This entry is part 10 of 12 in the series Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

Diterbitkan pertama kali pada: 07-Mar-2021 @ 14:40

9 menit membaca

📖 *KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN #10*
👤Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 26 Jumadil Akhir 1442H.

➡️ *KAIDAH KE 40. BERBUAT ADIL*

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian berbuat Adil.

Adil dalam segala hal, bahkan terhadap dirinya sendiri.

⛔Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan kita tidak boleh bernaung untuk sebagian anggota tubuh kita.

⛔Begitu juga tidak boleh memakai sandal cuma satu, harus adil kedua kaki.

Allah perintahkan keadilan mutlak.

Allah telah mensifati syariat Islam dengan keadilan…

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًا  ۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ  ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan telah sempurna kalimat-kalimat Allah dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 115)

*Syariat Allah sempurna dengan segala kemaslahatan, Allah lebih tahu kemaslahatan makhluk daripada makhluk itu sendiri.* ✳️

Hanya saja, manusia ada yang anggap tidak adil, seperti syariat hukum waris, poligami, qishosh (akan terlihat adil bila yang kena adalah keluarganya sendiri).

Kapan seseorang sesuai syariat maka itulah adil, bila tidak sesuai syariat maka tidak adil.

Ibnu Taimiyyah mengatakan Yang mengumpulkan segala kebaikan adalah keadilan dan yang mengumpulkan segala keburukan adalah kedzaliman.

*Apa adil? Yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya.*✅

Islam bukan melihat pada persamaan tetapi keadilan..

Wanita dan lelaki ditempatkan sesuai kodratnya,maka tidak adil bila wanita disuruh kerja yang berat.

Bahkan harus adil kepada kaum kafir..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ  ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا  ۗ اِعْدِلُوْا  ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى  ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ  ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8)

Seperti kisah non muslim kagum atas keadilan Islam.

Alkisah, Ali kehilangan baju besi miliknya. Baju besi mahal dan berharga itu ditemukan oleh seorang non-Muslim (dzimmi-Nasrani) dan hendak dijual di pasar. “Ini baju besiku yang jatuh dari untaku pada malam ‘ini’, di tempat ‘begini’,” kata Ali.

“Tidak, ini baju besiku karena ia ada di tanganku, wahai Amirul Mukminin,” jawab dzimmi itu.

“Tak salah lagi, baju besi itu milikku. Aku tidak merasa menjual dan memberikannya pada orang lain. Dan sekarang tiba-tiba baju itu ada di tanganmu.”

“Di antara kita ada seorang hakim Muslim.”

“Engkau telah meminta keadilan. Mari kita ke sana.”

Keduanya lantas pergi ke Syuraih al-Qadhi. “Apa yang ingin Anda katakan, wahai Amirul Mukminin?”

“Aku menemukan baju besiku di tangan orang ini karena benda itu benar-benar jatuh dari untaku pada malam ‘ini’, di tempat ‘ini’. Lalu, baju besiku sampai ke tangannya, padahal aku tidak menjual atau memberikan padanya.”

Sang hakim bertanya kepada si dzimmi, “Apa yang hendak kau katakan, wahai si fulan?”

“Baju besi ini milikku dan buktinya ia ada di tanganku. Aku juga tidak menuduh khalifah.”

Sang hakim menoleh ke arah Amirul Mukminin sembari berkata, “Aku tidak ragu dengan apa yang Anda katakan bahwa baju besi ini milik Anda. Tapi, Anda harus punya bukti untuk meyakinkan kebenaran yang Anda katakan, minimal dua orang saksi.”

“Ya, saya sanggup. Budakku, Qanbar, dan anakku, Hasan, bisa menjadi saksi.”

“Namun, persaksian anak untuk bapaknya tidak diperbolehkan, wahai Amirul Mukminin.”

“Mahasuci Allah! Seorang ahli surga tidak boleh menjadi saksi. Tidakkah kau mendengar sabda Rasulullah SAW bahwa Hasan dan Husain adalah tuan para pemuda penduduk surga?”

“Ya. saya mendengarnya, Amirul Mukminin. Hanya saja Islam membuatku melarang persaksian anak untuk bapaknya.”

