KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- Kelas UFA : Materi : 54-55-56 : TAWADHU & Tadabur-1
Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 09:59
5 menit membacaKELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
➡️Materi 49 hakikat tawakal
Hakikat tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan sebab yang dikenal dengan ikhtiar.
Di isyaratkan dalam banyak dalil, diantaranya :
Rasulullah ﷺ bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“semangatlah engkau untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu (baik dunia maupun akhirat) . Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah/malas”
Dalam hadits lain.. ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla ataukah saya lepas saja sambil bertawakal kepada-Nya ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak
إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakal !”
Ini juga gabungan dua perkara.
Juga hadits tentang burung.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya maka Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung, lihatlah burung pergi di pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore hari dalam kondisi perut sudah kenyang.
Rasulullah ﷺ menjelaskan tawakal dengan contoh burung. Menyuruh gabungkan tawakal dan usaha.
Ketika ada sebagian jamaah haji yang ingin berhaji tanpa tanpa perbekalan. Mereka berkata, ‘Kami orang-orang yang bertawakkal.’ Allah menegur mereka.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan”
Yaitu bekal ketakwaan dan bekal haji yang lain. Oleh karena haji tidak diwajibkan kecuali hanya kepada yang mampu.
Bahkan para ulama menjelaskan mampu ini maksudnya mampu membawa bekal dan mampu meninggalkan nafkah untuk keluarga selama dia bepergian.
Kalau dia pergi haji tapi anak istri terlantar maka ini hukumnya tidak wajib.
Tawakal yang benar bukan hanya sandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun disertai dengan usaha.
➡️Materi 50
Setelah kita tahu hakikat tawakal (gabungkan sandarkan hati kepada Allah dan ikhtiar), sebagian orang salah dalam bertawakal yaitu dengan salah satunya dari keduanya..
1️⃣ Sebagai contoh Ketika orang ingin sesuatu dia lupa untuk sandarkan diri kepada Allah… Dia hanya sandarkan pada sebab-sebab sehingga dia hanya bertawakal kepada kemampuannya, kepada bosnya, pekerjaan, perusahaan..
Maka orang ini jauh dari tawakal.
Kadang orang yang berobat menyandarkan diri kepada dokter, seakan-akan dokter itu yang menyembuhkan (lupa bahwa Allah Yang Menyembuhkan) . Seharusnya dia mengatakan, Alhamdulilah Allah atas izin nya memberi kemudahan dokter untuk menyembuhkan.
Orang yang biasa terjerumus dalam hal ini adalah orang-orang yang :
+ lupa kepada Allah
+ lalai beribadah
+ sibuk dengan dunia
+ tidak pernah belajar agama
Sehingga akhirnya hati mereka tergantung kepada sebab lupa kepada Sang Musabib, yaitu Sang Pencipta Sebab dan Akibat yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2️⃣ Kesalahan kedua adalah orang yang hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah menyuruh kita untuk berikhtiar.
Lihatlah Rasulullah ﷺ saat perang Uhud Ikhtiar nya luar biasa..
+ pakai 2 lapis baju perang
+ musyawarah dengan para sahabat (musyawarah itu bentuk ikhtiar)
+ tempatkan 50 pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair di atas Jabal Rumah) +atur strategi
Dalam perang khandaq
+ Gali parit berkilo-kilo dengan dalam 5m dan lebar 5m. Agar kuda musuh tidak bisa lewat.
Kalau orang hanya semua terserah Allah tanpa lakukan sebab maka sebagian orang mengatakan orang seperti ini akalnya tidak wajar.
Allah telah ciptakan sebab dan akibat yang disebut Sunatullah
Kita akui hukum tersebut, Allah ciptakan akibat melalui sebab dan akibat.
Apakah mungkin seseorang punya anak tanpa menikah? Kalau Allah sebenarnya mungkin melakukan hal itu secara mukjizat. Tapi lihat hukum sebab akibat namanya ingin punya anak harus nikah dulu…
Kalau hanya bersandar kepada Allah, bukankan rezeki sudah tercatat, ajal sudah tercatat,surga dan neraka sudah ditentukan… Jadi gak usah kerja.
