Diterbitkan pertama kali pada: 31-Jul-2022 @ 10:46

6 menit membaca

*KALAU ALLAH ﷻ MURKA*
Ustadz Maududi Abdullah, Lc
2 Muharam 1444H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi rahmat dan nikmat kepada kita, setiap waktu, setiap detik… Alangkah banyak nikmat tersebut, masalah nya hamba belum tentu mampu melihat rahmat Allah..

🖍️ Itulah buta yang paling parah.. Itu pula yang Allah sebutkan di surat Al Baqarah…

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌۭ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),

Ayat ini turun pada kaum Quraisy.. Abu Jahal sejati nya tidak bisu, tidak buta, tidak tuli..

Bisu, tuli, buta… Itulah ciri manusia yang masuk neraka.

Allah turunkan Al Qur’an untuk mengobati manusia..
Al Qur’an itu bicara dengan ruh manusia.

Oleh karena itu orang yang sekedar baca Al Qur’an dan malah menyelisihi..
Maka mereka bagaikan keledai. 🖍️

Allah gambarkan mereka dalam Al Qur’an..

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Qs Al Jumuah ayat 5.

Bumi yang luas ini, kalau di lihat langit ke tujuh akan terlihat sangat kecil sekali.. Sedangkan manusia itu sangat kecil dibanding bumi.. Lalu bagaimana keadaan manusia dibanding dengan Arsy?

Lalu bagaimana bisa manusia menentang Allah.

Hal ini disebutkan dalam riwayat Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.Ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Kursi Allah, beliau pun menjawab,

َّوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالاَرْضُوْنَ السَّبْعُ عِنْدَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ وَإِن فَضْلَ العَرْشِ عَلَى الكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الحَلْقَة

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu sangat kecil dibandingkan dengan Kursi Allah, gambarannya seperti cincin yang dilemparkan di padang pasir. Sedangkan, ‘Arsy Allah itu jauh lebih besar dibandingkan Kursi Allah, gambarannya seperti padang pasir dibandingkan cincin tadi.” [HR. As-Suyuthi dalam Ad-Durul Mantsur, 1:328]. Ini menunjukkan sangat besarnya ‘Arsy Allah dibandingkan dengan Kursi-Nya, lebih-lebih lagi dibandingkan dengan kita manusia yang super kecil.

Jika manusia ada yang mengolok-olok Allah, membuat makar maka Allah Maha Bisa Membalas perbuatan..

Ini dibawa makna yang baik yaitu Allah Maha Kuasa Atas Segala sesuatu.

{نَسُوا اللَّهَ}

Mereka telah lupa kepada Allah. (At-Taubah: 67)

{فَنَسِيَهُمْ}

maka Allah melupakan mereka. (At-Taubah: 67)

Allah tidak peduli, cuek atas rintihan atau rengekan mereka.?

🔸 *Sesuatu yang sangat mulia adalah lawan sesuatu yang sangat tercela.*

Surga akan lebih indah bila kita bayangkan neraka.
Kenikmatan surga akan menjadi lebih sempurna bila kita lihat sengsaranya penduduk neraka.
Bakti kepada orang tua semakin mulia bila kita lihat anak yang durhaka..

Semakin berkilau tauhid bila kita ketahui buruk nya kesyirikan..

Alangkah hinanya orang-orang yang menyembah cicak, tikus, sapi dan berhala lainnya..

♦️ *Orang yang mencapai predikat ridho Allah adalah orang-orang yang paling mulia.*

Para sahabat radhiallahu anhum sudah menjadi mendapatkan hal itu.

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.

➡️ *Ridha Allah adalah lawan dari murka Allah.*

Ridha Allah dicari sebelum kematian manusia.

Manusia seyogyanya mencari ridha Allah dan menjauhi murka Allah.

Namun ada manusia selain para sahabat ada predikat sempurna mendapatkan ridho Allah. Namun tidak ada nash yang memastikan hal itu, kita tidak diberi tahu.

✔️Hikmah kita tidak diberi tahu tentang berita kita diridhai Allah.

1. Terus mengejar ridha Allah
2. Tidak bersandar pada ridha Allah dan santai-santai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril alaihi salam seraya berseru: ‘Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia! ‘ Rasulullah bersabda: ‘Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril. Setelah itu, Jibril berseru di atas langit; ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai si fulan. OIeh karena itu, cintailah ia! ‘ Kemudian para penghuni langit pun mulai mencintainya pula.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya.’ Sebaliknya, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan berseru kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku membenci si fulan. Oleh karena itu, bencilah ia.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Lalu malaikat Jibril berseru di langit; ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci si fulan. OIeh karena bencilah ia!” Kemudian para penghuni langit membencinya. Setelah itu para penghuni dan penduduk bumi juga membencinya. HR Muslim.

❗❗ *Masalahnya adalah kita dibuat oleh iblis dan bala tentaranya untuk lalai dari mengejar ridha Allah*

Oleh karena itu segeralah untuk berbuat amal sholeh.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148).

Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Sifat fitrah adalah bila kita melakukan kesalahan dan diingatkan maka kita segera kembali ke jalan yang lurus.

Dan sifat iblis salah akan tekun di jalan kesalahan..

❗Ingatlah akan balasan dari Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَا فِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَ بْصَا رُ 

“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 42)

Maka dari itu jangan kita lalai
Jangan tunggu murka Allah
Jangan diundur sampai Allah murka

Jika kita sering melakukan dosa, kemarin, hari ini, besuk… *kapan kita akan berhenti?* ❓

Allah menghukum manusia karena manusia itu berbuat dosa, bukan karena kedzaliman Allah.

➡️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْبِۢهٖ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَا صِبًا ۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَ رْضَ ۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَا نَ اللّٰهُ لِيَـظْلِمَهُمْ وَلٰـكِنْ كَا نُوْۤا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam Bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 40)

Iblis dan syetan selalu berusaha melalaikan kita dari kembali ke jalan Allah.

✅*Dosa yang kita lakukan adzab nya sudah pasti, ampunan Allah belum pasti
Sementara ibadah kita juga belum pasti diterima Allah*.✅

Allah selalu menegur hamba-hamba Nya yang berbuat dosa.
Adzab Allah itu diberikan setelah teguran-teguran yang Allah berikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّاۤ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖۤ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.””
(QS. Nuh 71: Ayat 1)

Mustahil Allah tidak menegur kita bila kita berbuat maksiat.

Tugas para ulama adalah melanjutkan estafet dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.. Seperti para Nabi Bani Israil yang berdakwah atas Risalah yang dibawa Nabi Musa alaihissalam.

Teguran Allah pasti datang pada kita, karena Allah ingin ingatkan hamba-hamba-Nya.

Jangan abaikan teguran-teguran itu, hati akan menjadi keras.
Dan akhir dari hidup adalah kesengsaraan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu

Bila teguran itu selalu diabaikan..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَا بَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِ ذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 44)

❗Itulah bahayanya istidraj.
Bila dosa yang kontinyu tapi kita diberi kelapangan maka itulah istidraj.

Allah suka hamba yang merintih karena ingin taubat. Itulah hikmah dari Allah ciptakan dosa.

*JANGAN LALAI ATAS TEGURAN ALLAH, SEGERALAH BERTAUBAT KEPADA ALLAH*

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?