This entry is part 39 of 57 in the series Hisnul Muslim

Diterbitkan pertama kali pada: 07-Jul-2024 @ 08:09

5 menit membaca

*MAKNA DOA DAN DZIKIR – 48*
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
30 Dzulhijjah 1445H/07.07.2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

🗞️Kitab – Hisnul Muslim.

➡️ *74. Do’a orang yang berpuasa apabila diajak makan*

 

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila seseorang di antara kamu diundang (makan) dipenuhilah. Apabila puasa, hendaklah mendo’akan (orang yang mengundang). Apabila tidak puasa, hendaklah ia makan.” [HR. Muslim]

Kalau puasa, hadiri undangan, setor muka dan doakan.

✅ Faidah.

1. Wajib hadiri undangan yang berbentuk walimah,kecuali memang ada udzur. Undangan sifatnya pribadi. Kalau undangan di grup, maka ada wakil grup yang hadir sudah cukup.
Begitu juga orang yang undang walimah belum kita kenal, maka tidak wajib datang.

Adapun undangan lainnya misalnya syukuran usaha baru. Hukumnya sunnah bukan wajib.

2. Orang yang diundang harus menyesuaikan orang yang mengundang.
Misal orang yang undang sudah lama tidak jumpa dan kita dalam kondisi puasa. Kalau kita batalkan puasa kita lebih membahagiakan pengundang maka itu pilihan yang lebih.

Bila yang undang sudah akrab, dan kita tahu kalau kita tidak ikut makan karena puasa, maka sampaikan..

Intinya harus bijaksana.

3. Kalau memilih untuk tidak batal puasa maka kita doakan keberkahan.

4. Jangan penuhi undangan jika dalam kegiatan itu ada kemaksiatan. Kecuali kita datang dengan niat menasihati.

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah duduk di dekat meja yang di atasnya diedarkan khamr.” (HR. At-Tirmidzi)

Alternatif, kita datang undangan saat TIDAK ADA pelaksanaan kemaksiatan saat kita hadir.

5. Jika kita diundang dan bawa teman yang tidak diundang, maka kita minta izin kepada orang yang mengundang. Kalau tidak diizinkan maka kita pulang.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Ada seorang Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Suatu hari dia melihat tanda-tanda lapar di wajah Nabi ﷺ , kemudian dia perintahkan anaknya untuk membuatkan makanan dan mengundang Nabi ﷺ  bersama empat sahabat lainnya. Namun ada seorang yang ikut (tanpa undangan).

Maka Nabi ﷺ  bersabda, ‘Anda mengundang kami lima orang, tapi ini ada satu orang yang ikut. Jika mau Anda bisa menginzinkan dan jika tidak akan aku tinggalkan (tidak diikutkan acara makan)’. Orang Anshar tersebut menjawab, “Aku izinkan.” (HR. Muslim)

6. Jamuan yang disediakan tidak memberatkan yang mengundang.

7. Tidak boleh buat walimah dengan undangan khusus orang-orang kaya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

شَرُّ الطَّعَـامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ، يُدْعَى لَهَـا اْلأَغْنِيَـاءُ وَيتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya yang diundang kepadanya, sedangkan kaum fakir dibiarkan (tidak diundang). HR Bukhari.

➡️ *75. Ucapan orang yang puasa bila dicaci*

إِنِّيْ صَائِمٌ، إِنِّيْ صَائِمٌ

Inni shaa-imun, inni shaa-imun

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صِيَامِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

Jika sedang berpuasa, maka janganlah salah seorang dari kalian berkata keji, membuat kegaduhan, dan jangan pula berbuat bodoh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia mengatakan; ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ (HR. Bukhari dan Muslim )

✅ FAIDAH.

1. Puasa melatih diri dan biasakan jiwa kita untuk merealisasikan tujuan puasa yaitu untuk bertakwa.

2. Ucapan Saya sedang puasa – hendaknya diucapkan dengan suara keras.

➡️ *76. Do’a apabila melihat permulaan buah*

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ ثَمَرِنَا، بَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا، بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا، بَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّنَا

Allaahumma baarik lanaa fii tsamaarinaa, baarik lanaa fii madiinatinaa, baarik lanaa fii sha’inaa, baarik lanaa fii muddinaa.

