SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 31
- KAIDAH FIKIH #1: MUQADDIMAH-1
- SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 17 (Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di)
- KAIDAH FIKIH #2: Muqaddimah-2
- KAIDAH FIKIH #3: Muqaddimah 3
- KAIDAH FIKIH #4: Muqaddimah 4
- SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 31
- KAIDAH FIKIH #5: Semua Perintah Syariat Pasti Maslahatnya Lebih Besar
- KAIDAH FIKIH #6: HUKUM SARANA SAMA DENGAN HUKUM TUJUANNYA
- KAIDAH FIKIH #7: KESULITAN MENDATANGKAN KEMUDAHAN
- KAIDAH FIKIH #8: KEWAJIBAN SELALU BERGANTUNG KEPADA KEMAMPUAN
Diterbitkan pertama kali pada: 06-Okt-2024 @ 07:04
6 menit membaca🗒️ *SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 31* (Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di)
🎤 Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
Ahad, 2 Rabi’ul Akhir 1446H / 6 Oktober 2024 (Ba’da Subuh)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Alhamdulilah, Allah telah memberi nikmat hidayah untuk mudah melakukan kebaikan. Di luar sana banyak orang-orang yang tidak Allah beri kemudahan melakukan kebaikan.
➡️ *KAIDAH39 : Boleh mendahulukan ibadah dari syarat wajibnya tapi tidak boleh mendahulukan amal ibadah dari sebab wajibnya*
Sebab wajib diartikan tanda yang ditetapkan oleh syariat untuk bolehnya melakukan ibadah tertentu.
Sedang syarat wajib = tanda yang ditetapkan syariat untuk wajibnya melakukan ibadah tertentu.
🔹Dalil.
1. Hadits.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنِّي وَاللَّهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَا أَحْلِفُ عَلَى يَمِينٍ فَأَرَى خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا كَفَّرْتُ عَنْ يَمِينِي وَأَتَيْتُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ أَوْ قَالَ أَتَيْتُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفَّرْتُ عَنْ يَمِينِي
Sesungguhnya aku, demi Allah, Insya Allah jika aku bersumpah atas sesuatu, kemudian melihat yang lebih baik darinya, aku akan menebus sumpahku dan kembali kepada yang lebih baik darinya, atau beliau bersabda: “aku mengambil yang lebih baik darinya dan menebus sumpahku.”
[Ibnu Majah]
Bila Rasulullah ﷺ telah bersumpah untuk melakukan sesuatu dan setelah itu melihat bahwa tidak melakukan lebih baik maka beliau ﷺ menebus sumpah itu. Dan sebaliknya.
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh melakukan ibadah setelah ada sebab Wajib nya sebelum ada syarat wajibnya.
Sebab wajib tebusan = adanya sumpah
Syarat wajib tebusan = pelanggaran sumpah
Terjadinya sumpah = sebab wajib nya tebusan.
Jadi kalau ada orang telah bersumpah, dia boleh menebusnya walaupun belum melakukan pelanggaran.
🔸Contoh. Seseorang bersumpah : Demi Allah aku tidak akan berbicara dengan si Fulan sepatah kata pun,. Ternyata dia melihat Fulan ini orang baik.. Harus nya aku berbaikan dengannya.
Maka dia boleh menebusnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِا للَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَا نِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَ يْمَا نَ ۚ فَكَفَّا رَتُهٗۤ اِطْعَا مُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ ۗ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَا مُ ثَلٰثَةِ اَيَّا مٍ ۗ ذٰلِكَ كَفَّا رَةُ اَيْمَا نِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْ ۗ وَا حْفَظُوْۤا اَيْمَا نَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 89)
Tebusan sumpah.
Memberi makan yang layak kepada 10 fakir miskin atau memberi mereka pakaian yang layak atau memerdekakan budak.
Kalau tidak mampu maka dia puasa 3 hari.
Jadi orang yang sumpah gak mau bicara dengan Fulan itu – boleh dahulukan tebusan sebelum bicara dengan Fulan.
🔹Kaidah ini banyak sekali contohnya.
1. Tayamum.
Sebab wajib = tidak adanya air
Syarat wajib = keinginan menjalankan sholat.
Jadi sebelum ada keinginan jalankan sholat kita boleh tayamum.
Jadi kalau masih ada air maka tayamum tidak sah.
2. Menjamak sholat.
Sebab wajib = masuknya waktu sholat yang Pertama
Syarat wajib = masuk nya waktu sholat kedua.
Ketika masuk waktu sholat yang pertama, seseorang boleh menjamak sholat nya.
3. Tebusan untuk pembunuhan yang tidak disengaja.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَما كانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِناً إِلاَّ خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلى أَهْلِهِ إِلاَّ أَنْ يَصَّدَّقُوا
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) ; dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) merelakan.
Qs An Nisa ayat 92.
Tebusan = memerdekan budak.
Kalau orang bawa mobil tidak sengaja nabrak anak kecil yang tidak hati-hati, dan anak tersebut belum meninggal tapi dalam keadaan parah.
