’AB BIN UMAIR
- SHIRAH # THALHAH BIN UBAIDILLAH
Diterbitkan pertama kali pada: 01-Jul-2020 @ 21:23
8 menit membacaShirah Sahabat – BILAL bin Rabah.
Ustadz Muhammad Anwar Lc, MPd
21 Jumadil Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mempunyai muadzin tidak hanya satu,
1. Bilal bin Rabah (Madinah)
2. Abdullah bin Umi Maktum (Madinah)
3. Abu Mahdzurah (Makkah)
Bilal lahir dari pasangan budak (Toba dan Hamamah). Hamamah adalah budak dari Habasyah, namun sebelumnya adalah bangsawan..
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Suatu saat Rasulullah ﷺ di suatu ladang berjumpa dengan Bilal saat gembala ternak. Saat itu Bilal belum tahu kalau Rasulullah ﷺ adalah Nabi utusan Allah.
Rasulullah ﷺ ditemani Abu Bakar.
Rasulullah ﷺ meminta kepada Bilal susu dari kambing jatah Bilal untuk diperas susunya. Dan kambing itu karena keberkahan Rasulullah ﷺ dengan hasil susu yang banyak dan mereka semua kenyang.
Bilal takjub dan bertanya siapa mereka, dan singkat kata Rasulullah ﷺ menjelaskan siapa mereka dan bagaimana Islam yang tidak mengenal perbedaan kasta. Pengikut orang merdeka dan hamba sahaya.
Akhirnya Bilal masuk Islam dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk sembunyikan agamanya.. Ini kisah versi pertama.
Kisah versi 2,saat para pembesar Quraisy rapat di rumah Umayyah bin Khalaf yang ingin hentikan dakwah Rasulullah ﷺ.
Bilal kemudian cari tahu Nabi ﷺ dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, yang ternyata dakwah Rasulullah ﷺ berbeda dan bertentangan dengan kebiasaan pembesar Quraisy tersebut.
Akhirnya Bilal berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, dan terjadi percakapan yang mencerahkan dan akhirnya Bilal bin Rabah masuk Islam.
Masuk Islamnya Bilal akhirnya ketahuan oleh Umayyah bin Khalaf, karena sering asyiknya Bilal berjumpa dengan Nabi ﷺ untuk belajar.
Umayyah bin Khalaf marah mengetahui Bilal sabak (murtad dari agama mereka). Dan Bilal menyatakan dengan tegas bahwa Bilal masuk Islam.
Umayyah sangat marah dan menyiksa Bilal dibantu oleh orang-orangnya.
Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).”
Kata Ahad inilah yang membuat Quraisy musyrikin marah…
Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas (yang dipanaskan dengan api) , Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Umayyah bahkan menyerahkan kepada siapa saja untuk menyiksa Bilal tanpa ada tuntunan jika Bilal mati.
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Bilal sangat kuat menahan siksaan kaum Quraisy musyrikin, dan ada budak lain yang tidak tahan yaitu Ammar bin Yasir yang tidak tahan melihat orang tuanya di siksa sampai meninggal. Ibu Ammar yaitu Sumayah adalah syahidah pertama dalam Islam.
Akhirnya Ammar ucapkan kalimat kufur, karena paksaan Quraisy,yaitu mendustakan Rasulullah ﷺ. Setelah itu Ammar bin Yasir dibebaskan namun hatinya gundah dan menceritakan ini kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ menyatakan tidak apa-apa karena dalam paksaan.. Dan membacakan firman Allah..
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Qs An Nahl 106.
Kisah Bilal yang tahan siksaan ini, seperti juga dialami oleh Imam Ahmad yang disiksa selama 3 Khalifah, karena mempertahankan kebenaran bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah. Bukan makhluk seperti pemahaman kaum mu’tazilah (Khalifah terfitnah dengan pemahaman ini oleh Ibnu Abi Duat)
Kenapa Bilal tahan siksaan?
Ada 2 hal bercampur yang dirasakan oleh Bilal..
1. Manisnya Iman
2. Pedihnya siksaan.
Namun manisnya Iman lebih besar dirasakan oleh Bilal..
Saat itu banyak budak2 lain juga disiksa seperti Ammar, Sumayah, Yasir, Suhaib Ar Rumy.
Sedangkan muslimin yang pembesar di kaum nya tidak disiksa oleh Quraisy karena akan dibela oleh kaumnya.
Rasulullah ﷺ akhirnya iba melihat Bilal yang disiksa berat dan meminta shahabat nya untuk membebaskan Bilal, dan ini di sanggupi oleh Abu Bakar.
Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas. (riwayat lain 5 uqiyah)
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus (riwayat lain seribu) uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Hal ini untuk meninggikan derajat Bilal dan Agama Islam.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى}
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. (Al-Lail: 17)
Yakni kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang bertakwa dan orang yang paling bertakwa, kemudian dijelaskan oleh firman berikutnya siapa yang dimaksud dengan orang yang bertakwa itu:
{الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى}
(yaitu) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. (Al-Lail: 18)
Yaitu membelanjakan hartanya untuk jalan ketaatan kepada Tuhannya, untuk mensucikan dirinya, hartanya dan segala apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya berupa agama dan dunia.
{وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى}
padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. (Al-Lail: 19)
Maksudnya, pembelanjaan yang dikeluarkannya itu bukanlah untuk membalas jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain kepadanya, melainkan dia mengeluarkannya hanya semata-mata.
{ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى}
tetapi semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. (Al-Lail: 20)
Keutamaan Bilal,
1. Kemarahan Bilal membuat kemarahan Allah
2. Surga merindukan Bilal.
Ada hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menyatakan surga merindukan tiga orang yaitu Ali, Ammar dan Bilal.. Riwayat Tirmidzi, hasan.
Juga hadits lain..
أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، فَدَعَا بِلاَلاً، فَقَالَ: “يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ إِنِّي دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي”. فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “بِهَذَا”
“Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap bersuaramu (suara sandalnya) di depanku.” Bilal mennjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan (setelahnya) aku sholat dua rakaat. Dan tidaklah diriku berhadats (batal wudhu), melainkan aku langsung wudhu lagi dan sholat dua rakaat.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Dengan amalan inilah (engkau begitu cepat masuk surga).” (HR. al-Hakim 1179).
Ini bukan bidah karena telah dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
3. Bilal adalah orang yang pertama kali adzan..
Azan disyari’atkan di Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Inilah pendapat yang lebih kuat. Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadits Ibnu ‘Umar, di mana beliau berkata,
كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا ، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ . فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ »
“Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kira waktu sholat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi.
Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah azan untuk shalat.” (HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377).
Hadits ada 3:
1. Qouli (perkataan Rasulullah ﷺ)
2. Fi’li (perbuatan Rasulullah ﷺ)
3. Taqrir (sesuatu yang disetujui atau Rasulullahﷺ mendiamkannya)
Dalam riwayat yang ditulis oleh Imam Ahmad, Abdullah bin Zaid menceritkan bahwa, “Ketika Rasulullah udah menyetujui dipukulnya lonceng guna memanggil orang-orang untuk shalat, padahal sebenarnya beliau tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nashrani. Maka pada suatu malam ketika aku (Abdulah bin Zaid) tidur, tiba-tiba aku bermimpi, ada seorang laki-laki yang mengenakan dua pakaian hijau, mengelilingiku, sedang di tangannya ada lonceng yang dibawanya,”
Abdullah bin Zaid melanjutkan, “Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Hai hamba Allah, apakah lonceng itu akan kau jual‘?”
Ia pun bertanya balik, “Akan kau pergunakan untuk apa?”
“Akan kupergunakan memanggil (orang) untuk shalat’,” Jawab Abdullah bin Zubair.
“Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik daripada itu?” Tanya orang tersebut lebih lanjut.
“Ya, baiklah’,” Jawab Abdullah bin Zubair
Ia berkata, “Yaitu hendaklah engkau ucapkan:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.
Hayya ‘alash sholaah, Hayya ‘alash-sholaah.
Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Laa ilaaha illallaah,”
Abdullah bin Zaid berkata, “Kemudian aku mundur tidak seberapa jauh. Lalu orang itu berkata, “Apabila engkau iqamah, sebutlah:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.
Hayya ‘alash sholaah. Hayya ‘alal falaah.
Qod qoomatish-sholaah, Qod qoomatish-sholaah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.
Laa ilaaha illallaah,”
Abdullah bin Zaid berkata, “Kemudian setelah waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepada beliau apa yang aku impikan tersebut,”
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insyaAllah,” Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan adzan. Maka Bilal maula Abu Bakar beradzan dengan lafadh-lafadh tersebut dan menyeru Rasulullah ﷺ untuk shalat.
Abdullah bin Zaid berkata, “Lalu pada suatu pagi Bilal datang kepada Nabi ﷺ memanggil beliau untuk shalat Shubuh. Lalu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ masih tidur, lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan suara yang tinggi, ”Ashsholaatu khoirum minan nauum (Shalat itu lebih baik dari pada tidur).” Sa’id bin Musayyab (perawi) berkata, “Lalu lafadh ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk shalat Shubuh.” (HR. Ahmad)
Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ
SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK
(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)

