This entry is part 21 of 46 in the series dosabesar_MBAW
7 menit membaca

🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#22*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 18 Sya’ban 1446H/16 Februari 2025
Ba’da Maghrib

➡️ *BAB KEJAHILAN*

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 179)

Diantara musibah seseorang adalah membiarkan dirinya di atas kejahilan.
Dimana seseorang harus punya ilmu, yaitu ilmu agar tegak agamanya. Ilmu dasar, ilmu yang terkait tentang apa yang dia lakukan. Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib diketahui setiap muslim.

Betapa banyak orang yang dzalim dalam perdagangan karena kebodohannya.
Betapa banyak suami istri saling dzalim juga karena kebodohan.

Orang-orang kafir tahu ilmu dunia tapi tidak ada tahu syariat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 7)

Dari Ibnu Abbas, Mu’awiyah’ serta selain keduanya  radhiallahu’anhum, bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Kata مَن adalah kata tanya siapa.
Kata خيرًا خيرًا artinya kebaikan yang banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“ Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim)

Kenapa disebut tuntut ilmu? Karena itu jalan termudah.
Dengan ilmu bisa di tahu skala prioritas, bisa tahu gabung amalan, bisa tahu jalan-jalan keburukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘tidak mungkin disamakan antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (QS. Az-Zumar/39; 9)

Kemudian Syaikh menyampaikan tentang fitnah kubur.

Dari Al Barra Bin Azib.. : Bahwa orang yang murtab (ragu) adalah orang yang jika ditanya oleh dua malaikat akan menjawab : “Hah, Hah (kalimat yang dikatakan oleh orang yang bingung, dimana karena ketakutannya atau tidak fasih, dia tidak mampu untuk memakai lisannya). Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang yang berkata sesuatu, kemudian aku mengatakannya.”

Himpitan kubur itu berlaku bagi semua orang baik orang sholeh maupun tidak sholeh. Sama seperti sakaratul maut.
Himpitan kubur, hikmahnya adalah untuk gugurkan dosa, angkat derajat.

Himpitan kubur untuk orang beriman, itu bukan siksa kubur. Beda dengan orang yang tidak beriman.

Malaikat munkar dan nankir pasti akan memberi ujian/fitnah kepada semua orang yang meninggal.
Diantara yang ditanya juga orang munafik dan orang kafir.

❗Diantara sebab orang yang tidak bisa jawab pertanyaan dua malaikat di alam barzakh adalah keraguan, Karena kejahilan.

Kalau orang kafir ragu Karena kebenaran Islam.

Kejahilan adalah diantara sebab banyak kedzaliman, banyak kekufuran, banyak kemusyrikan.

🔸Hadits nya yang panjang…

“Kami bersama Rasulullah ﷺ keluar untuk melihat jenazah seorang laki-laki Anshar, kami pun tiba di pemakaman. Ketika lubang lahat telah dibuat, Rasulullah ﷺ duduk, lalu kami ikut duduk di sisinya. Kami diam, seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Saat itu beliau memegang sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah, beliau lalu mengangkat kepalanya dan bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.”

Beliau ucapkan kalimat itu hingga dua atau tiga kali. Demikanlah tambahan dalam hadits Jarir. Beliau melanjutkan, “Sungguh, mayat itu akan dapat mendengar derap sandal mereka saat berlalau pulang; yakni ketika ditanyakan kepadanya, ‘Wahai kamu, siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?’ -Hannad menyebutkan;

Beliau bersabda, – “Lalu ada dua malaikat mendatanginya seranya mendudukkannya. Malaikat itu bertanya, “Siapa Rabb-mu?” ia menjawab, “Rabb-ku adalah Allah.” Malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Agamaku adalah Islam.”

Malaikat itu bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini?’ ia menjawab, “Dia adalah Rasulullah ﷺ.” malaikat itu bertanya lagi, “Apa yang kamu ketahui?” ia menjawab, “Aku membaca kitabullah, aku mengimaninya dan membenarkannya.”

Dalam hadits Jarir ditambahkan, “Maka inilah makna firman Allah: ‘(Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman…) ‘ hingga akhir ayat. -QS. Ibrahim: 27- kemudian kedua perawi sepakat pada lafadz, “Beliau bersabda, “Kemudian ada suara dari langit yang menyeru, “Benarlah apa yang dikatakan oleh hamba-Ku, hamparkanlah permadani untuknya di surga, bukakan baginya pintu-pintu surga dan berikan kepadanya pakaian surga.”

beliau melanjutkan, “Kemudian didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu kuburnya diluaskan sejauh mata memandang.” Beliau melanjutkan, “Jika yang meninggal adalah orang kafir, maka ruhnya akan dikembalikan kepada jasadnya.

