AL ISBAH – MANHAJ SALAF DALAM TARBIYAH DAN PERBAIKAN – 5
Diterbitkan pertama kali pada: 19-Nov-2024 @ 10:47
6 menit membaca*AL ISBAH – MANHAJ SALAF DALAM TARBIYAH DAN PERBAIKAN – 5*
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc
17 Jumadil Awwal 1446H/19 Nopember 2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
➡️ *KAIDAH 11: Ahlussunnah Wal jamaah meyakini sebab terbesar muncul perpecahan adalah berkelompok-kelompok sebagian kaum muslimin dan fanatik kepada jamaah atau orang selain Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.*
Ini adalah fanatik golongan, kelompok, individu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَا نُوْا شِيَـعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْ
ۗ اِنَّمَاۤ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَـبِّـئُـهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 159)
Ayat ini umum untuk setiap orang yang selisihi agama Allah karena Allah utus Rasul-Nya dengan membawa hidayah yang lurus, dan itu satu. Tidak ada perpecahan.
Rasulullah ﷺ tidak pernah ajarkan perpecahan.
Kenapa terjadi perpecahan?
1. Sunnah kauniyah. Sudah ketentuan.
Hadits – umat Islam terpecah menjadi 73 golongan.
Larangan berpecah belah itu takdir Syar’i.
🔸Hikmah perpecahan – Allah ingin uji hamba-Nya untuk memilih orang yang ikuti wahyu atau ikuti hawa nafsu.
Makna perpecahan – menyimpang dari jalan yang lurus, jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabat nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ نَّ هٰذَا صِرَا طِيْ مُسْتَقِيْمًا فَا تَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 153)
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.
إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.[Al An’am/6:153] HR Ahmad.
dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:
الجماعة ما واقف الحق و لو كنت وحدك
“Al-Jama’ah adalah sesuatu yang kamu berada di atas kebenaran walaupun kamu seorang diri.”
🔸Dalil selanjutnya..
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَا تَّقُوْهُ وَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah,”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 31)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَا نُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ حِزْبٍ بِۢمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
“yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 32)
Terlalu Loyal terhadap Ustadz, yayasan tertentu maka ini bisa jadi hizby.
Ikutilah Ustadz yang sesuai dengan dalil.
Ibnu Katsir – umat ini berselisih diantara mereka, semua tersesat kecuali satu yaitu Ahlussunnah Wal jamaah – yaitu yang berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berpegang pada pemahaman golongan yang pertama.
Rasulullah ﷺ menjelaskan –
– siapa yang Aku dan para sahabatku berada di atasnyam
Sebatas pengakuan Ahlussunnah Wal jamaah itu tidak cukup.
Bagaimana disebut Ahlussunnah kalau sering melakukan Bidah.
Bagaimana disebut Ahlussunnah kalau lebih meyakini wali daripada Al Quran dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Termasuk yang tidak boleh fanatik madzhab.
Orang yang mengatakan harus satu madzhab sama saja mengatakan bahwa kebenaran hanya ada pada satu madzhab.
Imam Syafi’i berkata:
أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد
“Telah ijma’ kaum muslimin bahwasanya siapa yang sudah jelas baginya sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena perkataan/pendapat/fatwa seseorang.”
Yang wajib kita ikut adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Beliau juga mengatakan:
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت
“Apabila kalian mendapatkan dalam kitabku menyalahi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka hendaklah kalian berkata: ‘ikutilah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tinggalkan fatwaku.’”
Beliau juga mengatakan:
فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد
“Maka ikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jangan kalian menoleh kepada pendapat seseorang.”
Kemudian Imam Syafi’i mengatakan:
إذا صح الحديث فهو مذهبي
“Apabila sah satu hadits, maka itulah madzhabku.”
Madzab itu sebatas wasilah untuk menaikkan kemampuan pemahaman atas Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
➡️ *KAIDAH 12: Ahlussunnah meyakini bahwa baiat yang sah adalah baiat kepada pemimpin yang dipilih ahlu hal wal aqdi.*
Dua cara dalam menentukan pemimpin yang syari:
1. Wasiat dari pemimpin sebelumnya. Contoh nya Umar, sesuai wasiat Abu Bakar.
2. Dipilih oleh ahlul hal Wal aqdi. Contoh Utsman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Dawud)
Syarat pemimpin adalah merdeka, bukan budak. Hadits ini menjelaskan bahwa taat kepada pemimpin walaupun tidak dipilih secara syariah.
Baiat ini untuk pemimpin muslim, pemimpin negara. Bukan pemimpin kelompok. ❌
Siapa Imam yang berhak dibaiat? Adalah setiap orang muslim mengakui dia sebagai pemimpin.
Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).
Pemimpin yang dimaksud adalah pemegang kekuasaan negeri.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً ، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
“Kalian nanti akan menemukan setelahku pemimpin-pemimpin yang lebih mementingkan dirinya daripada rakyatnya, bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku di telaga haudh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan akan munculnya pemimpin-pemimpin yang jahat lagi zalim. Dalam hadits riwayat Muslim Nabi bersabda:
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ ، وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي
“Akan ada setelahku nanti pemimpin-pemimpin yang mengambil petunjuk selain petunjukku dan mengambil sunnah selain sunnahku.”
Artinya mereka membuat undang-undang sendiri.
Lalu beliau bersabda:
وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ
“Nanti akan ada pemimpin-pemimpin, hati mereka hati setan dalam badan manusia.”
Bayangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensifati pemimpin tersebut hatinya hati setan dalam tubuh manusia (saking jahatnya pemimpin itu). Apa kata Rasulullah ketika ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Kata Rasulullah:
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ ، وَأُخِذَ مَالُكَ
“Dengarkan dan taatlah walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil.” HR Bukhari dan Muslim.
Sabar sampai kapan?
وَعن أبي يحْيَى أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رضي اللَّهُ عنهُ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ قال : يا رسولَ اللَّهِ أَلا تَسْتَعْمِلُني كَمَا اسْتْعْملتَ فُلاناً وفلاناً فَقَالَ : إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدي أَثَرَةً فاصْبِرُوا حَتَّى تلقَوْنِي علَى الْحوْضِ
Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu; sesungguhnya ada seorang lelaki dari kaum Anshar berkata, Wahai Rasulullah mengapa anda tidak mengangkatku sebagai pegawai, sebagaimana engkau mengangkat si A dan si B (si fulan dan fulan)?
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab (sabda); “sesungguhnya kalian sesudahku nanti akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku nanti di telaga”
HR Bukhari dan Muslim.
Kepemimpinan itu pada hakikat nya Raja dan kekuasaan.
Sistem pemerintahan berubah menjadi kerajaan sejak Bani Umayah.
Bani Umayah digulingkan oleh Bani Abasiyah yang raja nya sebagian beraqiah Mu’tazilah.
Negara kita masih menjalankan syariat Islam.
Cara nikah muslim – masih sesuai syariat
pancasila sila pertama (sesuai syariat Islam)
Kemanusiaan yang adil dan beradab (sesuai syariat Islam)
Persatuan Indonesia – Islam ajarkan persatuan dengan syarat diatas ketaatan.
Dalam Islam toleransi itu membiarkan, tidak ganggu.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. [ar-Ra’d/13:11].
Jadi yang berubah itu dimulai dari diri sendiri.
Pemimpin adalah cerminan rakyat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan [Al-An’am/6:129]
Semoga bermanfaat.
#tauhid #aqidah #jamaah #salaf #sunnah #syirik #bid’ah #penguasa #baiat #taat #perpecahan