Khalifah lalu berkata pada si dzimmi, “Ambillah baju besiku karena aku tidak punya saksi lagi selain keduanya.”

Mendengar kerelaan Ali bin Abi Thalib, si dzimmi berujar, “Aku mengaku baju besi ini memang milik Anda, Amirul Mukminin,”

Ia lalu mengikuti sang Khalifah sambil berkata, “Amirul Mukminin membawa keputusan ke depan hakim. Dan, hakim memenangkan perkara ini untukku. Sungguh aku bersaksi bahwa agama yang mengatur perkara demikian ini adalah benar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammmad hamba dan utusan Allah! Ketahuilah wahai hakim, baju besi ini miliknya. Aku mengikuti tentaranya ketika mereka berangkat menuju Shiffin. Baju besi ini jatuh dari unta, lalu aku ambil.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Karena engkau telah masuk Islam, aku berikan baju ini padamu, berikut kudaku ini.” Beberapa waktu kemudian, laki-laki itu gugur sebagai syahid ketika ia ikut berperang melawan kaum Khawarij di Nahrawan..

✳️Luar biasa, orang kafir bisa masuk Islam karena keadilan syariat Islam. ✅

Begitu juga kisah Abdullah bin Rowahah yang bersikap adil tatkala membagi kurma (masih di pohon) dengan Yahudi (karena kalah perang dan ingin damai).
Abdullah bin Rowahah menetapkan pembagian sangat adil sesuai perintah Rasulullah ﷺ. Yaitu separuh hasil panen.
Orang Yahudi ingin menguap Abdullah bin Rowahah namun ditolak dan orang Yahudi mengatakan, *”Dengan keadilan ini maka tegaklah langit dan bumi, kehidupan kerajaan dan lainnya.”*

✳️➡️ *Perkara-perkara penting yang harus adil adalah* :

➡️ 1. Adil kepada para istri.
Dalam jatah menginap, memberi nafkah. Kalau tidak adil maka dia telah berbuat dzalim dan dipermalukan di akhirat kelak.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.

“Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan pundaknya miring sebelah.” HR Abu Dawud, Tirmidzi (shahih).

Poligami itu lebih berat dalam hal tanggung jawab dari pada dalam kenikmatan.

➡️2. Keadilan terhadap anak-anak.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ

Berbuat adillah kepada anak-anak kalian.

عَنْ النُّعْمَانِ قَالَ: سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لاَ أَرْضَى حَتَّى أُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَأَخَذَ أَبِي بِيَدِي وَأَنَا غُلاَمٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمَّ هَذَا ابْنَةَ رَوَاحَةَ طَلَبَتْ مِنِّي بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ، وَقَدْ أَعْجَبَهَا أَنْ أُشْهِدَكَ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ: يَا بَشِيرُ، أَلَكَ ابْنٌ غَيْرُ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَوَهَبْتَ لَهُ مِثْلَ مَا وَهَبْتَ لِهَذَا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ

Dari an-Nu’man (bin Basyir), beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Ibu saya meminta hibah kepada ayah, lalu memberikannya kepada saya. Ibu berkata, ‘Saya tidak rela sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas hibah ini.’

Maka ayah membawa saya –saat saya masih kecil- kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah , ibunda anak ini, ‘Amrah binti Rawahah memintakan hibah untuk si anak dan ingin engkau menjadi saksi atas hibah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Wahai Basyir, apakah engkau punya anak selain dia?’ ‘Ya.’, jawab ayah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, ‘Engkau juga memberikan hibah yang sama kepada anak yang lain?’ Ayah menjawab tidak. Maka Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, jangan jadikan saya sebagai saksi, karena saya tidak bersaksi atas kezhaliman.’ ” [HR. Al-Bukhari no. 1623]

Rasulullah shallallahu alaihi menolak menjadi saksi karena ada kedzaliman (tidak adil).

➡️3. ADIL dalam membuat keputusan hukum terhadap orang yang tidak kita sukai.

Contoh, Ibnu Taimiyyah adil dalam menghukumi orang-orang (firqah2) yang tidak suka padanya.

Biarkan saja orang berbuat tidak adil kepada kita.. Benci dakwah kita..

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (al-Isra: 36).

Semua ucapan kita di catat oleh malaikat..

