ALKABAAIR # 48 (SEMENA-MENA)
- Syarah Kitab Al Kabaair #Bab 50 Mengganggu Kaum Muslimin dan Mencaci-maki Mereka
- Syarah Kitab Al Kabaair #49- MEMBERONTAK DAN MENGKAFIRKAN ORANG LAIN DIKARENAKAN MELAKUKAN DOSA BESAR
- ALKABAAIR#45 (ADU DOMBA) 46 (MERATAP DAN MENAMPAR MUKA SENDIRI)
- ALKABAAIR # 41 – MEMBENARKAN DUKUN DAN AHLI NUJUM
- ALKABAAIR # 39 – TUKANG MELAKNAT
- ALKABAAIR # 48 (SEMENA-MENA)
- ALKABAAIR # 36 (MENGUNGKIT KEBAIKAN) – 37 (TIDAK BERIMAN KEPADA TAKDIR)-38 (MENGUPING PEMBICARAAN)
- ALKABAAIR #34 (KHIANAT) – 35 (SEMBUNYIKAN ILMU)
- ALKABAAIR#29 (Yang Menhalalkan dan dihalalkan untuknya)-30 (Makan Bangkai, minum Darah, daging Babi)-31(Tidak Bersuci)
- ALKABAAIR # 31 (TIDAK BERSUCI SETELAH BUANG HADATS)-32 (PUNGUTAN LIAR)-33(RIYA)
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 19:07
7 menit membacaSyarah Kitab Al Kabaair -Bab 48- SEMENA-MENA
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
28 Jumadil Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Penting untuk senantiasa kita ingat karena thalibul ilmu adalah ibadah, maka syaitan selalu berusaha untuk mengganggu niat kita sehingga menjadikan kita terselip rasa malas, dan tidak semangat dalam belajar.. Sehingga kita harus selalu bersabar dalam duduk di majelis ilmu.
Dari Abdullah bin ‘Abbas dari Umar berkata: Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah. Kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehari aku yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hari lain dia yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika giliranku tiba aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba ia pun melakukan hal yang sama.
Juga kisah Ibnu Abbas yang sangat semangat mencari ilmu (hadits yang didengar para shahabat), dengan rela menunggu di depan rumah shahabat yang akan diambil ilmunya…
Bahkan diketahui bahwa kedudukan Ibnu Abbas yang mulia (nasab) namun beliau Ikhlas menemui dan menunggu di depan rumah sahabat.
Ibnu Abbas begitu sangat bersemangat dalam menuntut ilmu:
“aku menunggu salah seorang sahabat terakhir yang mendengarkan hadits dari Nabi ﷺ, dan mau menunggu di depan rumahnya sampai tertidur, karena tidak mau mengganggu sahabat yg mendengar hadits tersebut, dan ketika shahabat itu pulang berkata, “ kanapa engkau tidak mengutus seseorang datang kesini wahai putra paman Rasulullah …?
“aku sendiri yang mau belajar kepadamu “
Begitulah semangatnya Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu…
Syair Berkata…
“Siapa yg tdk merasa hina dirinya, tidak bersabar dengan hal tersebut maka dia akan menenggak kebodohan selamanya”
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Bab 48- Semena-mena.
Allah berfirman,
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
Qs Asy Syura ayat 42.
Dosa besar, dosa yang disebutkan ancaman dalam Al-Qur’an dan As Sunnah.
وَعَن أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَ اللَّهُ عَلَيهِ وَ سَلَم فِيمَا يَروِيهِ عَن رَبِّهِ، قَالَ: “يَا عِبَادِي إِنِّ حَرَّمتُ الظُلمَ عَلَى نَفسِي، وَجَعَلتُهُ بَينَكُم مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا…”
Dari Abi Dzar rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang Nabi riwayatkan dari Rabbnya (hadits qudsi), Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguuhnya Aku haramkan kezaliman atas Diriku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi”
HR Muslim..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).
Al Hasan Al Bashri mendefinisikan tawadhu : “Seorang keluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim, kecuali mengira bahwa yang ditemui itu lebih baik dari dirinya.” (Az Zuhd, hal. 279)
Disebutkan atsar perkataan Ibnu Abbas saking jeleknya kezaliman , “kalau saja satu gunung sombong kepada gunung yang lain niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan gunung yang sombong ini hancur.”
Demikian juga hadits yang menjelaskan akan dibalasnya kambing yang bertanduk yang dzalim kepada kambing yang tidak bertanduk.
