This entry is part 9 of 10 in the series ma.shirahsahabat

Diterbitkan pertama kali pada: 29-Jun-2020 @ 16:44

6 menit membaca

Shirah Sahabat – *Mush’ab bin Umair*
Ustadz Muhammad Anwar
3 Rabi’ul Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Dai pertama yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke kota Yatsrib (Madinah).

Di tangan beliau inilah seluruh penduduk Yatsrib masuk Islam.

Mush’ab diutus berdakwah saat masih berumur 18 tahun.

Nasab
Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

Ibu : Fatimah al Amiriyah
Wanita yang kaya raya dan punya kedudukan mulia, dan lebih berkuasa dalam keluarga.

Ibunya pada akhirnya masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah.

Mush’ab adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati
Pakaian Mush’ab adalah pakaian yang sangat mahal.
Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.

Fisik Mush’ab mirip Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kulit nya sangat halus dan tinggi badan sedang-sedang saja.

*Keislaman Mush’ab*

Begitu mendengar bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diangkat menjadi Rasul, Mush’ab langsung mencari dan berusaha menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan langsung masuk Islam di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , di usia yang masih sangat muda di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu.

Mush’ab awalnya menyembunyikan keislamannya dari keluarganya terutama dari ibunya.

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab.

Artinya anaknya murtad dari agamanya nenek moyangnya (masuk Islam).
Mush’ab ditangkap dan disiksa atas perintah ibunya (ikut menyiksa) dan kulit Mush’ab berubah dari halus menjadi merah dan lebab.

Walaupun dapat siksaan yang berat dari ibunya, namun Mush’ab tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar kepada ibunya.

Masuk Islamnya Mush’ab ini sangat mudah, beda dengan sahabat-sahabat lain yang mengalami siksaan.

Rasulullah memberi nasihat kepada para sahabat yang mendapatkan siksa saat masuk Islam :

“Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada tahut kecuali pada Allah Azza wa Jalla.”

Dengan nasihat ini para shahabat semakin kuat keimanannya..

Sebagian sahabat hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agamanya, termasuk Mush’ab bin Umair. Para sahabat yang hijrah ini kembali ke Makkah karena mendapatkan berita bahwa Quraisy sudah tidak memusuhi Islam (berita yang tidak benar).

Sebelum Mush’ab diutus ke Madinah, ada 12 orang Madinah yang datang ke Makkah dan mereka berbaiat yang dikenal dengan Baiat Aqobah.

Dan singkat cerita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus Mush’ab bin Umair (karena kecerdasan dan ilmu yang dimiliki) untuk bersama 12 orang Madinah menuju Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudair. Karena bila kedua tokoh ini mau masuk Islam maka mudah bagi penduduk Madinah untuk masuk Islam.

Mush’ab mendakwahi mereka dengan bacaan-bacaan Al Qur’an, sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dengan Akhlaq yang baik.

Dan hati kedua pembesar itu luluh dan masuk Islam. Kedua pembesar itu pun ajak rakyatnya masuk Islam.

Dalam waktu yang singkat, penduduk asli Madinah pun memeluk agama Allah ini. Kecuali sahabat Usairin yang menunda masuk Islam sampai saat perang Uhud.

Di Madinah ada 2 suku besar (Auz dan Khazrad) yang selalu bermusuhan dan berhasil disatukan dengan Islam namun pihak ketiga (Yahudi) berusaha merusak perdamaian itu.

Kalau seandainya ada Ulul Azmi umat ini, Mush’ab inilah orangnya.

Mush’ab rela meninggalkan kenikmatan dunia demi kecintaan kepada Agama Islam karena tertancapnya kalimat tauhid yang benar di hatinya.

Metode dakwah yang sukses Mush’ab bin Umair ini setelah diteliti oleh para ulama, metode nya adalah:

1. Ikhlas dan sabar.

2. Penguasaan atas fiqih dakwah

3. Memahami keadaan penduduk Madinah (sasaran dakwah)

4. Tutur kata yang indah.

5. Memiliki materi dakwah yang sesuai,dengan materi utama : Tauhid sehingga ada pengagungan kepada Allah yang pada akhirnya mudah meninggalkan kemaksiatan.

6. Dibacakan Al Qur’an.

7. Yang pertama dirangkul adalah pejabat di daerah tersebut. (ijin dari penguasa)

8. Tanamkan kecintaan kepada Allah. Mush’ab mencintai Allah dan Allah mencintai Mush’ab dengan bukti kemudahan diterimanya dakwah Mush’ab.

Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintai dia, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicinta di bumi.” (Mutaffaqun Alaih)

9. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memberikan iming-iming dunia kepada Mush’ab, sehingga menjadi lebih ikhlas.

Ibrah dari kisah perang Uhud, kekalahan kaum muslimin adalah karena tidak taat pada perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah – karena kemiripan wajah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya.

Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya
Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Ibnu Qumai-ah berteriak-teriak bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah wafat sehingga sempat melemahkan semangat kaum muslimin.
Namun beberapa sahabat berusaha untuk mengembalikan semangat kaum muslimin dan menyelamatkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.

Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

{إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ}

jika kalian mengetahui. Apa yang di sisi kalian akan lenyap. (An-Nahl: 95-96)

Yaitu akan habis dan lenyap, karena sesungguhnya hal itu mempunyai batas waktu yang tertentu dan ada masa habisnya.

{وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ}

dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. (An-Nahl: 96)

Pahala Allah untuk kalian di surga nanti kekal, tiada habis-habisnya dan tiada putus-putusnya, karena sesungguhnya pahala di surga itu bersifat kekal, tidak berubah, dan tidak akan lenyap.

##$$-aa-$$##

Digita Template

ma.shirahsahabat

SHIRAH # ABU UBAIDAH BIN AL JARRAH SHIRAH # THALHAH BIN UBAIDILLAH
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?