KETIKA IBADAH MENJADI NIKMAT
*KETIKA IBADAH MENJADI NIKMAT*
Ustadz Aidil Adha, Lc
3 Shafar 1448 H/19 Juli 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
Tujuan penciptaan manusia adalah agar beribadah kepada Allah.
Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Nikmat dalam ibadah adalah nikmat khusus dari Allah, tidak semua muslim juga mendapatkannya.
Makna ibadah itu luas, tidak hanya sholat, puasa, kegiatan di masjid.
Definisi ibadah adalah segala sesuatu yang membuat Allah ridha kepada pelaku nya, baik itu amalan badan, lisan maupun fisik.
Ibadah bahkan terlihat sesuatu yang remeh temeh.
Misalnya
1. sekedar memberi minum anjing yang kehausan (dengan ikhlas).
2. Suami bersenda gurau dengan istri
Kapan seorang muslim merasakan nikmat dalam ibadah? Yaitu saat menjalankan ibadah hati merasa nyaman, lapang, merasa kurang…
Kenikmatan dalam ibadah berbanding lurus dengan kuatnya keimanan seseorang.
Iman kuat maka ibadah akan nikmat.
Ibadah akan terasa nikmat bila kita tahu ilmu dari ibadah tersebut. Serta keikhlasan untuk mendapat ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَو أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
QS. An-Nahl (16) ayat 97
Ibadah harus disertai dengan keimanan.
Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ ingin terus sholat, karena merasa nyaman.
Ketika Rasulullah ﷺ merasa gelisah atau menghadapi suatu perkara, beliau ﷺ menjadikan shalat sebagai tempat ketenangan.
Nabi ﷺ memerintahkan Bilal untuk kumandangkan adzan (karena masuk waktu sholat).
عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا”
“Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk shalat, tenangkanlah/istirahatkanlah kami dengannya.” HR. Abu Dawud
Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ menikmati sholat. Yaitu saat ibadah malam Rasulullah ﷺ yang sangat panjang hingga kaki beliau bengkak.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
“Nabi ﷺ biasa melakukan shalat malam hingga kedua kaki beliau pecah-pecah (bengkak). Aku berkata kepada beliau: ‘Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?'”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ada sahabat yang terkena panah ketika sedang shalat, namun ia tetap melanjutkan shalatnya karena kekhusyukan dan rasa dekatnya kepada Allah. Kisah ini sering dikaitkan dengan ‘Abbad bin Bisyr radhiyallahu ‘anhu.
Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengutusnya untuk berjaga bersama sahabat lain, ia melakukan shalat malam. Saat ia membaca Al-Qur’an dalam shalat, seorang musuh memanahnya hingga terluka. Ia tetap meneruskan shalat sampai selesai karena tidak ingin memutus munajatnya kepada Allah.
Utsman bin Affan, sangat menikmati sholat malam, sholatnya sangat lama.
Beliau sholat khatamkan Al Qur’an hanya dalam 1 rakaat.
1️⃣ Lezatnya ibadah dengan tauhid dan iman.
Saat ibadah Kelezatan, kegembiraan, waktu nyaman dalam ibadah tidak bisa diungkapkan, dan cara untuk mendapatkan dengan menauhidkan Allah dan mengimaninya. Ini perkataan Ibnu Taimiyyah.
2️⃣ Poin selanjutnya adalah cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perhatikan nasihat Nabi ﷺ bagaimana mendatangkan manisnya iman.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara, barang siapa memilikinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman:
• Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.
• Ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah.
• Ia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta kepada Allah itu pada segala urusan, bukan milih-milih.
3️⃣ Ikhlas ibadah kepada Allah.
Mari kita ambil pelajaran dari Kisah Zainal Abidin rahimahullah (Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Bahwa beliau sering keluar pada malam hari membawa karung berisi makanan di atas pundaknya, lalu membagikannya kepada orang-orang miskin secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang menerima bantuan itu tidak mengetahui siapa yang memberi.
Setelah beliau wafat, mereka tidak lagi mendapatkan bantuan tersebut. Ketika jenazah beliau dimandikan, terlihat bekas hitam pada pundaknya karena sering memikul karung makanan.
Mereka kemudian mengetahui bahwa orang yang selama ini membantu mereka secara diam-diam adalah Zainal Abidin.
Dikisahkan beliau berkata:
“Sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah.”
Ikhlas adalah perkara yang sangat berat.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah yang berkata:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، إِنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat itu selalu berubah-ubah terhadapku.”
4️⃣ Membiasakan untuk taat kepada Allah.
Jangan taat saat musiman saja.
Biasakan ibadah yang rutin.
Lakukan ibadah-ibadah yang membuat nyaman.
Jangan hanya terpaku pada ibadah mahdhoh saja.
Sabarlah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beberapa ayat Al-Qur’an tentang perintah untuk bersabar:
1. QS. Al-Baqarah (2): 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
2. QS. Ali ‘Imran (3): 200
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
3. QS. Az-Zumar (39): 10
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
Ketika hati biasa maka akan diikuti oleh badan.
Seorang salafus sholeh berkata : Aku memaksakan dalam sholat selama 20 tahun, merasakan kesulitan ibadah selama 20 tahun. Dan 20 tahun berikutnya merasakan kelezatan dalam ibadah.
Ingat pada janji Allah, seperti firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut (29) ayat 69.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
5️⃣ Perbanyak ibadah sunnah
Ini akan mendorong terbiasa dengan jalankan yang wajib.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ…
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya…”
Lanjutan hadits:
“Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
(HR. Bukhari)
Semoga bermanfaat,
#ibadah #nikmat #biasa #Ikhlas #tauhid #iman
##$$-aa-$$##