“Ya Allah! Berilah berkah buah-buahan kami, berilah berkah kota kami, berilah berkah gantangan (takaran) kami dan berilah berkah muda (takaran) kami.” [HR. Muslim]

Intinya adalah doa minta keberkahan.

Misal – ada undangan pembukaan usaha – doakan keberkahan.

Allahumma baarik lanaa fii tijarorinaa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٢٦

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman sentosa, berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan kepada orang yang kafir pun, Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (al-Baqarah: 126)

Hadits nya..

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ وَمِثْلِهِ مَعَهُ قَالَ ثُمَّ يَدْعُو أَصْغَرَ وَلِيدٍ لَهُ فَيُعْطِيهِ ذَلِكَ الثَّمَرَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik bin Anas sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya dari Suhail bin Abu Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Adalah suatu kebiasaan orang banyak, apabila mereka melihat buah yang pertama-tama kali keluar, mereka membawanya kepada Nabi ﷺ . Dan ketika Rasulullah ﷺ menerimanya, beliau berdo’a:

“Allahumma Baarik Lanaa Fii Tsamarinaa Baarik Lanaa Fii Madiinatinaa wa Baarik Lanaa Fii shaa’inaa Wa Baarik Lanaa Fii Muddinaa Allahumma Inna Ibrahiima ‘Abduka Wa Khaliiluka Wa Nabiyyuka wa innii ‘ Abduka wa Nabiyyuka Wa Innahu Da’aaka Limakkata Wa Innii Ad’uuka Lil Madiinati Bimitsli Maa Da’aaka Limakkata Wa Mitslihi Ma’ahu

(Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kota kami, berkahilah Sha’ kami, dan berkahilah Mud kami. Ya Allah, Nabi Ibrahim adalah hamba-Mu dan kekasih-Mu. Sedangkan aku adalah hamba dan Nabi-Mu. Dia berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Makkah, dan aku berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Madinah, seperti Ibrahim mendo’akan kota Makkah).” Kata Abu Hurairah; Kemudian beliau panggil seorang bocah, lalu diberikannya buah itu kepadanya. HR Muslim.

✅ FAIDAH

1. Bolehnya kita keliling bawa buah pertama. Tujuan supaya didoakan.

2. Tidak boleh berjualan buah yang belum layak untuk dipanen.

3. Dianjurkan diberikan kepada anak-anak dahulu.

4. Para sahabat dulu bawa buah pertama tanaman mereka kepada Nabi ﷺ untuk didoakan.

5. Keberkahan kita Madinah akan terus berlanjut.

🔸Keberkahan Madinah ada dua.
Pertama dalam hal agama
Kedua dalam dunia

6. Madinah menjadi kota untuk cas iman kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya iman itu akan kembali ke kota Madinah sebagaimana halnya ular yang kembali ke sarangnya.” (HR. Muslim)

7. Diantara keberkahan kota Madinah adalah ancaman adzab Bagi orang yang memberi gangguan kepada penduduk Madinah.

Dalam Shahihain dari Ashim bin Sulaiman al-Ahwal berkata: “Saya berkata pada Anas, “Apakah Rasulullah ﷺ mengharamkan kota Madinah? Dia menjawab:

نَعَمْ مَا بَيْنَ كَذَا إِلَى كَذَا لَا يُقْطَعُ شَجَرُهَا مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Benar, antara ini dan itu, tidak boleh dipotong tumbuhannya. Barangsiapa yang melakukan perbuatan bid’ah atau maksiat maka baginya laknat Allah dan para malaikat dan manusia seluruhnya.”

8. Madinah – Dajjal tidak bisa masuk.

Semoga bermanfaat.

#Madinah #salaf #berkah

##$$-aa-$$##

 

Hisnul Muslim

MAKNA DOA DAN DZIKIR – 47 MAKNA DOA DAN DZIKIR – 49
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?