TAFSIR As Sa’di JUZ ‘AMMA – 16
📜 *TAFSIR As Sa’di JUZ ‘AMMA – 16*
✒️ Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’ di.
🎤Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
Ahad, 29 Rabi’ul Akhir 1448 H/11 Oktober 2026
Tafsir Al Qur’an Surat Al Muthoffifin.
Termasuk surat Madaniyah.
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ (18) وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ (19) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (20) يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ (21) إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26) وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ (27) عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ (28)
Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam “Illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamr murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamr murni itu adalah tasnim, (yaitu) mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.
Al-Muthaffifin, ayat 18-28
🔸 FAIDAH
1. Orang-orang yang berbuat dosa di tempatkan di Sijjin – tempat paling rendah, paling sempit di neraka.
2. Catatan amal orang-orang yang baik berada di tempat yang tinggi, luas, disaksikan oleh para malaikat, para nabi, ruh-ruh orang syahid, ruh para shiddiq.
3. Orang-orang sholeh berada di Illiyyin adalah tempat tertinggi di surga. Tempat yang tinggi, luas, lapang
4. Ketaatan di dunia mengangkat derajat seseorang di akhirat. Besarnya ketaatan ~ tingginya derajat di surga.
Masuk surga dengan rahmat Allah, tingkat ketinggian di surga berdasarkan amal sholeh nya.
5. Kenikmatan di surga mencakup kenikmatan dalam Qalbu , ruh, badan.
6. Suatu nama yang disebutkan di surga, hanya nama saja yang sama dengan nama yang sama di dunia tapi hakikatnya sangat berbeda.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Tidak ada didalam surga yang semisal yang ada didunia ini kecuali hanya sekedar penamaan saja. Surga itu –demi Allah- ialah cahaya yang bersinar terang, baunya wangi semerbak, dengan bangunan istana yang megah, sungai yang mengalir dibawahnya tidak pernah kering, tersaji buah-buahan segar, bersama bidadari yang cantik jelita, dipakaikan padanya pakaian yang indah, lalu tinggal diistana yang tinggi’.
7. Kenikmatan terbesar di surga adalah melihat Wajah Allah. Kita imani Allah punya Wajah.
8. Wajah para penghuni surga bercahaya karena banyaknya kenikmatan yang mereka dapatkan.
9. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah :
1. Memandang dunia sebagai sesuatu yang cepat berlalu dan binasa. Mengejarnya dengan berlebihan mendatangkan kegelisahan sebelum mendapatkannya, kekhawatiran ketika memilikinya, dan kesedihan ketika kehilangannya.
2. Pandangan terhadap akhirat
Memandang akhirat sebagai sesuatu yang pasti datang, kekal, dan abadi. Kenikmatannya jauh lebih mulia dan sempurna daripada kenikmatan dunia yang terbatas dan akan berakhir.
10. Perkara yang pantas dikejar adalah perkara kenikmatan akhirat.
11. Minuman di surga ditutup agar tidak ada yang bisa mengurangi kenikmatannya. Atau seluruh minuman tertutup, dan tutup itu yang terakhir (agar sisa minuman yang kotor tidak dirasakan penghuni surga).
12. Kenikmatan hakiki adalah kenikmatan akhirat – surga.
Ayat selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30) وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (31) وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ (32) وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (33) فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ (34) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (35) هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36)
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, ” padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
Al-Muthaffifin, ayat 29-36
🔸 FAIDAH
1. Orang-orang yang berdosa/mujrimin itu di dunia sering menghina orang yang beriman. Menegakkan tauhid, menegakkan sunnah.
Ejekan mereka misalnya – mabuk agama.
Dan orang-orang beriman tidak kuatir dengan ejekan orang-orang berdosa ini.
2. Keburukan orang-orang berdosa/mujrimin adalah menghina orang beriman dan merasa aman dari adzab Allah.
3. Orang beriman itu mengumpulkan dua amalan yaitu berbuat baik dan takut amalnya tidak diterima. Sedangkan kafir/mujrimin/munafik : berbuat buruk dan merasa aman dari siksa Allah.
4. Balasan hukuman di akhirat sesuai dengan jenis perbuatan mereka di dunia.
Di akhirat nanti orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang berdosa yang diadzab di neraka. Ini adalah balasan yang adil dari Allah.
5. Tidak boleh membicarakan agama (Allah) tanpa ilmu.
Semoga bermanfaat.
#tafsir #juzzAmma # #akhirat #wajah #fajir #maksiat #dosa
$$##-aa-##$$

