MENJADI ORANG TUA HIKMAH
*MENJADI ORANG TUA HIKMAH*
Kak Erlan Iskandar, ST, MPsi.
4 Jumadil Awal 1447H/25 Oktober 2025
MAMAGAIO RESTO PONDOK GEDE
Kita akan belajar bersama dengan Topik – Menjadi Orangtua yang hikmah. Allah sebutkan dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat Luqman (Nama Orang Tua yang hikmah), ayat 12.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ
Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Luqman berupa hikmah,yaitu “Bersyukurlah kepada Allah.”
Ayat ini diawali dengan huruf ل dan قد yang artinya penegasan.
Maksudnya yang Allah akan sampaikan adalah sesuatu yang penting. Dan ini adalah kisah nyata bukan khayalan atau cerita.
Para ulama berselisih pendapat apakah Luqman itu nabi atau bukan.
Ikrimah dan As Sa’di berpendapat bahwa Luqman adalah seorang nabi tapi mayoritas ulama berpendapat bahwa Luqman bukan nabi, yang ia adalah orang biasa yang Allah berikan hikmah.
Orang biasa (bukan nabi) bisa menjadi teladan asalkan diberi hikmah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan kata Allah,
وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا
Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Surat Al-Baqarah (2) Ayat 269
❓Apa yang dimaksud dengan hikmah?
➡️1. Ibnu Fari dalam kitabnya Maqayis al-Lughah (مقاييس اللغة) – Hikmah adalah setiap kata dalam bahasa arab yang terdiri dari huruf ح ك م maknanya adalah Al ma’nu yang artinya mencegah.
Contoh.
Hukum – artinya mencegah pelanggaran-pelanggaran.
Mahkamah – pengadilan – mencegah kriminal dan kejahatan-kejahatan.
Hikmah – mencegah kebodohan.
Syaikh Ali Ashabuni menerangkan bahwa hikmah adalah ketepatan di dalam memberikan nasihat, kelurusan di dalam memberi pandangan dan berpendapat, ketepatan dalam berbicara sesuai dengan kebenaran.
Imam Mujahud, hikmah artinya ilmu, akal dan ketepatan di dalam memberikan nasihat.
Dapat kita simpulkan orang tua yang hikmah itu orang tua yang tidak lepas dari bingkai ilmu yang melekat pada dirinya.
Maka orang yang hikmah adalah orang yang senantiasa belajar, karena dia berkewajiban mengajar.
Mari kita lihat contoh dari para ulama.
🔹Ada kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar al-Asqalani – kitab hadis yang isinya hukum-hukum. Sebuah kitab fenomenal yang dikaji di banyak lembaga oejidii, di masjid-masjid dst.
Sebab ditulis nya adalah hadiah bagi putranya yang baru lahir, diharapkan agar menjadi kitab panduan dalam mengajarkan anaknya.
🔹Kitab Ajuromiyah – kitab nahwu Ditulis Ibnu Ajurom untuk mengajarkan anaknya.
Dan banyak ulama lain yang membuat kitab nasihat, kitab wasiat yang tujuan nya untuk mengajar.
Dan orang tua itu wajib semangat terus belajar. Mendidik anak itu bebannya di pundak kita. Beban itu ada di pundak kita sampai wafat.
Dalilnya adalah kisah Nabi Yakub menjelang wafatnya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَآءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ ۙ اِذْ قَا لَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ ۗ قَا لُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِ لٰهَ اٰبَآئِكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ وَاِ سْحٰقَ اِلٰهًا وَّا حِدًا ۚ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya,
“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” ❗
Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 133)
Nabi Yakub kumpulkan anak-anak nya menjelang wafatnya dan wasiat adalah aqidah dan agama bukan harta dan warisan.
Padahal mau meninggal berwasiat harta itu boleh.
Demi Allah kita nanti akan ditanya Allah, sudahkah kita mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita?
Ibnu Umar : didiklah anakmu karena sesungguhnya engkau akan ditanya itu. Ilmu apa yang engkau ajarkan, adab apa yang engkau tanamkan.
Ibnul Qayyim : di hari kebangkitan kelak sebelum Allah bertanya kepada anak akan baktinya kepada orang tua, Allah bertanya dahulu kepada orang tua apa yang telah diajarkan kepada anaknya.
Kita harus merenung apakah dalam sehari ada tambahan ilmu.
Sebagian salaf berkata jika dalam sehari berlalu tanpa tambahan ilmu maka hari tersebut tidak berkah bagiku.