Dan kita dianjurkan untuk berdoa berlindung dari kezaliman.
Doa Keluar Rumah yang kita tahu…
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Dan doa yang lain ada doa berlindung dari kezaliman..
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلْ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزْلَّ أَوْ أُزُلُ أَوْ أَظْلِمَ أَوْلَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-dari: aku tersesat, atau aku menyesatkan, aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku mendhalimi, atau aku didhalimi, atau kebodohanku atau dibodohi.”
Dan balasan dari kedzaliman ini disegerakan..
Rasulullah bersabda,
” مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرَ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ الْعُقُوبَةَ لِصَاحِبِهِ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa pun yang Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia serta menyimpan sebagiannya untuk di akhirat kecuali kezaliman dan memutus silaturahmi. (HR. Ahmad, Abu Daud & Tirmizi)
Seorang sahabat, Malik Ar Rahawi, pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, aku telah menyerahkan beberapa unta seperti yang engkau lihat dan aku tidak suka apabila ada seseorang yang melebihiku walaupun dengan sebuah tali sandal, apakah ini termasuk perbuatan semena-mena?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Perbuatanmu tidak termasuk semena-mena. Perbuatan semena-mena adalah meremehkan kebenaran atau beliau bersabda – merendahkan kebenaran dan meremehkan manusia.” (sanadnya kuat).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.(HR. Muslim no. 91)
Qarun ditelan bumi karena semena-mena dan kesombongan.
Karena kesombongan selalu dekat dengan kedzaliman.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di akhir hayat nya berwasiat kepada para sahabat, dengan perintah shalat dan tidak dzalim kepada para budak.. Apalagi yang bukan budak..
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh kita untuk duduk semeja dengan pembantu, kalau mereka menolak karena segan maka ambilkan makanan untuknya,artinya makan dengan makanan yang sama..
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut ulama, hadits ini Qiyas untuk hewan peliharaan yang lain.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kezaliman kepada hewan.. Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar..
لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran tembak.” (HR. Muslim, no. 1958)
Abu Mas’ud bercerita,” Pernah ketika aku memukul budak saya dengan cemeti, aku mendengar suara dari belakang yang berkata,”Ketahuilah wahai Abu Mas’ud”, namun aku tidak mengenali suara tersebut karena sedang marah”. Kemudian Abu Mas’ud melanjutkan perkataanya,” Ketika orang tersebut mendekat tenyata Rasulullah, Beliau bersabda lagi,”Ketahuilah hai Abu Mas’ud, ketahuilah hai Abu Mas’ud”!
Abu Mas’ud berkata lagi,”Maka kulepaskan cemetiku”.
Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ketahuilah hai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa untuk berbuat demikian atas dirimu daripada apa yang engkau perbuat atas budak ini.” Maka aku menjawab,” Aku tidak akan memukul seorang budak pun setelah ini selama-lamanya”
HR Muslim.
Dalam riwayat lain, Abu Mas’ud berkata “Wahai Rasulullah sekarang ia bebas karena Allah.”
Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “seandainya engkau tidak melakukannya (bebas kan budak) , niscaya api neraka akan menghanguskanmu.” HR Muslim.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingat kan doa orang yang di dzalimi..
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19)
Bila kita di dzalimi..
1. Boleh mendoakan keburukan
2. Boleh membalas dengan yang sama
3. Memaafkan itu lebih baik..
4. Yang paling tinggi, kita berikan kebaikan..
Ibnu Taimiyyah yang pernah di dzalimi musuhnya, namun saat musuh itu meninggal, Ibnu Taimiyyah malah menyantuni anak-anak musuhnya…
Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.
وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم
Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.
وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه
Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).
Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati . Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.”
Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ}
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. (Fushshilat: 34)
Yakni alangkah besarnya perbedaan di antara keduanya.
{ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. (Fushshilat: 34)
Maksudnya, barang siapa yang berbuat jahat terhadap dirimu, tolaklah kejahatan itu darimu dengan cara berbuat baik kepada pelakunya.
Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seekor keledai yang diberi cap (diberi tanda atau wasm) mukanya [2], beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللهُ الَّذِي وَسَمَهُ
“Laknat Allah untuk orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 2117)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi (mu’ahad) , maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
kafir mu’ahad yaitu orang kafir yang menjalin perjanjian antaradirinya dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang dalam rentang waktu yang sama-sama telah disepakati.
Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..
##$$-aa-$$##

