Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcAlkabaair

Syarah Kitab AL KABAAIR BAB #59 -Mengajak kepada penyimpangan 60- Wanita yang menyambung rambut, Merenggangkan gigi dan mentato tubuhnya

This entry is part 23 of 32 in the series AlKabaair

Diterbitkan pertama kali pada: 09-Jan-2021 @ 06:10

4 menit membaca

📖 Syarah Kitab AL KABAAIR BAB #59 -60
👤 Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc
🗓️ 25 Jumadil Ula 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (online)

Mari kita maksimalkan syukur, sabar, dzikir kita di setiap kesempatan. Mendekatkan diri kepada Allah adalah salah bentuk syukur kepada Allah.

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat–Mu, bersyukur kepada–Mu dan beribadah dengan baik kepada–Mu
HR. Abu Dawud 2/86

➡️ Kabaair-59 – Mengajak kepada penyimpangan

Atau membuat suatu perbuatan yang tidak dituntunkan oleh Nabi ﷺ dan itu ternyata buruk.

Penyimpangan itu bisa jadi kesyirikan, bid’ah atau kemaksiatan..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada penyimpangan atau kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka yang mengikutinya sedikit pun. HR Muslim

Seharusnya kita mawas diri kepada kemaksiatan, kita juga harus mawas diri kepada penyimpangan.

Sungguh besar dosa orang yang menyeru sebuah tuntutan yang dikesankan sebagai ibadah namun ternyata bukan termasuk agama dan diikuti banyak orang.

Rasulullah ﷺ ketika keluar rumah, sambil menengadah ke atas, berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Allaahumma innii a’uudzu bika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au azhlima au uzhlama, au ajhala au yujhala ‘alayya.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan , berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi. HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah.

Berhati-hatilah terhadap figur yang mengajak yang demikian, apalagi saat ini fitnah semakin besar.

Ketergelinciran kita bisa disebabkan karena kita tidak hati-hati dalam hal ini.

Allah ﷻ sudah ingatkan kita,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. [Al-An’am/6:116]

Janganlah kita terbuai dengan banyaknya orang yang mengikuti, kita harus tetep sabar diatas kebenaran.

Dari Jarir bin Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan (tuntunan baru atas nama agama) , maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka yang mengikutinya sedikit pun. HR Muslim

➡️Cara bertaubatnya adalah kita klarifikasi kepada orang yang ikuti contoh kita. Tidak cukup dengan taubat diri sendiri.

Nabi ﷺ sudah mewanti-wanti hal-hal baru yang diklaim sebagai bagian agama.

وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu dunia dibandingkan para shahabatnya.

Di antara buktinya adalah hadits dari Anas tentang mengawinkan kurma. Suatu ketika Nabi ﷺ melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau ﷺ lalu bersabda,

لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ

“Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا لِنَخْلِكُمْ

“Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian beliau ﷺ bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363)

❗❗Kita harus mengetahui apakah itu urusan dunia atau agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

❗Dalam riwayat lain , ada tambahan

وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i i)

➡️ BAB 60 – Wanita yang menyambung rambut, Merenggangkan gigi dan mentato tubuhnya

Ancaman ini tidak terbatas pada wanita, karena berlaku juga untuk pria, karena kebanyakan yang melakukannya adalah wanita.

Salah satu indikasi dosa besar adalah adanya laknat Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالْوَاصِلاَتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ

“Allah melaknat orang yang mentato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, dan wanita yang merenggangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah. HR Bukhari & Muslim

Disebutkan juga dalam riwayat lain orang yang meminta rambutnya disambungkan.

Dan ada ulama yang menjelaskan larangan pencabutan rambut yang sia-sia (untuk keindahan).

Dalam sebuah hadits disebutkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنِي غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ اشْتَرَى غُلَامًا حَجَّامًا فَقَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ وَثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالْمُصَوِّرَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Aun bin Abu Juhaifah dari Ayahnya bahwa dia pernah membeli seorang budak tukang bekam, lalu dia berkata;

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hasil penjualan darah, hasil penjualan anjing dan hasil pelacuran/zina, beliau juga melaknat pemakan riba dan yang memberi riba , orang yang mentato dan yang minta ditato serta melaknat orang-orang yang menggambar (makhluk bernyawa).”

Contoh gambar yang bukan makhluk bernyawa : pohon, pemandangan, sungai, gunung dll.

##$$-aa-$$##

AlKabaair

Syarah Kitab AL KABAAIR BAB #57-58 -MENCACI-MAKI SAHABAT Syarah Kitab AL KABAAIR BAB #61&62
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?