Kalau sakit juga gak usah berobat.
Surga sudah ditentukan.. Gak usah sholat. Dll.
Orang yang hanya sandarkan pada Allah dalam tawakal adalah orang yang tidak bisa berkomitmen.
Sholat adalah ikhtiar untuk masuk surga.
Oleh karenanya orang yang hanya bersandar kepada Allah
Cari makan adalah ikhtiar.
Orang yang menolak sebab A 6dalah akalnya terganggu.
➡️Materi 51
Hal-hal yang bertentangan dengan tawakal.
1. Memakai jimat, adalah perbuatan kesyirikan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.
‘Sesungguhnya ruqyah, jampi3, jimat2 dan tiwalah (pelet dan semisalnya) adalah kesyirikan.’”
Dalam hadits yang lain,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.
“Barangsiapa menggantungkan jimat dan semisalnya , maka ia telah melakukan syirik.”
Nabi ﷺ juga pernah menegur seseorang yang memakai jimat yang berupa tali yang diletakkan di tangannya, maka Nabi ﷺ mengatakan, “Buang itu jimat dari dirimu, Sesunguhnya kalau engkau meninggal dalam kondisi memakai jimat6, kau tidak beruntung selama-lamanya.”
Intinya, jimat adalah salah satu bentuk kesyirikan yang bertentangan dengan tawakal karena kalau seseorang pakai jimat, tawakalnya kepada jimat tersebut padahal secara syariat tidak pernah menjadikan jimat tersebut sebagai sebab.
Dalam sebuah hadits,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa menggantung hati pada sesuatu, maka dia dibuat bertawakal kepada sesuatu tersebut.”
Muslim mudah, keluar rumah tawakal kepada Allah. Terus lakukan kegiatan yang diinginkan.
Orang yang pakai jimat, hatinya benar-benar tergantung pada jimat, bila tertinggal maka pemiliknya kadang bengong dst..
Jimat, seakan-akan menjadi sebab keberhasilan.
➡️Materi 52
Diantara hal yang bertentangan dengan tawakal adalah tathayur, yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu atau kejadian tertentu.
Kita kenal sebagai pamali.
Rasulullah ﷺ bersabda,
الطِّيَرَةُ شِركٌ
Tathayur adalah kesyirikan.
Kebiasaan orang orang dulu bila ingin pergi mereka usir burung,
Bila burung terbang ke kanan maka dianggap keberuntungan
Bila burung terbang ke kiri maka dianggap kesialan, dan tidak jadi Safar..
Padahal burung tidak berakal, dan mengapa kita harus serahkan kepada burung,tentu tidak logis.
Ada juga yang tathayur dengan suara tokek.
Tathayur bisa dihilangkan dengan tawakal.
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَلَكِنَّ اللّهض يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“ akan tetapi Allah menghilangannya dengan tawakal.”
Cara nya kita buang pikiran takut sial (misalnya jangan-jangan) itu dengan tawakal.
Angka sial yang umum 4,13
➡️Materi 53
Diantara hal yang bertentangan dengan tawakal adalah Ujub. Karena ujub, bentuk tawakal dengan diri sendiri, PD dengan kemampuannya, lupa bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan ada 3 perkara yang membinasakan, diantaranya adalah ujub dengan dirinya.
Ini menimpa sebagian orang, bangga dengan dirinya, bangga dengan kemampuannya, bangga dengan pasukannya, lupa bertawakal kepada Allah.
Padahal yang menentukan keberhasilan adalah Allah, betapa banyak sebab yang sedikit ternyata bisa berhasil.
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ
Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. (Al-Baqarah: 249)
Maka orang melakukan sebab, tawakalnya kepada Allah. Jangan ujub kepada dirinya.
Saat bersandar kepada dirinya ini berarti bersandar kepada selain Allah, ini berarti
Ujub adalah salah satu bentuk kesyirikan. Diantara doa Nabi ﷺ adalah,
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat–Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan Kau biarkan diriku bersandar kepada diriku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari–Mu).
Kalau bersandar kepada dirinya, ini berarti bersandar kepada sesuatu lemah.
Bersandar kepada diri sendiri adalah Ujub, dan sumber kegagalan cepat atau lambat..

