KASYFU SYUBHAAT #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-1 Muqaddimah
- KASYFU SYUBHAAT #-2 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-3 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-4 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-5 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-6 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-7
- KASYFU SYUBHAAT #-8 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-10 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
Diterbitkan pertama kali pada: 02-Okt-2022 @ 19:12
9 menit membaca*KASYFU SYUBHAAT* #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
🎙️Ustadz Dr. Firanda Andirja, LC, M.A
Ahad malam, 7 Rabi’ul Awal 1444 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan Jawaban untuk para pengikut kebatilan itu ada dua cara:
• Mujmal (secara global)
• Mufashshal (secara terperinci).
Jawaban secara mujmal itu merupakan sesuatu yang agung dan merupakan pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Hal itu adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan , maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari takwilnya” (Ali Imran:7)
Sebuah hadits shahih (dalam shahih Bukhari dan muslim) dari ‘Aisyah Radhiallahu‘anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمْ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى الله فَاحْذَرْهُمْ
“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah: (dengan sebutan “fi qulubihim zaigh”), maka waspadalah kalian terhadap mereka.”
✅ Jawaban global – ayat-ayat mutasyaabihaat dibawa ke ayat muhkam.
Artinya ada ayat-ayat yang jelas dan praktek Nabi ﷺ yang jelas.
✅ Demikian juga pada hadits yang makna yang bisa ditarik ulur, dibawa kepada hal yang jelas.
Sebagai contoh atas hal itu, apabila sebagian orang-orang musyrik itu mengatakan kepada anda:
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus: 62).
Dan bahwa Syafaat itu sesuatu yang haq (benar), dan bahwa para nabi itu mempunyai kedudukan dan tempat di sisi Allah. Atau sebagaimana orang musyrik itu menyebut suatu ucapan dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang ia gunakan dalil bagi suatu hal dari kebatilannya, sementara anda tidak mengerti makna ucapan yang ia sebut itu, maka hendaklah anda jawab dengan ucapan:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala sudah menyebut bahwa orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka meninggalkan ayat-ayat muhkamat dan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat. Dan apa yang saya tuturkan kepadamu, bahwa Allah telah menyebut bahwa orang-orang musyrik itu sama mengakui tauhid rububiyah dan bahwa kekufuran mereka adalah dengan sebab ketergantungan mereka kepada malaikat, para nabi dan para wali, padahal mereka sekedar mengucapkan:
هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” (Yunus:18).
Hal itu adalah merupakan sesuatu yang muhkam (baku, terang dan mudah difahami) lagi jelas, tidak seseorang pun kuasa untuk merubah maknanya. Dan apa yang kamu sebutkan kepada saya wahai orang musyrik, baik dari Al-Qur’an ataupun dari sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam saya tidak tahu maknanya. *Akan tetapi, saya yakin, bahwa kalam Allah tidak ada yang saling bertentangan. Dan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sama sekali tidak bertentangan dengan kalam Allah. Itulah jawaban yang tepat.*”
🔸Kekufuran orang musyrik itu adalah karena ketergantungan mereka kepada malaikat.
✔️*Akan tetapi jawaban itu hanya akan difahami oleh orang yang diberi taufiq oleh Allah Subhanahu wata’ala. Maka anda jangan menyepelekan hal itu.* Sebab, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 35).
Adapun jawaban kedua yang mufashshal, ialah: bahwasanya musuh-musuh Allah itu mempunyai banyak dalil yang bersifat menentang untuk menghalangi manusia dari agama Allah.
Jawaban global – kembalikan ayat-ayat mutasyaabihaat kepada ayat-ayat muhkam.
Kaum musyrikin akui Rububiyah Allah
Kaum musyrikin akui sesembahan Mereka tidak bisa apa-apa.