Tebusan boleh dilakukan sebelum anak tersebut meninggal.
Sebab wajib = adanya kecelakaan/tabrakan.
Syarat wajib = matinya anak tersebut.
Yang tidak boleh misalnya seseorang memerdekan budak dengan niat kalau ada kecelakaan dia tidak perlu bayar tebusan lagi. Karena sebab wajib nya belum ada.
3. Zakat harta
Sebab wajib = adanya nishob
Syarat wajib = sampai nishob tersebut bertahan pada haul (satu tahun).
Sehingga tidak ada zakat profesi (yang tidak ada haul), bahkan sering tidak ada nishob.
Sedikit orang yang gajinya per bulan tidak sampai nishob (misal 85 juta – dengan harga emas misal 1 juta per gram).
❗Oleh karena itu jangan membebani kaum muslimin akan sesuatu yang tidak diwajibkan syariat.
Jadi boleh mendahulukan zakat sebelum haul, tetapi gak boleh zakat sebelum mencapai nishob.
Jadi boleh misal sering zakat tahunan, katakan 10 juta, sebelum haul karena kami ingin menolong orang diberikan zakat 8 juta, maka saat haul dicapai, Dia tinggal bayar sisa kekurangan wajib zakatnya.
4. Mandi wajib
Sebab wajib = junub
Syarat wajib = keinginan untuk shalat (misal).
Kalau ada orang niat mandi besar sebelum junub maka tidak sah.
5. Wudhu
Sebab wajib = adanya hadats kecil
Syarat wajib = keinginan untuk sholat
Misal ada orang tidak berhadats wudhu, dan kemudian berhadats maka wudhu nya tidak cukup sebagai syarat sholat.
6. Ihram. (walaupun khilaf)
Sebelum seseorang melakukan pantangan ihram maka Dia tidak boleh bayar dam.
Karena belum ada sebab yang wajib.
7. Tebusan dalam masalah dzihar.
Dzihar = perkataan seorang suami kepada istrinya – anti wahai istriku seperti punggungnya ibuku.
Tujuan dzihar = haramkan istri untuk dijimak.
Jaman dulu ini sebagai hukuman.
Kalau ingin gauli istri ada tebusan.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala..
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami-isteri itu bercampur.
Qs An Nisa ayat 3.
Tebusan dibayarkan setelah ada sebab wajib dan syarat wajib.
Sebab wajib – adanya dzihar
Syarat wajib – keinginan untuk jimak.
Jadi boleh bayar tebusan sebelum ada keinginan jimak.
8. Upah untuk orang yang buat sesuatu.
Misal pesan tukang kayu untuk buat lemari.
Sebab wajib = adanya akad pesan
Syarat wajib. = ketika pesanan selesai dibuat.
Upah boleh diberikan Setelah ada akad pesanan. Baik sebagian maupun seluruhnya..
Setelah pesanan selesai maka wajib bayar pesanan seluruhnya.
➡️ *KAIDAH 40 : diwajibkan melakukan sesuatu yang diperintahkan secara sempurna namun apabila tidak mampu melakukan sebagiannya maka dia wajib yang dia mampui*
🔹Contoh.
1. Sholat
Kalau sempurna wajib melaksanakan syarat dan rukunnya.
Misal saat sakit – gak mampu berdiri maka boleh melakukan sesuatu yang jadi ganti.
Berdiri diganti duduk dst.
2. Zakat fitrah (badan). Zakat Fithri – zakat di hari raya Idul Fitri – kembalinya seseorang makan lagi.
Al Fithr – tidak puasa lagi.
Kalau orang sempurna – kecukupan – wajib bayar zakat fitrah – satu sha’ (hati-hati nya 3 kg, aman 2.5kg)
Kakau seseorang di hari itu hanya punya beras 1kg, maka dia hanya bayar 1kg.
3. Ada air sedikit yang tidak cukup untuk wudhu seluruh tubuh.
Apakah dia boleh wudhu sebagian atau boleh langsung tayamum?
Ada khilaf.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin – dia wajib gunakan air tersebut walaupun dia tahu air tidak cukup untuk wudhu.
Setelah itu dia tayamum.
Pendapat lain yang ustadz lebih condong adalah kalau memang sudah jelas air tidak cukup untuk wudhu maka langsung tayamum. Karena seolah-olah membuang air.
Wudhu agak samar, yang lebih jelas adalah mandi.
1 mud = takaran 600-700 mili.
Dulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mandi dengan 1 sha’ ( 4 mud), yaitu 2.5 liter air.
Maka orang yang hanya punya air 1 liter.
Juga ada khilaf.
Ustadz lebih condong ke pendapat yang langsung boleh tayamum Karena air tidak cukup.
Semoga bermanfaat.
#kaidahfikih #kaidahfiqih #fikih #fiqih #salaf #sunnah #maslahat #mudhorot
#tebusan #wudhu #tayamum
##$$-aa-$$##

