This entry is part 12 of 12 in the series Bayan Salaf
6 menit membaca

🗒️ *BAYAN SABILI SALAF #12*
Penulis – Syaikh Faisal bin Qazar al Jazim.
🎤 Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
Ahad, 27 Jumadil Ula 1448H/ 8 Nopember 2026 (Ba’da Subuh)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

➡️ *WAJIBNYA MENERIMA APAPUN YANG DATANG DARI AL QURAN DAN SUNNAH*

benar-benar mengagungkan wahyu baik yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.

Banyak kelompok yang tidak agungkan wahyu sehingga menerima sebagian apa yang datang dalam Al Qur’an dan Sunnah namun menolak sebagian yang lain sesuk hawa nafsu.

🔸 Dalil

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Rabb mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa termasuk konsekuensi dari keimanan adalah menerima apapun yang datang dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Manusia punya hawa nafsu dan ada hal-hal dalam syariat yang bertentangan dengan hawa nafsu. Maka kita wajib mendahulukan syariat di atas hawa nafsu kita.

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Inilah perkataan kaum mukminin. Beda dengan perkataan orang-orang yahudi – kami dengar kami membangkang.

Sebagai mukmin kita harus semangat jalankan perintah syariat walaupun kita belum tahu hikmahnya.

Ada beberapa kisah.

2.1 Kisah pertama.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ:

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ.

فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاتَهُ قَالَ:

مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالَكُمْ؟

قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا.

Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata:

Ketika Rasulullah ﷺ sedang mengimami para sahabat dalam shalat, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sebelah kiri beliau.

Ketika para sahabat melihat hal tersebut, mereka pun melepas sandal-sandal mereka.

Setelah Rasulullah ﷺ menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya:

“Apa yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian?”

Mereka menjawab:

“Kami melihat engkau melepas kedua sandalmu, maka kami pun melepas sandal-sandal kami.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

“Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberitahukan kepadaku bahwa pada kedua sandal tersebut terdapat kotoran.”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa apabila seseorang datang ke masjid, hendaknya memeriksa sandalnya. Jika terdapat kotoran atau najis, hendaknya dibersihkan, kemudian ia boleh shalat dengan mengenakan sandalnya.
HR Abu Dawud.

Orang-orang di zaman kita banyak yang mempertanyakan alasan atau hikmah tuntutan padahal mengetahui alasan atau hikmah itu nomor 2.

2.2 Kisah kedua

Hadits yang dimaksud adalah kisah Rasulullah ﷺ pernah salam setelah rakaat kedua dalam shalat Ashar, karena beliau lupa dan mengira shalat telah selesai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاةَ الْعَصْرِ، فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ، فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقَصُرَتِ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ.

فَقَالَ: بَلَى، قَدْ نَسِيتَ.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِلنَّاسِ:

أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ؟

قَالُوا: نَعَمْ.

فَأَتَمَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا بَقِيَ مِنَ الصَّلَاةِ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ التَّسْلِيمِ.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Ashar, lalu beliau salam setelah dua rakaat.

Dzul Yadain berdiri dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah shalat telah dipersingkat ataukah engkau lupa?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Aku tidak lupa dan shalat tidak pula dipersingkat.”

Dzul Yadain berkata:

“Benar, engkau telah lupa.”

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada para sahabat:

“Benarkah apa yang dikatakan Dzul Yadain?”

Mereka menjawab, “Benar.”

Maka Rasulullah ﷺ menyempurnakan rakaat shalat yang masih tersisa, kemudian melakukan dua kali sujud sahwi dalam keadaan duduk setelah salam.
HR Bukhari dan Muslim.

Dzul Yadain – (dua tangan) disebut demikian karena kedua tangannya panjang.

Ini diantara tata cara sujud sahwi. Apabila ada yang lupa, kita tambah dan sujud sahwi setelah salam.

Hadits ini juga memberi pelajaran yang berharga yaitu bahwa Rasulullah ﷺ juga pernah lupa dan langsung ada yang mengingatkan.
Dengan lupa nya Beliau ﷺ kita tahu solusi sholat yang lupa rakaat nya.

2.3 Kisah ketiga.

Hadits yang dimaksud adalah kisah ketika Rasulullah ﷺ melewati para sahabat yang sedang melakukan penyerbukan pohon kurma (ta’bir an-nakhl). Beliau menyampaikan pendapat, kemudian para sahabat mengikuti perkataan beliau. Namun, hasil kurma justru menjadi kurang baik.

Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu anhu :

قَدِمَ نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يَأْبُرُونَ النَّخْلَ، يَقُولُونَ يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ، فَقَالَ: مَا تَصْنَعُونَ؟

قَالُوا: كُنَّا نَصْنَعُهُ.

قَالَ:

لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا.

فَتَرَكُوهُ، فَنَفَضَتْ أَوْ فَنَقَصَتْ.

قَالَ: فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيِي، فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ.

Ketika Nabi ﷺ datang ke Madinah, penduduk Madinah sedang melakukan penyerbukan pohon kurma.

Beliau ﷺ bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Kami biasa melakukan hal ini.”

Beliau ﷺ bersabda, “Barangkali jika kalian tidak melakukannya, hal itu lebih baik.”

Mereka pun meninggalkan penyerbukan tersebut. Akibatnya, buah kurma menjadi rontok atau berkurang.

Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Apabila aku memerintahkan kalian sesuatu yang berkaitan dengan agama kalian, maka ambillah dan laksanakanlah. Namun apabila aku memerintahkan kalian sesuatu berdasarkan pendapatku, maka sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa.”

Dalam Riwayat lain dengan lafaz yang lebih singkat

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” HR. Muslim

Hadits ini menunjukkan bahwa betapa patuh nya para sahabat radhiallahu anhum sangat patuh kepada perintah Nabi ﷺ.

Kemaksuman Nabi maksudnya ketika salah pasti diingatkan oleh Allah baik secara langsung maupun oleh para hamba Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)

2.4 Atsar Umar bin Khaththab

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْ لَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari ‘Aabis bin Rabii’ah, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah mendatangi hajar aswad lalu mengecupnya dan berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwasannya engkau hanyalah sebuah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengecup mu , aku tidak sudi mengecup mu” [Shahii

2.5 Perkataan para Ulama – walaupun tidak bisa dijadikan dalil tapi sebagai penguat.

Imam Az Zuhri : Risalah datang dari Allah, kewajiban Rasul adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah menerima.

Imam Malik rahimahullahu : jangan kalian menentang sunnah Nabi ﷺ, terima dengan baik dan jalankan dalam kehidupan.

Logika fungsi nya unik memahami bukan untuk menentangnya.

Ibnu Khatta’ : Yang diperintahkan kepada kita adalah mendengar dan taat dan kita tidak boleh menentang perkataan Nabi ﷺ dengan logika atau kiasan dan tidak boleh cari alasan untuk menentang wahyu. Dan Jangan sampai pertentangkan sunnah Nabi ﷺ dengan Al Qur’an dan dengan yang lain. Akan tetapi kita menerimanya dengan penuh iman, membenarkan.

Ibnu Taimiyyah – termasuk perkara yang sudah diketahui dengan sangat jelas bahwa kita diperintahkan untuk ikut nash-nash dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dan kita tidak boleh menolak nya karena karena menurut kita manfaat dan nafsadahnya tidak seperti itu.

Ibnul Qayyim : adab yang paling tinggi terhadap Nabi ﷺ adalah penerimaan yang sempurna apa pun yang datang dari Nabi ﷺ, menaati semua perintah nya dan menerima kebenaran kabar yang datang dari Nabi ﷺ. Jangan menentang hanya karena syubhat (sampah-sampah pemikiran).

Pesan nya – jangan sampai kita dahulukan logika dari pada apa yang datang dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Contoh-contoh yang terlihat bertentangan dengan akal.

1. Hadits kalau ada lalat dalam minuman – celupkan lalat dan minum air nya – secara penelitian salah satu sayap ada penyakit sayap satunya obatnya.

Ibnu Qayyim menambahkan ada dua tauhid.

1. Tauhid yang menurunkan wahyu yaitu Allah
2. Tauhid yang Allah utus yaitu Rasulullah ﷺ

➡️ MASALAH

1. Wajibnya menerima perintah Allah dan Rasul-Nya

2. Iman terhadap Rasulullah ﷺ tidak akan sah kecuali diatas pijakan menerima dan menjalankan apa yang datang dari Nabi ﷺ.

3. Sunnah Nabi ﷺ adalah timbangan untuk semua perbuatan dan perkataan.

4. Sesatnya orang yang meninggalkan sunnah ﷺ karena logika atau siasat atau rasa atau pendapat.

Semoga bermanfaat.

#sunnah #salaf #manhaj #nabi #Ittiba #bid’ah #syubhat

##$$-aa-$$##

Bayan Salaf

BAYAN SABILI SALAF #11
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?