Contoh ayat muhkam – QS 11 ayat 18
Qs 19 ayat 42
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا ۗ اُولٰٓئِكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَ يَقُوْلُ الْاَ شْهَا دُ هٰۤؤُلَآ ءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْ ۚ اَ لَا لَـعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim,”
(QS. Hud 11: Ayat 18)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْ قَا لَ لِاَ بِيْهِ يٰۤـاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَ لَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـئًـا
“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
(QS. Maryam 19: Ayat 42)
Ibnu ‘Abbas berkata:
كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ ». فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ
“Dahulu kaum musyrik berkata: ‘Labbaik laa syarika laka’ (Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, tidak ada syarikat bagi-Mu).” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Celaka kalian, sudah cukup, cukup (yaitu jangan disambung lagi).” Namun kaum musyrik itu melanjutkan: “Kecuali sekutu yang merupakan milik-Mu, Engkau memilikinya dan dia tidak memiliki apa-apa.” Mereka mengucapkan ini tatkala mereka tawaf di Ka’bah.”
3. Ayat muhkam – Kaum musyrikin hanya cari syafaat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هٰۤؤُلَآ ءِ شُفَعَآ ؤُنَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗ قُلْ اَتُـنَـبِّــئُوْنَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَ رْضِ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberi tahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di Bumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan itu.”
(QS. Yunus 10: Ayat 18)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)
Di sini butuh penguasaan ayat-ayat muhkam.
Tiga Syubhat Terbesar
Di antaranya adalah ucapan mereka: “Kami tidak menyekutukan Allah, bahkan kami bersaksi bahwa tiada yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memberi manfaat dan tidak ada yang memberi madharat kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam itu tidak berkuasa menarik manfa’at bagi dirinya dan tidak pula menolak kemudharatan, apalagi syaikh Abdul Qadir atau lainnya. Akan tetapi, saya orang yang berdosa, dan sementara orang-orang shalih itu mempunyai jaah (pangkat/kedudukan ) di sisi Allah. Maka saya memohon kepada Allah dengan perantara mereka, ” (saya minta kepada mereka kemudian mereka minta kepada Allah).
Mereka minta kepada wali.
1️⃣ *Syubhat pertama. Membatasi syirik pada Rububiyah saja.*
⛔ Dalam buku-buku orang sufi, *mereka yakini Abdul Qadir Jailany diberi KUN*
Untuk itu anda harus jawab dengan jawaban yang sudah lewat (di atas), yaitu, bahwasanya orang-orang yang diperangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mereka mengakui apa yang kamu sebutkan itu, mereka juga mengakui, bahwasanya berhala-berhala (patung) mereka tidak dapat mengatur urusan apapun, hanya saja mereka ingin dirinya kedudukan dan syafa’at (pertolongan), dan bacakan kepadanya dalil-dalil yang sudah disebutkan terdahulu oleh Allah dalam kitab-Nya serta sudah diperjelas oleh Nya.
⛔ *BANTAHAN*
🔸1. Orang-orang musyrikin arab juga tahu sesembahan mereka tidak bisa apa-apa
🔸2. Qiyas yang salah antara Allah dan raja
🔸3. Jika engkau berdosa segera minta ampun kepada Allah, (para sahabat) tak pernah disuruh pergi ke kuburan. (ayat dan hadits banyak)
*Imam Malik tinggal di Madinah, ketemu para shahabat dan Tabiin. Dan tidak ketemu acara maulud Nabi.
Ketika Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali tidak lakukan Maulud Nabi… Artinya mereka lebih tahu cara mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam.*
🔸4. Keshalihan orang sholeh mereka tidak ada hubungannya dengan kalian.
2️⃣ *Syubhat kedua*
Jika mereka mengatakan: “ayat-ayat itu kan turun untuk menerangkan tentang orang- orang yang menyembah berhala-berhala, bagaimana kalian menyamakan orang- orang shalih itu dengan berhala?”
🖍️ *Ini adalah menyampaikan syubhat dengan perasaan*
Perkataan itu hendaklah anda jawab dengan apa yang sudah tertera di atas. Sebab, jika dia mengakui, bahwa orang-orang kafir itu bersaksi, bahwa seluruh Rububiyyah itu untuk Allah semata, dan mereka tidak menginginkan dari makhluk atau benda yang mereka tuju dalam pemujaan mereka itu selain syafa’at, hanya saja dia ingin sekedar membedakan antara perbuatan mereka dan perbuatannya dengan apa yang sudah ia tuturkan itu.