Saat itu datanglah dua malaikat serya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapa Rabb-mu?” ia menjawab, “Hah, hah, hah. Aku tidak tahu.” Malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.” Malaikat itu bertanya lagi, “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini?’ ia menjawab, “Hah, hah. Aku tidak tahu.”

Setelah itu terdengar suara dari langit, “Ia telah berdusta. Berilah ia hamparan permadani dari neraka, berikan pakaian dari neraka, dan bukakanlah pintu-pintu neraka untuknya.” Beliau melanjutkan, “Kemudian didatangkan kepadanya panas dan baunya neraka. Lalu kuburnya disempitkan hingga tulangnya saling berhimpitan.”

Dalam hadits Jarir ditambahkan, “Beliau bersabda, “Lalu ia dibelenggu dalam keadaan buta dan bisu. Dan baginya disediakan sebuah pemukul dari besi, sekiranya pemukul itu dipukulkan pada sebuah gunung niscaya akan menjadi debu.” Beliau melanjutkan, “Laki-laki kafir itu kemudian dipukul dengan pemukul tersebut hingga suaranya dapat didengar oleh semua makhluk; dari ujung timur hingga ujung barat -kecuali jin dan manusia- hingga menjadi debu.”

Beliau meneruskan ceritanya, “Setelah itu, ruhnya dikembalikan lagi.” Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Al A’masy berkata, telah menceritakan kepada kami Al Minhal dari Abu Umar Zadzan ia berkata, Aku mendengar Al Bara dari Nabi ﷺ, beliau bersabda…. lalu ia menyebutkan seperti hadits tersebut.” (HR. Abu Dawud).

➡️ *BAB TAK TAHU MALU dan TIDAK PUNYA ADAB*

Diantara cabang keimanan adalah rasa malu.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari 70 sekian atau 60 sekian cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan la ilaha illalloh. Sedangkan cabang iman yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari tempat berlalu lalang. Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang pertama adalah keyakinan hati.
Dan hal berikut nya adalah amalan fisik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَّسْتَخْفُوْنَ مِنَ النَّا سِ وَلَا يَسْتَخْفُوْنَ مِنَ اللّٰهِ وَهُوَ مَعَهُمْ اِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطًا

“mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah karena Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 108).

Maksudnya kalau ada manusia, mereka tidak bermaksiat. Tetapi kalau sendirian melakukan kemaksiatan.
Ayat ini asalnya untuk orang kafir. Tetapi ini juga sindiran untuk orang muslim.

Sehingga seorang salaf berkata – jangan jadikan Allah sebagai yang paling rendah tingkatannya (urutan terakhir) dalam melihat kemaksiatan yang dilakukan.

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf tidak mau diajak zina oleh wanita bangsawan dengan alasan Rabb ku yang melihat.

إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ

Sesungguhnya Rabb ku telah perlakukan aku dengan baik. Ini diantara tafsir nya.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” HR Bukhari

Ini ternyata wasiat para nabi sejak awal. Syariat para nabi sepakat untuk punya rasa malu.

Rasa malu akan menjadikan adab yang mulia.
Bila di dasari agama maka jadinya malu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terlalu mengikuti dunia maya menyebabkan rasa malu berkurang.

🔸Ada dua tafsiran dari Hadits di atas.
1. Ancaman
2. Timbanglah semua perbuatan yang akan dilakukan.

➡️ *BAB TAMAK ATAS HARTA DAN KEMULIAAN*

Dari Ka’ab radhiallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ

“Dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing tidak lebih berbahaya/merusak baginya (kerusakan agama) daripada ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang tamak cari harta, kedudukan semua dilakukan sehingga agamanya bisa rusak. Tidak peduli.

Semangat harta itu benar bisa merusak agama.

Harta yang kita kumpulkan, yang dinikmati juga tidak banyak. Sisanya untuk ahli waris.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang harta kita sesungguhnya:

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat.

#alkabaair #sunnah #salaf #harta #malu #adab #Firanda

##$$-aa-$$##

Digita Template

dosabesar_MBAW

ALKABAIR – HATI DAN LISAN#21 ALKABAIR – HATI DAN LISAN#23
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?