Jangan balas kedzaliman mereka kepada kita dengan kedzaliman.

Jangan lah kebencian kita kepada suatu kaum membuat kita berbuat tidak adil.

➡️4. Keadilan dalam ibadah.

Seperti kata Salman Al Farisi kepada kawannya. “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Salman Al Farisi menegur Abu Darda yang berlebihan dalam Ibadah yang sampai melalaikan hak yang lain.

➡️ *KAIDAH KE 41. MUSIBAH KARENA DOSA*

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Tidaklah suatu musibah menimpa kalian kecuali disebabkan oleh dosa-dosa kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).

Kaidah ini datang dalam banyak ayat.
Musibah = sakit, sedih, didzalimi orang lain..

Tidak semua dosa dijadikan musibah, banyak yang diampuni.

أَوَلَمَّا أَصابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْها قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada peperangan Badar) kalian berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri.”  Qs Ali Imran:165.

Ayat lain.

 مَا أَصابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَما أَصابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah; dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Qs An Nisa ayat 79.

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (59)

dan tidak pernah (pula) Allah membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan dzalim. Qs Qashash ayat 59.

Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Qs Rum ayat 41.

*Ketika kita kena musibah, yang pertama kita lakukan adalah introspeksi.*

✳️Pasti ada masalah pada diri kita, terutama salah kepada Allah.❗

Sebab agama muncul akibat duniawi, dan terjadi musibah.

Kita bisa merasa tenteram bila amalkan kaidah ini.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu bakar saja mengakui bahwa dirinya sadar telah melakukan kedzaliman yang banyak. Bagaimana dengan kita.

Umat-umat terdahulu binasa karena dosa-dosa mereka (Firaun, kaum Tsamud dll).

Dan Allah turunkan musibah supaya kita takut kepada Allah, supaya kita kembali kepada Allah. ⛔Jangan langsung salahkan orang lain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَوْلَاۤ اِذْ جَآءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا وَلٰـكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 43)

➡️ *KAIDAH 42 JAGALAH SUMPAH KALIAN*

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ

Dan jagalah sumpah/janji2 kalian. (Al-Maidah: 89)

Lengkapnya

ا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (89)

Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja, maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan (jenis pertengahan) yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kifaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kifarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kalian langgar). Dan jagalah sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian hukum-hukum-Nya agar kalian bersyukur (kepada-Nya).
Qs Al Maidah ayat 89.

وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُم

➡️✳️Ada 3 tafsir

➡️1. Jangan bersumpah dengan sumpah palsu.

Jangan berdagang dengan sumpah palsu.
Ambil harta dengan kedustaan.

Orang yang ambil harta dengan kedustaan, maka seperti ambil api neraka.

➡️2. Jangan bermudah-mudahan bersumpah.

Jangan obral sumpah.

➡️3. Jangan melanggar sumpah yang telah ditetapkan bila tidak langgar syariat. ✅

Sumpah ini janji kepada Rabb semesta alam.
Sumpah bisa dipindahkan dengan pemenuhan yang lebih baik namun tetap bayar kaffarah dari sumpah tersebut.

➡️ *KAIDAH 43 JAUHI PELIT DAN TAMAK*

Barangsiapa dilindungi dari penyakit syuh (pelit / tamat) maka akan beruntung.

Bukhl = pelit
Tomak = rakus.

SYUH, GABUNGAN keduanya.

{وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9)

Ini terkait kaum Anshar yang mau menerima kaum Muhajirin yang terusir dari kampung nya.

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)

(Juga) bagi para fuqara Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhaj irin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Qs Hasyr 8-9.

Contoh hebatnya adalah Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Kaum Anshar.

Abdurrahman bin Auf yang dermawan saja masih sering berdoa dijauhkan dari sifat Syuh ini. Penyakit Syuh ini harus dilawan.

Qays bin Saad bin Ubadah adalah contoh dermawan yang pernah mengumumkan lunas nya hutang banyak orang yang malu bertemu dengannya.

*Orang yang dibersihkan dari penyakit Syuh ini menyebabkan mereka bisa berbuat amalan yang banyak.*✅✅

Semoga bermanfaat,

$$&&-aa-&&$$

Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #9 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM ALQUR’AN#11
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?