🔸Yang jadi patokan kesyirikan adalah bukan apa yang disembah,tapi selain Allah.
🔸Kaum musyrikin tidak semuanya menyembah patung, ada yang menyembah malaikat, jin, orang-orang sholeh (latta, uzza, dst). Patung yang mereka sembah itu simbol orang-orang sholeh.
Patung yesus juga simbol.
🔸Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu berkata : Maka, katakan kepadanya bahwa di antara orang-orang kafir itu, *ada yang berdo’a kepada orang-orang shalih dan berhala-berhala.* (ingin rahmat Allah, ingin dekat Allah sehingga tidak pantas disembah) ✔️
Maryam dan Isa bin Maryam juga perlu makan, tidak pantas untuk disembah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّا سِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُ مِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَا لَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْۤ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَاۤ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّا مُ الْغُيُوْبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 116)
Ada juga yang berdo’a kepada para wali, yang mana Allah Subhanahu wata’ala telah katakan tentang mereka:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb (Pemelihara) mereka. Siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). (Al Isra’: 57).
Mereka berdo’a kepada Nabi ‘Isa bin Maryam dan ibunya, padahal Allah Subhanahu wata’ala sudah berfirman:
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Al-Masih (Isa) putera maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan Makanan. Perhatikan bagaimana kita menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari memperhatikan ayat-ayat itu).” (Al Maidah: 75).
Dan bacakan kepadanya firman Allah Ta’ala:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلائِكَةِ أَهَؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? “Malaikat-malaikat itu menjawab: maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin (syetan), kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’: 40-41).
Dan juga firman Allah Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
“Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” menjawab (Isa):“Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya)”. (Al Maidah:116).
*BANTAHAN* Lalu katakan padanya: “kamu kini sudah tahu, bahwa Allah telah mengkafirkan orang yang menunjukan pemujaannya kepada berhala-berhala. Dan Allah telah mengkafirkan orang yang menujukan pemujaannya kepada orang-orang shalih, dan orang-orang yang semacam itu telah diperangi oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam“.
✅ *3. Syubhat ketiga*
Jika mereka mengatakan: “Orang-orang kafirlah yang menginginkan dari orang-orang shalih itu, sedangkan saya bersaksi, bahwasanya Allah-lah yang memberi manfa’at, Yang memberi madharat, yang mengatur segala urusan. Saya tidak bermaksud kecuali Dia, sedangkan orang-orang shalih itu tidak memiliki kekuasaan apapun. Hanya saja saya bermaksud kepada mereka untuk mengharap dari Allah syafa’at mereka bagiku”.
Muter-muter, intinya minta kepada orang-orang sholeh (yang sudah meninggal)
*BANTAHAN*
Benar Nabi bisa beri syafaat, tapi sekarang Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah wafat.
Syafaat itu hanya bisa diberikan kepada orang-orang ahli tauhid.
Mayat-mayat yang mereka sembah itu sudah tidak bisa apa-apa, sudah lalai.., gak ada diskusi dst.
Sebagai jawaban ucapan itu adalah: Bahwasanya ucapan seperti itu adalah sama persis dengan ucapan orang-orang kafir.
Lantas bacakan kepadanya firman Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-sekatnya.” (Az Zumar: 3).
Dan firman Allah Ta’ala:
هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus:18).
🖍️ Ibnu Abdil Hadi – tidak ada diajarkan doa-doa seperti orang-orang jaman sekarang (minta kepada mayit).
Ketahuilah (wahai saudaraku seiman) bahwasanya *ketiga syubhat (hujjah batil yang mereka anggap benar) itu adalah syubhat yang paling besar yang ada pada mereka, untuk itu jika anda sudah ketahui, bahwasanya Allah sudah menjelaskan tiga hal itu di dalam kitab-Nya, dan anda pun sudah memahaminya dengan pemahaman yang baik, maka berbagai syubhat selain itu akan terasa lebih mudah dibanding tiga syubhat di atas*.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##