Orang tua Life Long Learner. Semangat mengajar dan mendidik anak-anaknya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Ayat ini menjadi dalil para ulama dalam menulis kitab pendidikan anak bagi orang tua. Ini adalah landasan mendidik anak-anak. Supaya selamat dari api neraka, yaitu dengan mendidik anak-anak.
Ali bin Abi Thalib berkata – ajari keluarga dengan ilmu, didik keluarga dengan adab.
Seorang Ulama berkata bahwa dibalik perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka ada isyarat seolah-olah Allah berkata – beramallah untuk taat kepada Ku, belajarnya wahai orang tua, belajar dan ajarkan ilmu kepada anak-anak.
Kita dituntut banyak belajar dan mengajar.
Dalam ayat ini – perbaikan keluarga itu dimulai dari perbaikan diri sendiri.
Kesulitan terbesar mendidik anak adalah mendidik diri sendiri. ❗
Karena kita akan jadi teladan dan contoh anak-anak.
Kisah Malik Bin Dinar yang menasihati seorang yang tua tapi jelek sholatnya, dan berdampak buruk kepada keluarganya.
Children do what they see, Children act/lear what they get.
Anak yang baik akan tumbuh di lingkungan orang tua yang baik.
وَٱلْبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذْنِ رَبِّهِۦ
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; Surat Al-A’raf (7) Ayat 58
Ini hukum asal.
Ibnul Qayyim – kalau kamu lihat ada kerusakan pada anak, umumnya yang kamu curigai pertama adalah orang tuanya.
Semangat belajar – semangat beramal dan semangat mengajar.
➡️ 2. Ibnul Qayyim, hikmah adalah bertindak dengan metode yang tepat pada kondisi yang tepat di waktu yang tepat. (menasihati dengan tepat)
Inilah yang dilakukan oleh Luqman, dari ayat 13-19.
Yang terpenting nasihat pertama yaitu Tauhid, baru ibadah, baru akhlak dan adab.
Luqman juga ajari seni memberi nasihat.
Memenuhi dua kaidah, ❗yaitu sentuh hati dan sentuh akalnya.
Diawali dengan kalimat – Ya Bunayya – Ism Tasghir – menunjukkan kedekatan. Connection before correction.
Demikian juga, Ketika Nabi ﷺ ajarkan doa kepada Muadz.
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata,
يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ
“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda,
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Aku memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).”
Nabi sudah praktekkan yang demikian sejak 14 abad lalu,sementara dunia psikologi baru semarak.
Ekspresikan cinta kita kepada anak.
Supaya tepat nasihat nya adalah perlu belajar.
➡️ 3.Hikmah adalah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah.”
Kata Imam An Nahas – tafsir lughowi – huruf An – huruf tafsiriyah – menjelaskan.
Hikmah ~ bersyukur.
Bersyukur itu berawal dari apa yang kita rasa dan kita punya.❗
Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” HR Tirmidzi.
Ikatlah kenikmatan dengan bersyukur.
Dan ini juga sebab Allah tambah kenikmatan.
Kadang kita kurang bersyukur hal-hal ringan pada anak-anak kita.
Nabi Nuh dikatakan hamba yang pandai bersyukur. Bisa makan ucapkan Alhamdulillah, bisa minum ucapkan Alhamdulillah dst..
Jadilah orang tua yang bersyukur jangan jadi orang tua yang insecure.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ
وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ
وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌۭ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah.
Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Allah pakai fi’il madi (sudah kejadian)
وَمَن كَفَرَ
Sekali berbuat kufur maka divonis kufur
Allah pakai fi’il mudhoriq – keterlanjutan
وَمَن يَشْكُرْ
Tidak dikatakan pandai bersyukur bila terus menerus bersyukur.
Syaikh As Sa’di berkata – jika orang tua membiasakan diri mensyukuri kebaikan anak walau sederhana, memaafkan keterbatasannya juga maka niscaya akan bertambah kebaikan pada anaknya. Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya bertambah baik.
Gimana caranya? Dengan menjadi orang tua yang bersyukur.
Anak-anak adalah titipan Allah yang luar biasa. Mari kita syukuri.
Semoga bermanfaat.
Majelis ilmu ini diselenggarakan di Mamagaio Resto Pondok Gede,
PASAR KOTA PONDOK GEDE
+62 811-139-801
https://maps.app.goo.gl/2tYUV1KkjRHBPBrx5?g_st=aw
##$$-aa-$$##

